Santri Cendekia
Home » Dari Nakba hingga Perlawanan Gaza: Kebesaran Hati Para Syuhada

Dari Nakba hingga Perlawanan Gaza: Kebesaran Hati Para Syuhada

Konflik antara Palestina dan Zionis Israel selama kurang lebih 75 tahun ini telah banyak meninggalkan luka mendalam bagi dunia pada umumnya dan umat Muslim khususnya. Sejak bergejolaknya kembali perang pada 7 Oktober 2023 telah banyak relawan yang gugur menjadi korban Tindakan brutal zionis Israel.

Hal di atas seakan mengingatkan kita tragedi Nakba tahun 1948 di mana penganiayaan, pembunuhan, perampasan, pemindahan, pengusiran dan pendudukan wilayah Palestina terhadap Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza serta di kamp-kamp pengungsian lain di seluruh wilayah tersebut. Ini seharusnya menjadi cambuk keras buat dunia dan kita semua guna merespon kolonialisme dan genosida yang terus menerus terjadi.

Melihat kejadian tersebut hati dan pikiran siapa yang tidak fokus, namun emosi yang berubah dari kesedihan hingga kemarahan mestilah disalurkan dengan cara bertindak berani sesuai apa yang diridai oleh Allah swt. Pembunuhan yang tidak masuk akal terhadap jiwa-jiwa tak berdosa di Gaza membawa kita pada ayat Al-Qur’an yang mengecam kebiasaan pra-Islam yang mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru lahir. Sebagaimana firmannya dalam QS. at-Takwir: 9

بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ

Bayi-bayi yang tidak berdosa itu akan ditanya “karena dosa apa ia dibunuh”. Kita bertanya hari ini: dosa apa yang menyebabkan mayat-mayat yang berlumuran darah dan tak bernyawa dibantai di Gaza?

Marilah sejenak kita melihat Gaza dan para Syuhadanya melalui kacamata Al-Qur’an. Setelah Perang Badar, ayat berikut diturunkan:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌ ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ

“Dan janganlah kamu berkata kepada orang-orang yang gugur di jalan Allah: ‘Mereka sudah mati’; sebaliknya mereka hidup; tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154).

Baca juga:  Debat Karet Tentang Toleransi

Allah mengikuti ayat ini dengan menubuatkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan rasa takut dan lapar, dan berkurangnya harta benda dan nyawa; namun sampaikanlah kabar baik kepada orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 154-155)

Saat ini, masyarakat Gaza cocok dengan semua gambaran tersebut. Mereka sedang diuji dengan ketakutan, kelaparan, kehausan, dan kehilangan harta benda. Mereka sedang diuji dengan hidup mereka. Namun kita juga mengetahui gambaran pahala mereka. Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah swt menghadirkan kepada diri-Nya para syuhada Perang Uhud. “Mereka berada di tepi Sungai dekat pintu surga, mereka berada dalam kubah hijau. Hidangan mereka keluar dari surga itu setiap pagi dan sore” (HR. al-Hakim, Ahmad dan at-Tabrani).

Itulah kenikmatan yang Allah berikan kepada para syuhada, di samping itu predikat syahid yang mereka dapatkan bukan hanya di dunia tetapi juga mendapatkan pahala di akhirat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim.

Dewasa ini kita diajak untuk mempelajari dan memahami realitas kehidupan secara konkret oleh Allah swt dari kejadian antara Palestina dan Zionis Israel. Kita harus mengolahnya dari segi pengetahuan dan kepastian. Sekarang ini ada dua emosi yang saling bergejolak seperti yang kami sebutkan di awal, yaitu: Kemarahan atas hilangnya nyawa orang tak berdosa; dan penodaan terhadap saudara-saudari kita. Harus ada kemarahan dan kesedihan. Keduanya bermula dari belas kasihan terhadap para korban. Namun emosi tersebut harus dibarengi dengan harapan dan kepastian yang utuh kepada Allah swt.

Dari begitu banyak nikmat dan janji Allah kepada para syuhada Palestina yang akan mereka dapatkan tidak menghentikan langkah kita untuk mencegah banyaknya kezaliman yang diperbuat oleh Israel. Rasa sakit yang diterima hendaknya diubah menjadi sebuah kekuatan untuk menjadi lebih kuat dan berani.  Mungkin banyak juga orang yang merasa takut dan khawatir akan perang yang tidak berkesudahan, namun kita harus menaklukkan rasa takut itu.

Baca juga:  Sistem Pendidikan di Israel Sengaja Hapus Sejarah Arab-Palestina

Bangsa Palestina begitu istimewa karena mereka telah membuat musuh-musuhnya gila karena keberaniannya. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa dipatahkan dan tangguh. Nenek yang menolak meninggalkan Gaza, dan tetap bertahan meski tanpa air, lebih berani dari seribu tentara Israel.

Peristiwa tersebut hampir sama dengan apa yang dikisahkan Allah tentang kisah Thalut dan Jalut dalam QS. Al-Baqarah: 249-252. Di mana pada ayat 249 digambarkan bagaimana Allah menguji Thalut dan pasukannya yang sedang keadaan haus dan lemas, namun mereka dilarang untuk meminum air Sungai kecuali hanya seteguk dari cidukan tangan saja. Tapi apa yang terjadi, banyak dari mereka melanggar larangan itu, akibatnya justru melemahkan semangat dan kekuatan perjuangan mayoritas pasukan, bahkan banyak yang tidak mampu untuk melawan pasukan Jalut yang dikenal gagah perkasa.

Ungkapan tersebut terlontarkan dari lisan orang-orang yang lemah imannya. Namun dalam kondisi tersebut muncullah Sebagian kecil pasukan yang memiliki keimanan yang sempurna dan semangat yang tinggi bahwa pasukan dengan jumlah yang sedikit dan minimnya persenjataan bukanlah penghalang untuk mendapatkan sebuah kemerdekaan dan kebenaran jika Allah swt menghendaki hal tersebut. Sikap optimisme pasukan Thalut ini diabadikan dalam Al-Qur’an dengan ungkapan yang indah

قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Allah bersama orang-orang yang sabar”. Inilah sikap optimis yang saat ini Allah berikan dalam hati-hati setiap pejuang yang sedang membela tanah air, kehormatan diri dan agama mereka demi kemerdekaan Palestina.

Baca juga:  27 Mei 2020, Momentum Kalibrasi Arah Kiblat

Oleh karena itu, janganlah kita takut dan bimbang serta bersedih hati yang berlebihan terhadap apa yang terjadi sekarang karena suatu saat nanti pasti akan ada pertolongan dan kemenangan yang Allah berikan kepada saudara-saudara kita yang sedang berjuang di Palestina, seperti janji Allah swt: “Janganlah kamu bimbang dan jangan bersedih hati, karena kamulah yang lebih unggul jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali ‘Imran:139). Dan marilah sebisa atau semampu kita untuk membantu mereka, baik itu bantuan diplomasi, peralatan medis dan obat-obatan, makanan, dll.

Terakhir kami tutup dengan perkataan Dr. Omar Suleiman [Pendiri & Presiden Yaqeen Institute for Islamic Research]: “Now is the time to act wisely and courageously” (Sekaranglah waktunya untuk bertindak bijak dan berani).

Edy Masnur Rahman

Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar