Santri Cendekia
Home » dari Keluarga untuk Peradaban (Al-furqan 74 bag. terakhir)

dari Keluarga untuk Peradaban (Al-furqan 74 bag. terakhir)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

 “Dan orang-orang yang berkata, Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami yang menyejukan pandangan kami. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. (Al-Furqan : 74)

 

Setelah setiap muslimin berhasil membentuk keluarga yang penuh dengan kehadiran cahaya islam dan iman. Maka keluarga-keluarga tersebut kelak akan berkumpul dan membentuk sebuah komunitas robbani. Itulah ultimate goal yang diinginkan dari doa dalam surat Al-Furqan : 74 ini. Itu mengapa, menurut Ust. Budi Ashari, Ulama tafsir berpendapat dalam ayat ini, susunan kalimat “Waj’alna lil muttaqiina imaman” (jadikanlah kami bagi orang-orang bertaqwa, seorang pemimpin) merupakan kalimat dengan susunan yang tidak lazim. Jika bentuknya lazim, maka harusnya susunannya “Waj’alna imaman lil muttaqiin” (jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa). Bentuk yang tidak lazim ini menyimpan hikmah, bahwa kumpulan orang-orang yang bertaqwa lebih utama untuk dibangun agar lebih mudah mencetak dan mendapatkan figur-figur pemimpin. Karena, seandainya pun kita berhasil mendapatkan pemimpin yang beriman dan bertaqwa, tetapi rakyat yang dipimpin, rekan-rekan kerja dan staff disekelilingnya adalah orang-orang yang jauh dari islam. Maka kehadiran seorang pemimpin bertaqwa pun akan tidak menjadi terlalu siginifikan. Karena pada akhirnya pemimpin yang soleh ini mungkin harus lebih sibuk mengurusi urusan internal yang belum kelar dan sulit untuk membawa umat berlari lebih jauh dan lebih tinggi.

Kita patut iri terhadap Umar bin Khattab ra. Beliau pernah berkata, “aku lebih baik mengganti pejabatku setiap hari daripada harus menanggung dosa karena kezaliman mereka”. Bayangkan, Umar tidak akan bisa berkata seperti itu jika mayoritas masyarakat muslimin saat itu bukan orang yang bertaqwa. Umar memiliki banyak pilihan sahabat yang siap untuk ia angkat menjadi gubernur di suatu tempat. Sedangkan kita? Masih dengan slogan yang sama, “memilih yang terbaik di antara yang buruk”.

Baca juga:  Inilah 18 Adab Berdebat ala Ulama Muhammadiyah

Maka, bagi muslimin yang merindukan tegaknya kembali peradaban islam di atas permukaan bumi ini, tidak bisa tidak. Kita wajib memberikan totalitas kita terhadap keluarga kita. Ingat Sabda Rasul, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dengan keluarganya, dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku”. Jangan sampai di luar rumah kita eksis, sibuk mengisi kajian di mana-mana, sibuk dengan aktivitas dakwah gerakan masing-masing, sibuk menjadi kepanitiaan, dan sebagainya, namun lupa memberikan kurikulum pendidikan di rumah. Anak sendiri pun kadang masih kacau untuk sekedar salat 5 waktu atau membaca qur’an dengan tajwid yang benar. Karena terima tidak terima, hal-hal tersebut masih banyak terjadi di kalangan aktivis dakwah.

Allahu a’lam bishshawab

 

Avatar photo

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar