Santri Cendekia
Home » dari Buih untuk Busa Sabun

dari Buih untuk Busa Sabun

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallambersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

 

Ketika aksi 212 kemarin digelar, ada seorang tokoh socmed yang dengan gegabahnya membuat sebuah tweet bahwa orang-orang yang berkumpul di monas adalah termasuk dalam klasifikasi “buih” yang digambarkan Rasululah pada sabdanya di atas. Penulis rasa, itu adalah suatu statement yang sangat gegabah, sama gegabahnya dengan statement melakukan salat jumat di monas adalah bid’ah yang besar. Mengapa penulis berani berkata bahwa itu adalah statetment yang gegabah? Mohon perhatikan dengan seksama hadist Rasulullah di atas. Umat ini termasuk dalam klasifikasi “buih” seperti yang dikatakan Rasulullah APABILA mereka “CINTA DUNIA DAN TAKUT MATI”. Anggaplah kita mau menuruti tuduhan keji yang sering beredar bahwa mereka yang ada di monas adalah orang-orang dengan keilmuan rendah yang sedang dikibuli oleh Habib Rizieq CS. Tetap saja mereka datang ke sana, bukan dalam rangka untuk mendapatkan dunia. Sebodoh-bodohnya orang, tidak akan ada yang mau jalan kaki dari Ciamis ke jakarta hanya untuk menghadiri aksi dan mendengarkan orasi beberapa jam lalu pulang lagi. Sebodoh-bodohnya orang, tidak akan mau melanjutkan perjalanan ke sana setelah mobilnya mengalami kecelakaan hanya untuk mendapatkan nasi bungkus. Sebodoh-bodohnya orang, tidak akan mau menghadiri aksi dari banten ke jakarta demi duit 100 ribu (mikir bro, itu duit 100 buat bayar bis bolak-balik aja udah abis). Begitupun para ulama, setipu-tipunya orang, mana ada penipu yang mau mengumumkan hasil tipuannya kepada orang-orang yang ditipunya (GNPF MUI mengumumkan hasil infaq yang terkumpul pada mereka ada sekitar 4-5 miliyar dari atas panggung). Tuntutannya pun jelas dan konsisten dari awal, hukum ahok, tidak melebar dan aji mumpung kemana-mana. Lalu dari arah mana sehingga kita bisa menyebut mereka sebagai representasi “buih” akhir jaman?

Baca juga:  PUTM dan Kaderisasi Ulama: Menelusuri Latar Belakang Lahirnya Lembaga Kaderisasi Ulama Muhammadiyah

Di saat kita yang katanya sudah berilmu dan banyak ngaji saja masih bingung bagaimana caranya mengembalikan kejayaan islam ala golden collaboration versi Muhajirin dan Anshar. Orang-orang yang hadir kemarin sudah pantas menjadi guru-guru kita di setiap bidangnya. Saya begitu malu dan sesak ketika melihat banyak tukang roti, tahu, ketoprak memberikan gratis seluruh dagangannya. Berapa banyak untung mereka sehari? Mereka siap tekor demi islam. Karena mereka yakin Allah pasti melipat gandakan infaq mereka di dunia ini. Bagian mananya dari mereka yang membuat kita mantap mengatakan bahwa mereka adalah “buih”? Mereka pedagang ibu kota yang menyambut tamunya dengan apa yang mereka punya dan mereka bisa, meski mereka dalam kondisi kekurangan.

“..Mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tidak mengharapkan pemberian meski mereka sendiri dalam kondisi kekurangan” (Al-Hasyr : 9)

Lalu bagaimana orang-orang tua yang sudah ringkih? Aduhai kaki mereka yang kusam itu mungkin lebih dicintai surga daripada kaki-kaki indah dan bersih milik kita. Para asatidz dan ulama-ulama di setiap daerah pun turun meninggalkan panggungnya untuk duduk sama rata dengan umat yang mereka cintai. Pelajaran untuk kita, sebelum menggunakan dalil untuk melabeli sebuah kondisi, simak baik-baik realita yang ada lebih dekat dan dalam. Biar gak ngawur bro!

Perlu dipahami lebih lanjut, kategori manusia “buih” itu juga banyak dan tidak bisa dilihat dari satu dimensi saja. Misalnya kita dengan sempit mengatakan bahwa ciri-ciri generasi “buih” adalah jauh dari ilmu, maka silahkan baca buku “Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib” karya Dr. Majid Irsan Al-Kilani. Kita dapati bahwa beliau menceritakan banyak kebobrokan umat justru dibuat oleh para penuntut ilmu dan “ulama” yang tidak lagi memposisikan ilmu di jalan yang tepat. Beliau juga menceritakan begitu banyaknya muncul fanatisme mazhab hingga setiap mazhab merasa merekalah yang paling utama, bukankah mirip dengan kita sekarang ini? Kehancuran dinasti abbassiyah oleh kaum Tar-tar pun bukan karena mundurnya peradaban dan perbendaharaan umat. Saat itu para sejarawan hampir semuanya sepakat hancurnya umat karena para pemimpin sudah tidak lagi mencintai jihad, ketika umat islam sudah tidak punya lagi ghirah. Jadi sebelum kita memutuskan seseorang pantas diklasifikasikan sebagai Ulama, ingat-ingat bahwa kata Allah, Ulama itu adalah orang yang takut kepada Allah, bukan Cuma modal banyak perbendaharaan ilmu atau hafalan kitabnya. jadi plis jangan silau dengan ilmunya doang bro, lihat untuk apa dia gunakan ilmunya. Lalu apa yang kita lihat di monas kemarin? Apa kita melihat kehancuran umat? Kita melihat sebuah perjuangan dari mereka yang menuju ke sana, harapan, tangis kerinduan, ukhuwah, keberanian, kekuatan, kemuliaan, kesabaran, Kelembutan, Keramahan, Ghirah, dan iman. Dimana “buih”nya?

Baca juga:  Kiyai Dahlan, Merdeka Belajar, dan Dilema Palsu Pendidikan Kita

“Buih” itu justru adalah mereka yang tidak bisa menjaga lisan untuk menyakiti umat yang sedang bersatu dan berusaha memecah belah umat…

“Buih” itu justru adalah mereka yang lisannya santun terhadap orang kafir namun tajam terhadap saudara seiman…

“Buih” itu justru mereka yang menggunakan kepandaianya untuk menipu manusia dari jalan yang lurus…

Maka sungguh jika setelah semua keindahan yang terjadi di monas kemarin oleh saudara-saudara seiman, kita masih asik berteriak “Dasar generasi buih!!”, mungkin kita adalah generasi “busa sabun” yang ada di kamar mandi yang kelak akhirnya terbuang bersama-sama ke selokan, na’udzubillahi min dzalik!!

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar