Santri Cendekia

Datangkan Cahaya, agar Kegelapan Lenyap (Al-Israa 81)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al-Israa 81)

 

            Ustad Budi Ashari mengutip ayat ini ketika menjelaskan bagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam membangun pasar di madinah, pasar manakhah. Pasar pertama milik muslimin yang dijalankan atas dasar ketaqwaan dan prinsip-prinsip syariah. Dalam waktu yang singkat, pamor pasar ini pun berhasil meningkat pesat dan mengalahkan pasar yahudi qainuqa’, pasar milik Ka’ab bin Asyraf. Hal ini terjadi terutama karena pasar manakhoh ini jauh dari riba, para pedagangnya takut kepada Allah jika menipu, dan tidak ada yang boleh menguasai lapak tertentu. Siapa yang datang lebih pagi, maka ia yang berhak menempati. Walhasil, pasar yahudi qainuqa’ yang batil itu pun bertekuk lutut perlahan tapi pasti.

            Begitupun kisah yang serupa terjadi pada sumur raumah. Sumur dengan kualitas terbaik di madinah yang dimiliki oleh seorang yahudi. Seluruh orang-orang madinah, termasuk muslimin, yang ingin menggunakan air ini, harus membeli kepada yahudi tersebut. Rasulullah pun menawarkan surga kepada mereka yang mampu membebaskan sumur ini dari tangan yahudi. Ustman bergerak cepat, setelah negosiasi yang cukup alot, akhirnya yahudi madinah itu mau menjual setengah sumur raumah kepada Ustman. Dengan cara, sehari sumur itu milik si yahudi, dan sehari sumur itu milik Ustman.

            Ustman langsung memberikan pengumuman kepada seluruh penjuru madinah, ketika sumur tersebut berada di hari yang menjadi jatah Ustman, maka air dari sumur tersebut bebas diambil dengan gratis. Walhasil, tak ada lagi yang membeli air dari sumur itu kepada si yahudi dan akhirnya si yahudi menjual seluruh saham tersebut kepada Ustman bin Affan. Selesailah kebatilan monopoli sumber daya air yang terjadi di madinah.

Baca juga:  Tadabbur Asma'ul Husna (Al-Mushawwir)

            Dua kisah ini, hanyalah sebagai penguat pemahaman kita. Bahwa ketika kita ingin menyingkirkan kebatilan yang terjadi, maka kita harus datang dengan membawa sesuatu yang haq. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang ke madinah, tanpa banyak berkampanye soal ekonomi syariah, bahaya ekonomi riba, dan sebagainya. Dengan bimbingan wahyu, beliau beraksi pada tataran praktis dengan konsep yang matang dan mantap. Beliau mendirikan pasar, mengajarkan aturan mainnya kepada sahabat. Perlahan tapi pasti, setelah melihat bagaimana pasar muslimin berjalan, dengan sendirinya orang tahu betapa busuknya konsep pasar ribawi milik yahudi qainuqa’. Akhirnya semua berbondong-bondong meramaikan pasar manakhoh. Rasulullah datang dengan pasar manakhoh yang haq, maka pasar yahudi yang batil lenyap.

            Lalu Ustman bin Affan, tak perlu seruan-seruan boikot sumur yahudi dan sebagainya. Ustman dengan sigap dan cerdas membeli sumur yahudi. Setelah sumur yahudi dibeli, tak Ustman jadikan sebagai lahan bisnisnya. Beliau wakafkan air dari sumur terbaik madinah itu untuk kepentingan muslimin. Akhirnya dengan sendirinya masyarakat madinah meninggalkan jatah sumur yahudi dan beralih kepada jatah Ustman. Si yahudi pun bertekuk lutut dan akhirnya membiarkan usahanya yang bangkrut di beli Ustman. Ustman datang dengan sedekahnya yang haq, maka bisnis kapitalis yahudi pun lenyap.

            Ayat ini menjadi kaidah jelas dan tamparan keras untuk kita. Setelah menghujat berbagai sistem jahiliyyah dan konsep-konsep hidup yang bersebrangan dengan islam, sudahkah kita menyiapkan sistem dan konsep terbaik menurut islam? Maka jika kita tak bisa hadirkan berbagai sistem dan konsep islami menurut islam, jangan pernah harap berbagai konsep dan sistem jahiliyyah yang batil itu bisa lenyap. Apalagi jika kita ingin mengalahkan sistem dan konsep yang batil, dengan menggunakan sistem dan konsep yang batil pula, sama aja bodong.

Baca juga:  Istidraj & "Success (?) Story" (Al-Fajr 15-16 part 1)

            Misal, kita hujat sistem pendidikan yang sekuler dan dunya oriented. Lalu kita buat pula sekolah, islami labelnya. Tapi kurikulum dan orientasi tak jauh beda dengan sekolah sekuler. Bedanya hanya sekolah kita wajib pakai jilbab, ada tambahan jam belajar baca qur’an, serta program mabit sebulan sekali. Susunan kurikulum masih sama, pelajaran agama seminggu sekali, 2 jam saja. Siswa digenjot dengan berbagai kegiatan ekstra kulikuler, tapi yang ekskulnya tak juga mendukung pendidikan keislaman mereka. Akhirnya sekolah pun juga hanya sibuk mengejar ambisi dan pamor. Bukannya tak baik dan mengapresiasi, Tapi itu belum cukup dikatakan sebagai metode pendidikan yang haq sesuai dengan konsep islam. Jika metode yang dihadirkan belumlah haq, jangan harap bisa menyingkirkan sistem pendidikan sekuler yang batil dan sudah mengakar dalam-dalam itu.

            Ini penyakit kita sekarang, hujat sistem dan konsep jahiliyyah, tapi masih tak kaffah memahami sistem dan konsep syariat. Maka yang terjadi sekarang akhirnya adalah hadirnya  impelementasi syariat yang tak murni atau malu-malu kucing. Malah campur aduk antara yang haq dan yang batil.

           Jika tak suka konsep pasar kapitalis, hadirkan konsep pasar islami. Jika tak suka konsep instansi ekonomi ribawi, hadirkan konsep instansi ekonomi syariah yang benar-benar islami. Jika tak suka konsep restoran mewah yang tak peduli halal haram, hadirkan konsep restoran mewah yang islami. Jika sudah muak dengan politik praktis, hadirkan konsep politik islami ala Nabi. Jika sudah muak dengan pembangunan yang negara yang kering dari nilai-nilai moral dan akhlak, maka hadirkan konsep pembangunan negara yang penuh dengan nilai-nilai moral dan akhlak sesuai syariat. Tentu ini semua bisa dicapai dengan keilmuan yang kuat.

Baca juga:  Hermeneutika Hadis dan Kejanggalan Nomenklatur (Bagian II)

             Maka para muslimin yang begitu besar mimpinya untuk mengembalikan kejayaan islam di muka bumi, tidak bisa tidak, jihad keilmuan kita harus kuat dan syumul. Terutama tentang menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah dalam setiap jenjang perjuangan kita. 23 tahun Rasulullah berdakwah, 63 tahun beliau hidup, bukan hanya untuk sebagai kenangan. Tapi sebagai sebuah blue print bagi seluruh pengikutnya yang ingin menggapai kesuksesan dakwah islam di muka bumi ini.

Kegelapan adalah sesuatu yang tak berdaya dan begitu lemah, tak kuasa ia menahan datangnya cahaya. Ketika cahaya datang, kegelapan pasti sirna. Namun ketika cahaya tiada, maka kegelapan akan meraja rela.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: