Santri Cendekia
Muhammad In’am saat sedang mengisi seminar di salah satu sekolah Muhammadiyah di Gresik. Sumber: https://pwmu.co/tag/pdm-gresik/

Dakwah Semakin Merapat di Kota Santri yang Penuh Adat

“Ibarat sebuah pisau yang selalu terasah, maka akan mudah untuk membelah”. Nampaknya, hal tersebut berlaku bagi para pejuang muballigh Muhammadiyah dalam menjejakkan kiprahnya di seluk beluk wilayah Indonesia. Mental para muballigh yang terasah menjadikan dakwah yang diampunya terasa mudah karena ghirah-nya.

Impresi para muballigh Muhammadiyah di bumi Allah SWT, sekaligus menjaga urat dakwah yang secara kontinu di transmisikan antara kader militannya, menjadi faktor agung Muhammadiyah ada hingga hari ini. Hal ini menjadi sebuah keniscayaan dalam mengenal sosok tokoh-tokoh muballigh Muhammadiyah, melihat eksistensi Muhammadiyah yang kini diakui di berbagai belahan dunia. Ya, salah satunya adalah beliau, Muhammad In’am. Kader militan Muhammadiyah yang sedari 44 tahun lalu telah memulai dakwah pertamanya di Kota Santri Timur Jawa, alias Gresik.

Kota santri bukan menjadi alasan utamanya agar berdakwah lebih mudah dengan asumsi bahwa masyarakatnya telah mengenal Islam sebelumnya. Karena, bukan dakwah bila bisa diterjang dengan mudahnya, dan bukan dakwah namanya bila berhenti pada tempat yang aman lalu menyudahinya, karena menurutnya dakwah adalah konsistensi dan hidup adalah untuk berdakwah.

Bila melihat sejarahnya, terpilihnya Jawa Timur sebagai sasaran dakwah oleh kelima para wali menyisakan keistimewaan budaya, dengan karakterstik khusus yang terasa kental bagi para pendatang, sekaligus warga yang bermukim di wilayah timur Jawa ini. Diantaranya adalah pengaruh dakwah Sunan Maulana Malik Ibrahim sebagai peletak podasi awal dakwah Islam di wilayah Giri-Gisik atau lebih dikenal sebagai Gresik. Kemudian Sunan Giri yang melanjutkan dakwah dari Maulana Malik Ibrahim. Adapula Sunan Ampel di kawasan Surabaya, Sunan Bonang di wilayah Tuban, dan Sunan Drajat di wilayah Sedayu.

Gresik, sebagai kota yang menyimpan erat peniggalan dua wali songo menjadi sasaran dakwah yang beliau mulai sejak usia yang cukup terbilang muda, yaitu dua puluh tahun. Dua puluh tahun bagi kaum milenial sekarang adalah umur yang rentan dengan adaptasi diri selepas pendidikan menengah dan menghadapi realitas dunia yang sesungguhnya. Namun beliau, di usia tersebut telah beranjak dari rumahnya untuk berhijrah dan berdakwah demi agamanya.

Lebih jauh lagi, sejatinya semangat dakwah beliau mulai terpacu sejak mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah tingkat tiga di Jombang. Waktu itu, beliau melihat seorang penceramah yang piawai dari Tebu Ireng, yaitu KH. Abd Karim saat mengisi ceramah pada sebuah acara di dekat kediaman rumahnya. Lebih lanjut, saat beliau mengenyam pendidikan tingkat V di PGAN dan melihat bahwa disekitar desanya seringkali menjadi tempat tujuan mahasiswa FIAD (dulu namanya adalah Fakultas Ilmu Agama Jurusan Dakwah yang menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Muhammadiyah Surabaya) yang mengabdikan diri di desa-desa tertentu semasa Ramadhan, semakin memacu ghirah-nya untuk mengukir rekam dakwah berikutnya.

Baca juga:  Munajat Semesta; Sebuah Untaian Renungan

Berkuliah di jurusan dakwah menjadi keinginan luhur yang diharapkan. Berlatar belakang dengan keterbatasan finansial tidak menghalanginya untuk memulai jejak dakwah yang didambakannya, hingga akhirnya beliau mengajar di lembaga Masyhudiyah atau Madrasah Tarbiyatul Athfal pada tahun 1976 di kawasan Giri-Gresik, sambil melanjutkan jenjang pendidikan tinggi di FIAD Surabaya secara sembunyi-sembunyi, karena masyarakat Giri pada waktu itu sangat menolak pergerakan Muhammadiyah yang dianggap baru dan menyesatkan.

Menurut beliau, “hidup adalah ibadah”. Ini sejalan dengan kisah menarik saat beliau aktif menjadi Mahasiswa FIAD di Surabaya, bahwa beliau bila bepergian ada kalanya mengenakan kartu tanda FIAD sebagai tameng agar tidak melakukan hal mubadzir lainnya. Khawatir bila tercabut nyawanya, sedang ia telah bermaksiat dan ada kartu tersebut, maka sejatinya ia malu sebagai seorang mahasiswa jurusan dakwah.

Pada kisah lainnya, pengalaman dakwahnya secara semebunyi-sembunyi di kota santri berbenturan dengan adat dan pemahaman gamang para warganya dalam memahami Islam. Dikisahkan oleh beliau bahwa pada tahun 1982, saat beliau pertama kali berkhutbah dan shalat jum’at di perguruan Muhammadiyah Giri, para warga menolak keras hingga mengumpulkan siasat dengan mengancam akan membakar perguruan Muhammadiyah kala itu. Alasanya, karena berdasarkan kebiasaan dan adat maysrakat, dalam satu desa tidak boleh ada dua tempat yang mengadakan shalat jum’at.

Penanganan masalah ini kemudian diredam oleh pihak KORAMIL yang menjaga perguruan Muhammadiyah di Giri dari serangan warga seminggu lamanya, Kegeraman dan adat warga setempat yang keluar dari luhur Islam dinilai sebagai sumbu utama dalam gerak dakwah Muhammadiyah di daerah yang dijuluki Kota Santri tersebut. Bukan semakin menutupi, tetapi hal ini beliau maknai sebagai gerbang awal dalam membumikan paham Islam yang sesungguhnya melalui Muhammadiyah.

Setelah peristiwa tersebut, gerakan Muhammadiyah mulai tercium eksistensinya. Hal ini memberikan pilihan bagi para kader Muhammadiyah setempat untuk melanjutkan dakwah atau menyudahinya. Desakan warga yang menilai bahwa Muhammadiyah akan merusak adat dan faham setempat menjadi gemuruh utama untuk segera menyingkirkan Muhammadiyah.

Bukan memilih untuk mundur dan melebur dengan masyarakat sekitar, beliau memantapkan diri untuk berkiprah di Muhammadiyah secara terang-terangan. Mengawali sepak terjang dengan menjadi wakil PCM Kebomas pada tahun 1985-1990 sekaligus sebagai Koordinator Majlis Tarjih PDM Gresik (sejatinya pada tahun 1990 di Rapat MUSYDAH Ujung Pangkah beliau terpilih menjadi ketua PDM, tapi beliau menolak karena usia yang terlalu muda, beliau berusia 35 th). pada tahun 1995-1999 ditunjuk sebagai ketua PDM Gresik, tahun 1999 beliau mengundurkan diri dari ketua PDM karena menjabat sebagai anggota DPRD Gresik, tahun 2000-2005 menjabat sebagai bendahara PDM Gresik, tahun 2005-2010 menjadi ketua PDM Gresik, tahun 2010-2015 menjadi wakil ketua PDM Gresik, sekaligus merangkap sebagai anggota Majlis Tabligh PWM Jatim dari tahun 2005-2020.

Baca juga:  Meluruskan Tirto Soal Perang Badar
Muhammad In’am saat sedang mengisi seminar di salah satu sekolah Muhammadiyah di Gresik. Sumber: https://pwmu.co/tag/pdm-gresik/

Sepanjang karir beliau dan para pejuang Muhammadiyah inilah, Amal Usaha Muhammadiyah di Gresik terhitung selalu berkembang, seperti pada tahun 2008 telah dimulai pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah pada masa kepemimpinanya, lalu merujuk pada data tahun 2018, amal usaha Muhammadiyah di Gresik tercatat terdiri dari 71 Sekolah (termasuk 36 SD/MI, 19 SMP/Mts, 10 SMA, 4 SMK, dan 2 MA); 45 TKA/PAUD, 4 Pondok Pesantren, 2 RS Muhammadiyah, 3 Klinik/BP/PKU, 125 masjid, 1 Universitas Muhammadiyah, serta 5 Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah). Pada tahun 2019, Amal Usaha Muhammadiyah menanjak pada bidang pendidikan dengan menambahnya 5 bangunan sekolah Muhammadiyah.

Universitas Muhammadiyah Gresik. Sumber : https://pwmu.co/
Peresmian lima bangunan sekolah baru di Gresik oleh Haidar Nasir di tahun 2019. Sumber: http://m.muhammadiyah.or.id

Inilah segelintir kisah perjuangan para pemuda hingga penerus perjuangan Muhammadiyah. Pejuang dakwah bukanlah hal yang mudah. Sosok seperti Nabi SAW saja pernah mengalami kesulitan dan himpitan saat proses transmisi dakwah Islam. Berdakwah adalah bentuk dari representasi Islam secara actual yang wajib dimiliki semangatnya oleh setiap muslim.

Beliau tidak pernah merasa sulit saat membawa nama Muhammadiyah sekaligus tidak menghawatirkan stigma masyarakat terhadap keluarganya. Baginya, Muhammadiyah dalam fahamnya adalah memperjuangkan Islam itu sendiri.

Beliau bukanlah seseorang yang berusaha berbaik diri dan meleburkan kemauan orang lain agar diberi keluasan dan kebaikan tempat hidup. Menurutnya, sebagai pejuang kader Muhammadiyah, selama memang adat atau faham setempat belum sesuai dengan nilai Islam, apalagi menyangkut masalah aqidah, maka beliau secara tegas menolaknya.

Disamping itu, bentuk toleransi yang beliau tonjolkan adalah dengan selalu berbuat baik pada siapapun dan tetap bertawadhu’, baik terhadap tetangga ataupun keluarga dekat. Sepenggal kisah lainnya ada pada tetangga yang selalu berada di garda terdepan menolak kehadiran Muhammadiyah, namun karena para kader Muhammadiyah mewujudkan keislaman dengan damai dan membumikan nilai luhur Islam, sehingga Muhammadyah bukan hanya sekedar organisasi atau perkumpulan orang sahaja, tetapi Muhammadiyah bisa menjelma sebagai organisasi dinamis yang mampu merangkul kalangan nir-organisatoris hingga kalangan non-muslim.

Baca juga:  Ambivalensi Pemikiran Abu Hāmid al-Ghazālī

Muhammadiyah dalam menangani kerasnya watak penduduk timur jawa ini, lambat laun membuat impresi warga sekitar terhadap Muhammadiyah semakin melunak, hingga warga setempat mulai mengakui eksistensi Muhammadiyah. Tidak singkat memang, tapi perjuangan dengan peluh dan waktu yang konsisten setidaknya telah berhasil menyisakan hikmah yang luar biasa melekat.

Gresik dalam sejarahnya di berbagai literature dan penelitian adalah sebuah wilayah dengan peralihan tiga masa pemerintahan (Kerajaan Giri Kedaton dalam kekuasaan para sunan, Kabupaten Tandes, Kabupaten Surabaya, hingga berdiri sendiri sebagai Kabupaten Gresik). Ini bukanlah hal yang mudah bagi para kader Muhammadiyah untuk memanifestasikan nilai tauhid dan mengakomodir watak dan budaya masyarakat Gresik kala itu. Karena, setelah era wali, makin banyak penyimpangan adat dan budaya yang hinggap menjadi bagian relung hidup masayarakat Giri-Gresik.

Berasumsi bahwa wilayah Gresik telah merekam jejak ghirah para wali terdahulu, hingga menjadi jalur mudah dalam meneruskan transimis pergerakan Muhammadiyah adalah pendapat yang salah kaprah. Muhammadiyah tetaplah menjadi gerakan tabu yang menjajal adrenaline pada setiap cerita para penda’i di sana. Muhammadiyah, dalam gerakannya menurut beliau adalah mengusung amal usaha untuk seluruh masyarakat sekitar. Muhammadiyah dalam cita-citanya demi menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, tidak akan berdampak bila bukan dari perjuangan para kadernya yang bertendensi dengan gerak cepat merespon keluhan masyarakat setempat.

Muhammadiyah menurutnya, bergerak dan memimpin berpikir kritis serta berusaha mendudukkan kembali porsi purifikasi agama Islam dalam kehidupan manusia, tidak memarsialkannya, dan tidak pula menutup pintu ijtihad. Keberhasilan Muhammadiyah bukan hanya terlihat dari tertumpasnya gerakan adat menyimpang di masyarakat, tetapi konsistensi Muhammadiyah dalam berkarir di kancah nasional dan internasional dengan mengintegralkan faham keagamaan dan duniawi yang seimbang adalah ciri dari keberhasilan Muhammadiyah itu sendiri.

Wallahua’lam bi as-shawab..

Aisyah Rosyidah

Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah dan Pondok Pesantren Muallimat Yogyakarta

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: