Santri Cendekia
Home » Dakwah Sebagai Proyek Pembebasan (Catatan Kuliah Ustad Bachtiar Nasir)

Dakwah Sebagai Proyek Pembebasan (Catatan Kuliah Ustad Bachtiar Nasir)

Pertama-tama yang perlu kau tahu dan tanamkan dalam dirimu ; banggalah dengan statusmu sebagai muslim! Lebih bangga lagi menjadi muslim yang dai. Terlebih bila kau bisa menjadi dai yang ‘alim. Maka jangan merasa malu di depan dunia. Tentang ini, ada sebuah kisah nyata yang dialami oleh ustad Bachtiar Nasir sendiri. Suatu hari, ia tiba-tiba mendapatkan telepon dari seorang teman lamanya, rekan sesama santri ketika masih mondok di Gontor. Ternyata teman lamanya tersebut sekarang bekerja di sebuah bank terkemuka. Pihak bank tersebut hendak mengadakan pengajian dan mengundang Ustad Bakhriar Nasir. Teman lama ustad menawarkan diri menjadi penghubung pihak bank dengan ustad Bachtiar.

 Singkat cerita, akhirnya ustad berdiri di depan jamaah bank tersebut; mulai dari office boy hingga dewan direksinya. Setelah salam dan mukadimah, ustad Bachtiar Nasir berucap 
“Saya berterima kasih kepada ustad (sambil menunjuk temannya itu) yang telah mengundang saya ke sini” 
Mendengar ucapan beliau, sontak semua jamaah heboh. Mereka kaget lalu tertawa dan serentak melihat ke arah teman ustad Bachtiar sembari berucap heran “Oh, jadi kamu ustad ya?” 

Ketika itu ustad Bachtiar sadar, temannya tersebut selama ini menyebunyikan identitasnya sebagai seorang alumni pesantren, sebagai seorang santri di depan rekan-rekan kerjanya. 
Selepas acara, temannya tersebut menghampiri ustad Bachtiar sambil marah-marah. “Antum sudah berhasil mempermalukan saya di depan rekan-rekan kerja saya” Ucapnya kesal. “Selama ini saya sudah menutup-nutupi kalau saya pernah belajar di pesantren, sekarang mereka semua sudah tahu!” Ia masih misu-misuh. Awalnya ustad Bachtiar menanggapi dingin, tapi temannya itu tidak berhenti mengeksresikan kekesalannya, akhrirnya Ustad Bachtiar balas berkata tegas dengan nada tinggi kepada temannya ; selama ini ternyata lebih bangga menjadi seorang pegawai bank dari pada seorang muslim yang tahu agamanya. Setelah itu, Ustad Bachtiar meninggalkan temannya tersebut. Komunikasi mereka terputus. 

Beberapa bula kemudian tiba-tiba temannya itu menelpon balik, kembali mengundang beliau ke kantor bank tempatnya bekerja. Ustad Bachtiar menanggapi dingin tapi temannya itu tetap meminta beliau datang. Ketika ditanya alasannya, temannya itu akhirnya jujur ; gara-gara identitasnya sebagai alumni pesantren dibeberkan oleh ustad Bachtiar, temannya itu ditunjuk menjadi ketua dari cabang syariah yang baru dibentuk. Ia diminta mengajak Ustad Bachtiar untuk bersama membidani kelahiran divisi syariah yang masih baru. Akhirnya, temannya itu sadar, dengan identitas sebagai seorang pegawai biasa butuh berpuluh-puluh tahun baginya untuk bisa duduk berdiskusi sejajar dengan dewan direksi, tapi dengan identitas sebagai da’i ia bisa berbicara kepada seluruh orang di bank, mulai dari petugas kebersihan hingga para petinggi. 

Hikmah dari cerita ini adalah kita tidak boleh merasa rendah di hadapan gemerlap dunia. Kita harus punya izzah bahwa yang diperjuangkan ini adalah sesuatu yang sangat penting. Rasa bangga ini akan membangkitkan ghirahmu ; sebuah sumber energi untuk berani melawan apapun. Peta dakwah adalah 10% penegak kebenaran melawan 10% perusak agama Allah, 80% bimbang di tengah-tengah. Kemenangan akan berpihak, bukan pertama-tama pada kebenaran, tapi malah kepada yang kuat. Jadi, apabila penyeru kebenaran lemah 80% followers itu akan memihak kepada yang mereka rasa kuat sebelum melihat sisi kebenaran. Olehnya Rasulullah mengingatkan mukmin kuat lebih dicintai Allah dari mukmin lemah. Kekuatan hanya bisa muncul dari jiwa yang memiliki izzah seorang muslim.

Ingat, persoalan terbesar dakwah bukan pada mad’u tapi lebih pada dai’inya. Dai yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan menimbulkan persoalan tersendiri. Persoalan pertama adalah keilmuan, sebab konten dakwah yang benar adalah konten yang sahih. Konten yang sahih adalah qalallahu wa qalarasulullah dengan tafsir yang benar dan sanad yang jelas. Ingatlah bahwa ilmu bukan sekedar nalar. Ilmu adalah, subhanka la ilma lanaa illa maa allamtanaa. ; anugrah Allah yang diberikan kepada manusia. Ilmu sejati selalu bersanding dengan adab dan berjauhan dari arogansi. Ilmu-ilmu itu butuh jalan agar sampai pada mad’u dengan baik. Jalan tersebut hanya bisa terbentuk dari hubungan sosial dai dengan mad’unnya. Olehnya, para da’i harus hidup bersama mad’unya. Bila dibuat susunan formulanya adalah ; relationship –> metode  — >  konten. 

Setelah memperseiapkan dirinya, ia harus keluar ke masyarakat. Pertama-tama ia mesti mengikuti Rasulullah ; berpihak pada para yatim dan kaum miskin. Bukan saja yatim biologis, yatim-yatim sosial adalah pihak yang harus dilindungi. Ulama harus mengarahkan fatwanya dalam rangka dinamisasi masyarakat. Melindungi rakyat tertindas dan membuat yang kuat berhati-hati dengan kekuatannya. Dari sinilah, dakwah bisa memberikan manfaat. Dakwah yang berhasil adalah dakawah yang dirasa manfaatnya. Dakwah bukan hanya perjuangan melindungi akidah diri dan ummat, tapi juga melindungi hajat hidup mereka. Musuh-musuh dakwah selalu sejajar dengan penghancuran hehidupan mereka. Maka musuh-musuh da’i adalah mafia-mafia yang menyebar takut dan rasa lapar di dalam masyarakat.

seorang dai bersama kaum mustad’afin di papua
Ingatlah bahwa Rasulullah menyebarkan dakwah yang tidak langsung menyuruh untuk salat, tapi beliau menyebarkan kasih sayang dari Dzat yang mengutusnya ; alladzi at’amahum min ju’ wa amanahum min khauf. Melindungi mereka lapar dan ketakutan. Dakwah adalah kerja pembebasan sosial bahkan ia memberikan pembebasan lebih dari semua proyek pembebasan sosial sekuler. Dakwah adalah pembabasan manusia dari penindasan di dunia, kemiskinan di dunia dan kecelakaan di akhirat. Maka Da’i tidak boleh melihat mad’unya sebagai kumpulan manusia sesat yang ia benci dan harus ia paksa menerima kebenaran. Mad’u harus dilihat sebagai saudara sesama manusia yang tengah berada dalam kesulitan, menuggumu untuk membantunya ; dari kemiskinan dan keyatiman fisik, spritual, dan intelektual. Jadi tentu saja sebelum bisa melakukannya kau harus berkecukupan secara fisik, spritual, dan intelektual. Dalam persoalan harta benda “berkecukupan” tidak selalu sama dengan kaya raya.
Baca juga:  Mengapa Moderasi Beragama Saja Tidak Cukup

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar