Deddy Corbuzier dan Ideologi(sasi) Islam

Salah satu tema kajian yang menarik bagi saya dan akan saya dalami, kalau ada rezeki S2 nanti adalah ideologi secara umum, dan ideologi Islam secara khusus, dari perspektif filsafat. Beberapa status saya sudah sering membahasnya dengan merujuk ke beberapa bacaan, tetapi mungkin itu masih terlalu mentah, normatif, bahkan ada yang mengira sedang mengkritik (padahal saya tanpa malu selalu menyebut diri islamis/berideologi Islam, termasuk di hadapan dosen atau teman yang liberal atau nonmuslim). Untuk memahami apa itu ideologi dan bagaimana ia bekerja di benak kita, kebetulan sekali, ada satu contoh anyar yang bisa dibahas, yakni peristiwa masuk islamnya Deddy Corbuzier. Sedikitnya ada 5 isyarat terjadinya ideologisasi yang bisa dibahas.

Kalau kita (1) langsung gregetan untuk menjadikan Deddy bagian dari “kita” dan bukan “mereka”, setelah melihat video syahadat Deddy yang tentu saja hadir di grup-grup WA itu, maka itu sudah menjadi isyarat ideologi. Selanjutnya, kalau kita secara lebih spesifik lagi menginginkan Deddy untuk (2) mengikuti pengajian kita lengkap dengan pelbagai penanda khasnya baik dalam bentuk verbal (“ikhwan”, “khilafah”, “pengajian sunnah”, “Islam Nusantara”, dsb.) maupun visual (berbaju, celana, bahkan peci dengan gaya tertentu), disertai dengan keyakinan bahwa pengajian kitalah jalan keselamatan sementara yang lain kurang atau bahkan bukan, itu juga isyarat adanya ideologisasi.

Selanjutnya, kalau status Deddy sebagai orang besar (bukan badannya, tentu saja, tetapi ketersohorannya, yang kini disebut “influencer”) sehingga setiap pandangan maupun tindakannya bisa (3) mempengaruhi selebritas lain atau warganet umum dan itu membuat mereka berbondong-bondong masuk ke dalam “jalan keselamatan” kita, itu isyarat tambahan ideologisasi. Yang terakhir, kalau kita menginginkan Deddy (4) masuk ke dalam barisan militan pendukung pilihan politik (partai, capres, atau keduanya) kita, apalagi juga punya militansi yang sama untuk menyerang pilihan lain, di dalam susana politik demokrasi Indonesia yang lebih mementingkan prosedur dengan (5) wacana kekuasaan tetapi tidak substansi (gagasan), maka itu pertanda pelengkap bahwa cara berpikir kita sudah ideologis.

Pemihakan, simbol-simbol identitas, kuasa pengaruh yang masif, militansi politik, dan wacana kekuasaan adalah lima di antara konsep-konsep penting di dalam kajian ideologi. Empat yang disebut pertama merupakan warisan dari kajian politik modern yang kini ditambah dengan pembacaan posmodern yang ada di butir kelima. Tetapi apa itu ideologi? Kalau menyarikannya dari pelbagai kamus, kita akan memahami ideologi sebagai seperangkat gagasan rasional tentang realitas sosial dan politik disertai pedoman bagi mewujudkan gagasan tersebut. Meski saling beririsan dan sering dipertukarkan di dalam percakapan sehari-hari, ideologi berbeda dari worldview yang lebih menekankan aspek metafisika dan paradigma yang lebih menekankan aspek bahasa dan komunitas ilmiah.

Ideologi adalah gejala modern yang menemukan bentuk utuhnya ketika gagasan-gagasan besar tentang politik, ekonomi, etika, dan gerakan sosial berhasil dirumuskan. Hal demikian juga berlaku pada ideologi Islam, sehingga sejak awal abad 20 kita mengenal ideolog-ideolog muslim baik yang berasal dari Timur Tengah, Anak Benua India, atau Indonesia. Sebagian besar ideolog ini berasal dari tradisi Ahlussunnah wal jama’ah sehingga sebenarnya tak ada perbedaan di tingkat akidah dan ibadah-ibadah pada umumnya, hanya saja mereka merumuskan secara baru fiqh siyasah (sosial-politik) untuk merespons zaman. Di sinilah perbedaan mulai muncul: khilafah global atau negara bangsa, partai berazas Islam atau bersubstansi Islam, berkoalisi dengan partai ini atau partai itu, mengusung calon ini atau calon itu, dan seabagainya. Dengan demikian, ideologi (yang juga tak ada padanannya di dalam istilah Islam) yang diberi kata sifat Islam adalah suatu ideologisasi doktrin-doktrin tertentu tentang fiqh siyasah yang dirumuskan oleh para ideolog.

Sampai di tahun 90-an, ada banyak kajian-kajian tentang pemikiran dan gerakan politik Islam di Barat masih menempatkan mereka sebagai kaum fundamentalis yang fanatik (dan karenanya tidak rasional), klasik (dan karenanya tidak sesuai demokrasi), dan juga intoleran (dan karenanya menjadi ancaman bagi kemanusiaan). Salah satu yang mendobrak tradisi itu adalah seorang feminis dan pengkaji politik Islam, Roxxanne L. Euben. Menurutnya, kaum ideologis itu justru menyesuaikan diri dengan rasionalisasi-rasionalisasi internal yang memungkinkan mereka masuk ke dalam alam demokrasi. Euben mendalami bagaimana cara beberapa ideolog itu berpikir yang ternyata tak jauh berbeda dari cara Barat berpikir, karena sebagian dari mereka juga bersentuhan dengan tradisi Barat terutama lewat pendidikan. Itulah mengapa Euben memberi judul bukunya enemy in the Mirror.

Bersama dengan nama lain seperti John L. Esposito, Euben berhasil mengubah arah kajian tentang politik Islam di Barat menjadi lebih bernuansa. Sekumpulan ilmuwan sosial yang melakukan eksperimen penerapan teori gerakan sosial terhadap gerakan-gerakan Islam di Timur Tengah, dan hasil penelitiannya itu tertuang dalam buku Islamic Activism: A Social Movement Theory Approach suntingan Quintan Wictorowicz, juga menunjukkan bahwa gerakan sosial Islam memanfaatkan sarana yang ada (simbol, budaya pop, pelayanan sosial, lembaga pendidikan, afiliasi dengan kekuatan politik lain, dsb.) secara rasional, yakni suatu kalkulasi untung-rugi yang masif, seperti gerakan sosial pada umumnya. Kehadiran media sosial turut memfasilitasi kepentingan tersebut, bahkan berita palsuatau fitnah lain pun kerap dianggap wajar jika menguntungkan pihak “kita”.

Pada tempatnya yang benar, tak ada yang salah dari ideologi Islam yang seperti ini. Tetapi jika menjadi satu-satunya ukuran keberislaman seseorang, kita telah terlalu dangkal dalam memahami Islam maupun ideologi Islam. Sifat modern pada ideologi, termasuk ideologi Islam, membuat kita harus memahami dahulu apa makna modern. Ini tentu saja akan menjadi tulisan panjang tersendiri. Saya ingin merujuk penjelasan Syed Muhammad Naquib Al-Attas ketika membahas kaum tekstualis (atau yang beliau sebut kaum “nakali”, yang mengandalkan dalil naqli saja) dan kaum modernis (mencakup para pemikir yang disebut “pembaharu” maupun “ideolog”) di buku Risalah untuk Kaum Muslimin.

Dua kritik dan dua apresiasi yang bisa disebutkan di sini adalah mereka (1) berpikir rasional seperti Barat, dalam pengertian rasio ekonomis dan instrumental, sehingga (2) berorientasi pada capaian di tingkat masyarakat dan negara, tetapi melupakan individu. Meski demikian, beliau menyebut bahwa mereka (1) tidak memisahkan diri dari sumber utama ilmu-ilmu Islam, bahkan (2) berjasa membangkitkan kesadaran keberislaman di tengah masyarakat. Pembahasan lebih jauh dari tiap-tiap butir di atas tentu menarik untuk dibicarakan, tetapi akan sangat panjang. Skripsi saya yang disiapkan untuk terbit menjadi buku membahas itu (nanti beli, ya! Hehehe…). Intinya, untuk melampaui keadaan yang dikritik Al-Attas itu, kita harus mengutamakan perbaikan individu baik secara keilmuan maupun amalan, sebab hanya dengan demikian perbaikan masyarakat dan negara.

Dengan ilmu yang benar, kita akan mampu mengenali mana persoalan utama dan mana pesoalan runcitan, lalu menempatkannya pada tempat yang benar. Orang-orang yang sudah mampu berbuat seperti itu biasanya lebih santai secara batin dan bijaksana dan adil dalam menyikapi persoalan. Keramaian yang terjadi di antara sesama umat Islam jangan-jangan karena ideologisasi tersebut sudah terlalu membatu dan menjadikan kita berkepala batu. Kalau sudah demikian, selain terus belajar dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, kita mesti banyak-banyak meminta hidayah pada Allah, seperti Deddy yang baru memperolehnya dan kini dalam keadaan kembali ke fitrah.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *