Santri Cendekia

Corona Menyiapkan Ramadhan

Oleh: Anton Ismunanto

Dalam tradisi Islam, Ramadhan disiapkan sejak berbulan-bulan. Sebagian orang shalih membagi tahun menjadi dua berdasar Ramadhan.

Separuh digunakan untuk berdoa agar bisa berjumpa Ramadhan, lalu separuhnya digunakan untuk berdoa agar amal-amal Ramadhan sebelumnya diterima Allah.

Adapun standar yang lebih rendah, mereka menyiapkan Ramadhan sejak Rajab. Sehingga kita mengenal istilah: Rajab menanam, Syakban mengairi, Ramadhan panen. Itu tradisinya.

Adapun kita hari ini telah meninggalkan tradisi itu. Begitu Ramadhan selesai, berlalulah ketaatan. Ingatan akan Ramadhan juga tidak bersemayam.

Memasuki Rajab yang merupakan bulan haram, kita masih sibuk dengan dunia. Begitupun dengan Syakban, kita belum apa-apa. Begitu terus dari tahun ke tahun.

Akan tetapi Rajab ini berbeda. Di awal tahun kita mendengar tentang virus corona di cina. Info itu kita anggap biasa saja.

Lalu memasuki Rajab tersiar kabar tentang tersebarnya corona, kita anggap takkan mengenai diri kita. Begitu dinyatakan di tengah Rajab bahwa masjidil haram ditutup karenanya, kita baru terhenyak.

Apalagi disusul dengan fatwa peniadaan shalat jum’ah dan jama’ah serta rekomendasi pemerintah untuk me-lockdown berbagai kota. Kita semakin tersadar akan keterbatasan manusia si pemakan segala.

Di ujung Rajab ini, berbagai wilayah dunia telah lumpuh. Ribuan orang ambruk dan meninggal dunia. Sekolah diliburkan, pekerja kantor dirumahkan, sementara tenaga kesehatan bertarung di garis terdepan.

Bumi yang luas ini takluk di hadapan makhluk mikroskopis tak tampak mata. Jagad semesta yang seperti tak berujung ini menjadi seperti tak ada nilainya.

Di ujung Rajab ini, hasrat duniawi kita mereda. Alat-alat industri dimatikan. Mesin kendaraan tak terdengar suaranya. Polusi udara jauh berkurang. Keluarga yang berserak berkumpul kembali. Manusia meninggalkan sejenak perannya sebagai homo economicus dan industrialis.

Baca juga:  Ibnu Sina, Seorang Dokter Cinta

Mereka kembali ke fitrahnya, untuk berkomunikasi batin dengan Tuhannya. Ancaman kematian di hadapan membuat mereka menyusun ulang makna hidupnya.

Tepat sebulan lagi kita Ramadhan. Momen ini selayaknya kita gunakan untuk menyambutnya. Berdiam diri di rumah akan sangat berguna.

Dari shalat sunnah, puasa sunnah, bacaan Quran dan dzikir bisa dibanyakkan. Berbagai video Youtube dari ilmuwan dan ulama bisa dibuka. Buku-buku yang belum selesai dibaca, bisa disempurnakan. Tinggal keputusan kita.

Ringkasnya, corona menyiapkan kita memasuki Ramadhan dengan siap sedia.

Ada hikmah yang agung dalam wabah corona. Alaisallah bi ahkamil hakimin?

***

* Ketua Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara dan Pengajar di Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

 

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke Santricendekia.com melalui email: tholebinibrahim@gmail

Add comment

Tinggalkan komentar