Santri Cendekia
Home » Corona dan Darurat Budaya

Corona dan Darurat Budaya

Mewabahnya Virus Corona diiringi dengan himbauan tentang pentingnya cuci tangan, apalagi setelah dari luar rumah.

Sebab satu diantara medium penularan melalui droplet bisa juga tersentuh oleh tangan, maka untuk membunuh virus tersebut penting untuk segera cuci tangan.

Hand Sanitizer hingga sabun cuci tangan sontak jadi barang mahal karena semakin langka di pasaran.

Bukan, saya tidak hendak menulis tentang pentingnya cuci tangan, sebab kita sudah sama-sama paham bahkan telah sering melakukannya sampai bosan dan tangan keriput.

Tapi saya hendak bicara tentang viralnya konten soal warisan budaya nenek moyang untuk cuci tangan sebelum masuk rumah, yang dikaitkan dengan himbauan untuk sering cuci tangan mencegah penularan virus corona. Dimana dahulu tiap rumah selalu memiliki kendi untuk cuci tangan sebelum masuk ke rumah, untuk menghindari sawan kata para orang tua.

Di satu sisi saya senang karena warisan budaya leluhur ternyata menemukan argumentasi kuat dan kembali relevan hari ini.

Namun di sisi lain saya prihatin, sebab budaya dan termasuk mungkin para pecinta budaya juga budayawan hanya bisa bicara budaya dalam konteks romantisme belaka.

Sementara kita gagap bicara dalam kacamata budaya untuk konteks menghadapi tantangan hari ini dan masa depan.

Sebab jika hanya mampu menjadi sarana romantisme masa lalu, dan tak mampu menjawab tantangan hari ini, budaya telah kehilangan makna pentingnya.

Mengutip dari Budayawan muda Irfan Afifi, budaya berasal dari kata Budi dan Daya, secara sederhana saya menangkap bahwa budaya adalah tentang bagaimana kita sebagai manusia mendayakan budi. Atau oleh Mas Irfan Afifi dipertegas sebagai Akhlakul Karimah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Budaya bermakna pikiran akal budi. Sementara Kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, atau keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

Baca juga:  Hadis Kontradiktif, Kausalitas, dan Coronavirus

Kembali ke keprihatinan saya, bahwa budaya hanya jadi ajang romantisme dan kesulitan jika diterapkan jadi metode menjawab persoalan hari ini. Padahal, Budaya tak semestinya jadi sekadar hanya soal simbol tari-tarian, baju tradisional atau adat istiadat, tapi ia punya peran strategis menata perilaku kolektif manusia.

Simbol-simbol itu penting jika ia lekat dengan konteks, jadi alat menata pola pikir dan laku manusia. Namun jika ia kehilangan fungsinya, ia akan jadi simbol tanpa makna.

Dalam sebuah wawancara saya dengan Mantan Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, yang tak bertahan lama di istana, ia menyebutkan milestone awal pembangunan yang diharapkan dan dirancang di era Joko Widodo oleh think tank-nya ialah tak hanya membangun raga atau fisik Indonesia, tapi juga membangun jiwa dan hal itu dilakukan dengan kebudayaan.

Oleh karena itu, kata Andrinof, dimunculkan Kementerian Pembangun Manusia dan Kebudayaan. Namun tampaknya, hanya sedikit anasir rezim yang memahami dengan baik hal tersebut, salah satunya Andrinof yang harus cepat hengkang dari kabinet.

Penolakan Jenazah Pasien dan Tenaga Kesehatan Tertular Corona, adalah satu persoalan amat pelik yang perlu dijawab oleh Budayawan dengan strategi kebudayaan.

Ada paranoid berlebihan juga berbahaya yang ikut mewabah bersama Virus Corona, yang bisa menghilangkan kemanusiaan kita.

Masifnya solidaritas dan kepedulian terhadap tenaga kesehatan dari masyarakat, ternyata kalah kuat ketimbang ketakutan yang melunturkan kemanusiaan. Sampai-sampai jenazah tenaga kesehatan ditolak, begitupun pasien COVID-19.

Tak hanya itu, seorang kawan yang bekerja merawat pasien COVID-19 bercerita ternyata ia dan kawan seprofesinya juga dijauhi oleh tetangganya.

Peran Budaya penting untuk menjawab persoalan ini, sebab ia jadi hal yang salah namun seolah diamini secara kolektif, dan perlu ditata agar sesuai budi atau akhlak manusia Indonesia yang sejati.

Baca juga:  Talak Ustaz Abdu Somad: Pintu Masuk Evolusi Hukum Perceraian dari Makruh Menjadi Mubah?

Sebagaimana kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir, sikap (penolakan) berlebihan justru tidak menunjukkan keluhuran budi dan solidaritas sosial yang selama ini jadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Ulama atau agamawan telah berbicara, akademisi dan ilmuwan pun demikian, Pemerintah juga telah mengimbau namun ambulans tetap dihalang-halangi masyarakat, maka sudah saatnya menggunakan strategi yang tak sekadar bicara yang hanya sampai ke telinga, satu diantara perangkat keras manusia, tapi juga agar bisa sampai ke perangkat lunak manusia, hati.

Tak bisa sekadar bicara, tapi dengan strategi bernama kebudayaan. Barangkali kita perlu belajar lagi kepada Para Wali Songo, bukan hanya mengagungkan warisan tradisinya, namun juga ajaran dan strateginya.

Wallahu a’lam bisshawab

Baca artikel menarik lainnya tentang corona:

  1. Tinjauan Fikih: Lebih Baik Tidak Salat Jumat Selama Wabah Corona
  2. Tidak ke Masjid di Masa Wabah Corona Bukan Pembangkangan atas Syariat Islam
  3. Pandemi ‘Fitnah’ Netizen atas Fatwa tentang Corona
  4. Hadis Kontradiktif, Kausalitas, dan Coronavirus
  5. 14 Rekomendasi Muhammadiyah Amerika Serikat terkait Wabah Corona
  6. Mengenal Aliran Teologi Islam Melalui Virus Corona
  7. Tanya Jawab soal Corona, Azab, dan Masjid (1)
  8. Tanya Jawab soal Masjid dan Corona (2)
  9. Surat Terbuka bagi Mereka yang Bilang jangan Takut Corona Takutlah kepada Allah

  10. Hukum ‘Shaf Distancing’ demi Meminimalisir Penyebaran Virus Covid-19

  11. Syahidkah orang yang Meninggal Karena Virus Corona? 

  12. Hukum Salat Jamaah via Video Call atau Sejenisnya

  13. Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (1)
  14. Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (2)
  15. Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (3)
  16. Bantahan atas Cocokologi ‘Arti Corona dalam al-Quran’

  17. Tata Cara Adzan Saat Darurat Covid-19

  18. Doa dan Tata Cara Qunut Nazilah dalam Kondisi Darurat Covid-19

  19. Pandemi Corona sebagai Titik Konflik Agama dan Sains

  20. Alokasi Zakat untuk Jihad Medis Melawan Covid-19

Baca juga:  Charlie Hebdo ; Kebebasan atau Kebebalan?

 

Ahmad Jilul Qurani Farid

Hamba Allah

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar