Santri Cendekia
al-attas
Home » Dewesternisasi Ilmu; Upaya Al-Attas Mengobati Kanker Epistemologis

Dewesternisasi Ilmu; Upaya Al-Attas Mengobati Kanker Epistemologis

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Iftitah 

Ketika Aminah Wadud seorang aktivis feminis muslimah dari Amerika membuat aksi heboh dengan menjadi khatib sekaligus imam shalat Jumat dengan jamaah bercampur baur tanpa hijab pembatas, sontak dunia Islam geger, beragam komentar bermunculan, ada yang mencaci, ada yang memuji, ada yang menganggap ngawur ada yang menganggapnya sebagai suatu terobosan besar. Syahdan, seorang kolumnis yang ikut berkomentar menulis di sebuah harian nasional, “Di dunia ini tidak ada kebenaran absolut, yang kita tahu hanyalah kebenaran dengan “k” kecil.” Dengan pernyataannya itu, sang kolumnis hendak mengajak orang-orang untuk tidak menghakimi perbuatan Aminah sebagai salah, karena kita tidak pernah tahu apa kebenran dengan “K” besar itu. Oleh Dr. Syamsuddin Arif, sang kolumnis “didiagnosa” menderita penyakit kanker epistemologis yang termasuk akut .  Kanker epistemologis adalah penyakit intelektual yang cukup berbahya dan belakangan semakin luas tersebar di dunia Islam tak terkecuali di Indonesia. Penyakit ini bisa menjangkiti siapa saja, mulai dari seorang mahasiswa tingkat awal hingga para guru besar di perguruan-perguruan tinggi Islam bisa terjangkiti.

Lebih lanjut Dr. Syamsuddin Arif yang merupakan murid al-Attas di ISTAC itu memaparkan beberapa tanda terjangkitnya virus kanker epistemologis ini pada seseorang. Tanda pertama adalah sikap skeptic berlebihan, sehingga masalah-masalah yang telah qat’i di dalam agama   pun masih terbuka untuk diperdebatkan menurut mereka. Jika sudah parah, mereka tidak lagi hanya meragukan kebenaran sesuatu, melainkan sudah beranggapan bahwa manusia hanya bisa mendekati kebenaran dan tidak akan pernah sampai kepadanya . Selanjutnya, mereka yang terjangkiti kanker ini akan menjadi seorng relativis ekstrim. Sebagai konsekuansi dari epistemology relativistic seperti itu, semua orang, agama, sekte, kepercayaan dan lain sebagainya semuanya benar. Pandangan semacam ini pada giliranya akan menimbulkan pluralism agama. Gejala lain dari pengidap kanker epistemology  menurut Syamsul Arif adalah kekacauan ilmu (cognitive confussion) karena garis demerkasi antara yang haq dengan yang bathil tidak lagi jelas, keduanya bahkan dicampur adukkan .

Gaya berfikir seperti disamapikan sekilas tadi adalah realitas di tubuh ummat. Beberapa cendekiawan Islam berusaha mencari penyebab dari penyakit kanker epistemology ini, salah satunya adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas. Menurut penilaian al-Attas, semua itu terjadi karena ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini sangat sarat dengan muatan budaya Barat, sehingga pandangan dunia (wordlview) yang digunakan adalah pandangan dunia Barat. Bukannya mau bersikap anti-Barat atau menolak segala sesuatu yang berbau Barat, tetapi pengalaman historis dan percampuran berbagai corak pemikiran yang kemudian membentuk cara Barat melihat dunia ini memang tidak cocok diterapkan di dunia Islam, bahkan mungkin dunia seluruhnya, karena telah terbukti hanya membawa kerusakan. Dampak destruktif terbesar dari worldview Barat terhadap ilmu adalah pemalingannya –sengaja maupun tidak- dari tujuan awalnya yang mulia yakni untuk keadilan dan perdamaian menjadi kezhaliman dan kekacauan.

Al-Attas melandaskan proyeknya pertama-tama pada kenyataan bahwa ilmu itu tidak bebas nilai melainkan sarat nilai atau value laden. Niali tersebut meresap dan merasuk ke dalam ilmu melalui caranya dipahami, Nailai-nilai tersebut menyamar sebagai ilmu. Tapi pada hakikatnya, jika diamati secara keseluruhan, ia bukanlah ilmu melainkan hanyalah – dalam bahasa al-Attas- tafsiran-tafsiran melalui prisma pandangan alam (worldview) . Bisa dikatakan bahwa nilai tersebut menyusup melalui landasan filsafati suatu ilmu, ontology, epistemology atau aksiologinya. Landasan tersebut sangat dipengaruhi oleh apa yang dibahasakan al-Attas sebagai “Suatu  pandangan intelektual dan persepsi psikologis dari peradaban yang memainkan peran kunci dalam perumusan dan penyebarannya (ilmu) saat ini” .

Baca juga:  Tinjauan Alternatif Kritis Terhadap Nomenklatur Jawa Islam Menurut Nancy K. Florida

Corak Budaya Barat di Dalam Filsafat Ilmu

Jika kita bermaksud membersihkan ilmu dari polusi-polusi peradaban Barat yang merusak, maka pertanyaan yang muncul tentu saja adalah nilai yang mana yang merusak itu, dan mengapa ia bisa berdampak destruktif seperti itu.? . Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu al-Attas mengurai komposis dari  “gado-gado”  peradaban Barat. Peradaban Barat yang dimaksudkan oleh al-Attas adalah suatu peradaban yang berkembang dari percampuran historis dari berbagai kebudayaan, filsafat, nilai dan aspirasi dari Yunani dan Romawi kuno. Belakangan unsur nilai agama Yahudi dan Kristen juga masuk setelah kedua agama ini, terutama Kristen, diterima secara luas di Eropa. Percampuran dan pembentukannya lebih lanjut dilakoni oleh orang-orang Latin, Gemanik, Celtik, dan Nordik sehingga nilai-nilai dari bangsa-bangsa tersebut juga terserap masuk .

Dari Yunai kuno diserap unsur-unsur filosofis, epistemologis, dasar-dasar pendidikan, dan etika serta estetika. Romawi kuno menyumbangkan unsur hukum, ketata negaraan, dan pemerintahan. Agama Yahudi dan Kristen tentu saja mempengaruhi corak keberagamaan, selanjutnya orang-orang Germanik, Nordik, Latin dan Celtik seperti telah disebutkan di atas, juga memberikan pengaruh nilai, yakni nilai-nilai kemerdekaan, semangat kebangsaan dan nilai-nilai tradisi mereka. Mereka juga telah ambil bagian dalam pengembangan ilmu sains alam tabii, fisika, dan teknologi. Sebenarnya peradaban Islam juga membrikan pengaruh kepada peradaban Barat dalam hal rasionalitas dan saintifik, tetapi pengaruh tersebut, kata al-Attas, telah ditata kembali agar sesuai dengan acuan kebudayaan Barat.

Di dalam kajian epistemology, sumber ilmu adalah salah satu poin yang krusial. Ciri khas pertama dan mungkin utama dari keilmuan Barat adalah sumber ilmunya yang hanya terbatas pada akal dan panca-indra . Jika dicermati semua aliran epistemology yang bergulat di alam pikiran Barat baik itu rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relatifisme, ateisme, agnotisme, eksistensialisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, , sosialisme, kapitalisme dan isme-isme lainnya semuanya tidak terlepas dari landasan bahwa sumber ilmu kalau bukan akal pastilah panca-indra.  Cara berpikir seperti ini bisa kita katakan sebagai epistemology sekuler, dimana wahyu tidak mendapatkan peranan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Padahal di dalam Islam, kedudukan wahyu sebagai sumber ilmu sangat kokoh, wahyu adalah otoritas tertinggi di dalam menentukan kebenaran. Penolakan terhadap otoritas wahyu dan keyakinan keagamaan apapun dalam menentukan kebenaran didapatkan kebudayaan Barat dari pengalaman traumatic mereka dari masa-masa dark age ketika gereja mengekang para ilmuwan dengan doktrin dan ancaman berat. Siapa yang tidak tahu kisah pilu tragedy Galileo dan Copernicus?.

Berpaling dari wahyu, Barat mempersenjatai akal dan indranya dengan tradisi kebudayaan yang diperkuat oleh dasar-dasar filosofis . Dari uraian al-Attas tentang dasar-dasar filosofis tersebut, dapat kita tarik kesimpulan mengenai ciri khasnya. Dasar filosofis itu berangkat dari dugaan spekulatif yang hanya berkaitan dengan kehidupan sekuler materialistis semata sehingga hal-hal ghaib tentu saja tidak dianggap ada. Filsafat ilmu Barat bahkan telah mengangkat dugaan dan keraguan sebagai sarana epistemologis yang paling tepat untuk mencapai kebenaran . Ciri lainnya adalah antrhoposentrisme atau keberpusatan pada diri manusia sebagai “diri jasmani dan hewan rasional”, sehingga ketika hendak mencari kepastian kebenaran, Rene Descartes memulainya dengan kepastian akan kebenaran diri sendiri, Cogito Ergo Sum. Karena bagi Descartes, satu-satunya kebenaran yang tidak mungkin diragukan adalah kebenaran diri sendiri, menurut Amin Abdullah, hal itu bahkan menjadi ciri utama filsafatnya .  Dan sudah dimaklumi bersama bahwa Descartes adalah salah satu “Imam” filsafat Barat.

Baca juga:  Perkembangan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Respon Cendekiawan Islam (1)

Sebagai kelanjutan dari pengagungan berlebih pada eksistensi manusia, maka doktrin humanisme menjadi sebuah doktrin yang sangat dijunjung. “Disembahnya dewi HAM” adalah salah satu contoh implementasi nyata dari hal ini.  Konsekuansi lainnya adalah pemberian porsi yang sangat besar bagi rasionalitas atau akal manusia sebagai pembimbing hidup dan diyakini sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu menyingkap rahasia alam dan kaitannya dengan ekisistensi manusia. Al-Attas juga menyebutkan bahwa Barat telah menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominant dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Barat juga bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran, akibatnya, peradaban Barat menderita semacam tekanan batin yang mendorongnya untuk terus mencari tanpa pernah menemukan kebenaran itu sendir, ibarat seorang yang meminum ait garam, semakin diminum semakin haus .  Kebenaran agama yang asasi di dalam pandangan alam seperti itu dianggap sebagai teori semata atau ditolak terus sebagai “bayangan yang tidak berguna”. Nilai yang mutlak ditolak sedangkan nilai relative dipegang teguh. Tidak ada yang pasti kecuali kepastian bahwa tidak ada yang pasti menjadi semacam kredo.

Dampak jelas dari semua ini adalah tidak adanya pegangan yang pasti sebagaiman kepastian yang didapatkan dari otoritas wahyu, sehingga moral, etika dan seluruh pandangan alamnya senantiasa berubah dan ditinjau ulang. Dus, skeptisisme berlebih, relativisme akut, kebingungan ilmu yang oleh Syammsuddin Arif disebut kanker epistemologis adalah penyakit yang timbul dari worldview Barat yang telah menyusup kedalam ilmu dan diadopsi tanpa daya kritis oleh sebagian cendekiawan Islam.  Akibat terburuknya adalah pengingkaran terhadap Allah dan Hari Akhirat, juga ilmu menjadi antagonis bagi agama seperti yang dengan apik digambarkan oleh Dan Brown di dalam novelnya Angel and The Demon.

Dewesternisasi Ilmu Sebagai Langkah Awal  Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Proyek besar dari Syed Naquib al-Attas sebenarnya adalah Islamization of Knowledge, beliau bersama koleganya dari Palestina Dr. Islamil Raji al-Faruqi telah mengusung gagasan ini sejak tahun 70-an sebagai solusi bagi kemunduran multi dimensi yang diderita ummat Islam. Upaya membersihkan ilmu pengetahuan dari susupan nilai-nilai hidup Barat yang berdampak destruktif sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya adalah langkah awal untuk proyek Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Langkah ini dapat kita sebut dewesternisasi ilmu pengetahuan, yang bermakna sterilisasi ilmu pengatahuan dari pengaruh worldview Barat.

Islamisasi Ilmu  Pengetahuan merupaka sebuah konsep yang luas, tidak mungkin untuk disampaikan secara keseluruhan di sini, sehingga kami hanya akan membahas dewesternisasi yang merupakan langkah awal bagi Islamisasi. Karena tanpa membersihkan nilai-nilai Barat yang sudah terlanjur tertanam di dalamnya, upaya untuk memadukan nilai-nilai Islami dengan ilmu pengetahuan akan sia-sia. Bagi al-Attas, ilmu yang kini secara sistematik disebarkan ke seluruh dunia bukanlah ilmu yang sejati, tetapi telah dipenuhi oleh watak dan kepribadian kebudayaan Barat, dipenuhi dengan semangatnya dan disesuaikan dengan tujuannya. Unsur-unsur itulah yang harus dikenali, dipisahkan, dan diasingkan dari tubuh ilmu pengetahuan . Hal ini penting karena tidak semua nilai Barat harus dihilangkan, tetapi hanya yang bersifat destruktif .  Unsur-unsur tersebut bukanlah ilmu itu sendiri tetapi ia menentukan bentuk khusus bagi memahami, menilai, dan menafsirkan ilmu tersebut agar sesuai dengan pandangan alam peradaban Barat.

Unsur-unsur destruktif dan bertentangan dengan pandangan alam Islam yang harus diisolir dari ilmu pengetahuan mencakup konsep-konsep kunci yang sebagiannya telah disbutkan tadi. Dewesternisasi juga mencakup konsep-konsep kunci lainnya baik itu di dalam ranah epistemologis, ontologis maupun aksiologis. Isolasi tersebut dilakukan pada dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun, ilmu-ilmu alam, fisika dan aplikasi harus diislamkan juga khususnya dalam penafsiran-penafsiran akan fakta-fakta dan dalam formulasi teori-teori.

Baca juga:  Eyang Subur dan Unlimited Poligami

Di dalam Prolegomena to The Metaphysic of Islam, al-Attas menyebtukan bahwa unsur-unsur dekstruktif yang bertentangan dengan pandangan alam Islam di dalam ilmu pengtahuan modern harus dicari di dalam  metode-metode ilmu modern ;berbagai konsep, perandaian, dan simbolnya ; aspek-aspek empiris dan rasionalnya, dan yang berkenaan dengan  nilain dan etika ; tafsirannya mengenai eksistensi dunia eksternal, keseragaman sifat alam, dan rasionalitas proses-proses alamiah ; teorinya mengenai alam semesta ; klasifikasi ilmunya ; batasan dan saling-hubungan antara satu ilmu dengan lainnya dan relasi sosialnya.  Dengan dibersihkannya pandangan alam Barat dari hal-hal tersebut, diharapkan ilmu pengetahuan akan menjadi ilmu yang sejati, lalu nilai-nilai Islam kemudian disuntikan sebagai substitusi bagi nilai-nilai Barat pada konsep-konsep kunci filsafat ilmu pengetahuan. Proses yang disebutkan terakhir itulah yang disebut Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Sampai di sini mungkin akan muncul pertanyaan ; bukankah jika seperti itu ilmu yang ada kembali menjadi ilmu yang sarat nilai yakni nilai-nilai Islam?. Bukankah ini hanya perpindahan “kaca mata” saja dalam menafsirkan dan memahami ilmu, di dalam epistemologinya, lalu bagaimana memperoleh ilmu yang sejati?. Untuk pertanyaan semacam ini, di akhir uraian pembukanya bagi wacana dewesternisasi ilmu di dalam Islam dan Sekularisme-nya, al-Attas mengajukan jawaban yang bernas, beluah menganggap worldview Islam adalah pandangan alternatif bagi worldview Barat yang destruktif, maka beliau menjawab  ; Jika melalui penafsiran alternatif tersebut manusia mengetahui hakikat dirinya serta tujuan sejati hidunya, dan dengan mengetahui itu ia mencapai kebahagiaan, maka ilmu tersebut merupakan ilmu sejati. Meskipun ilmu tersebut dipengaruhi oleh unsur-unsur tertentu yang menentukan bentuk khusus, serta diniai, dipahami, dan ditafsirkan sesuai dan sejalan dengan pandangan alam (worldview) tertentu

Penutup 

Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan dengan langkah awal dewesternisasi yang ditawarkan al-Attas sebagai ikhtiar untuk mengobati kanker epistemologis ini adalah sebuah gagasan yang brilian dan patut diperjuangkan. Akan tetapi mewujdukan semuanya tentu saja bukanlah hal yang mudah, persyaratan mutlak yang harus dimiliki adalah penguasaan terhadap khazanah kelimuan Islam sekaligus pernbendaharaan ilmu Barat.  Mungkin satu langkah nyata dan pasti yang bisa dilakukan oleh generasi muda Islam, seperti yang pernah dinasehatlan Buya Natsir ; banggalah akan ajaran Islam dan jangan merasa inferior di depan kemajuan Barat, apa lagi sampai menjadi pengekor taklid.

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin,  Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, cet II, 2010.

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam dan Sekularisme terj dari Bahasa Inggris oleh Khalif Muhammad, Bandung : Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, 2011.

Arif,  Syamsuddin, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta : Gema Insani Press, 2008

Armas, Adnin,“Dewesternisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan,” http://insistnet.com/index.php?option=com_filecabinet&task=download&cid%5B%56 akses 16 Maret 2012

Aunullah, Idi “Dewesternisasi dan Islamisasi ; al-Attas dan Filsafat Ilmu Islam”, http://www.scribd.com/doc/19222051/Dewesternisasi-Dan-Islamisasi-Al-Attas-Dan-Filsafat-Ilmu-Islam, akses 16 April 2012.

 Catatan ; maaf jika ini banyak “asumsi” yang “syadz”, atau penggunaan istilah2 yang kurang tepat. Saya juga baru pertama kali menulis ginian

 

Avatar photo

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar