Santri Cendekia
Home » Di Kavling Masing – Masing

Di Kavling Masing – Masing

 

Ada dua hal yang mejadi titik tolak bagi penulis dalam menyajikan kisah ini. Yang pertama, adalah fenomena “Sari Roti Gratis”. Yang kedua, adalah orasi AA Gym tentang berjuang “Di Kavling masing-masing”.

Fenomena 212 pada hari ini, harusnya membuka mata kita lebar-lebar. Di dalam jalan perjuangan, semua orang bisa mendapatkan “posisi penting” masing-masing. Kita melihat hampir semua muslimin dari berbagai latar belakang dan keahlian, berusaha memberikan apa yang mereka bisa di sini. Dari mulai memberikan roti gratis hingga memberikan pijat gratis, MasyaAllah! Semua berusaha memberikan yang terbaik dari apa yang mereka punya. Dari mereka yang “rakyat kecil” inilah kita wajib mengambil pelajaran dalam-dalam. Tidak boleh ada sedikitpun diantara kita yang merasa paling penting dalam sebuah jama’ah perjuangan. Semua penting di waktu dan panggungnya masing-masing. Anggaplah kita seorang ahli filsafat islam, ilmu kita tinggi dan tidak sedikit umat yang selamat dari pemikiran sesat karena kita sebagai perantara Allah. Tapi ternyata, di kondisi yang penuh keletihan dan kelaparan seperti hari ini, keberadaan tukang roti yang ilmunya jauh di bawah kita, lebih bisa menyelamatkan umat ketika diantara mereka mungkin hampir terkapar lemas karena rasa lapar yang menusuk. Atau anggaplah kita seorang korlap yang begitu mahir mengatur ribuan orang. Namun ternyata, ketika otot-otot kita mulai mengalami keram dan sulit bergerak, sedang kondisi ribuan orang yang kita pegang terancam berantakan, maka saat itu “pemegang panji” harus berpindah kepada tim ahli pijat untuk “mengaktifkan” kita lagi. Di saat kita mendapatkan tugas sebagai tim jurnalis yang bertugas untuk mengupdate setiap kabar aktual di TKP agar isu tidak segera dimanipulasi oleh media-media fasiq, lalu semua gadget kita mengalami “low batt” dan terancam tidak bisa mengupdate kabar aktual di lapangan, saat itu lah tim “colokan” yang menjadi penyelamat semua kekacauan yang akan terjadi. Ingat, semua punya panggungnya masing-masing. Bukan tugas kita memberi label dan nilai dari pekerjaan saudara seiman di jalan Allah. Tugas kita hanya berusaha yang terbaik di bidang kita dan memberi support yang kita mampu terhadap saudara-saudara kita. Tidak sedikit masih banyak aksi saling nyinyir terjadi di antara kita, “ah kok demo sih, gak elegan”, “ah harusnya dimulai dari aqidah dulu”, “ah harusnya dimulai dari khilafah dulu”, “ah harusnya islamisasi sains dulu”. “ah harusnya dakwah personal dulu”, “ah harusnya lewat politik dulu”, dan nyinyir-nyinyir lainnya. Bro, sumpah bro, gak capek? Mari kia rendahkan hati kita, buka mata kita, lapangkan hati kita. Lihat Sahabat-sahabat Rasul, mereka saling melengkapi dengan karakter dan latar belakang masing-masing. Rasul bahkan tidak pernah berkata kepada Abu Bakar, “Abu bakar, kamu terlalu lembut, jadilah seperti Umar”, Atau Rasul tidak pernah berkata kepada Umar, “Umar, islam tidak bisa dengan kekerasan, kita cinta damai. Lembutlah seperti Abu bakar”. Rasul menerima keberadaan keduanya dengan terus membimbing mereka karena memang keberadaan kedua manusia mulia ini dibutuhkan oleh islam setelah Rasul tiada. Jadi jangan merasa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang paling cocok untuk kejayaan islam. Yang lembut dibutuhkan bagi umat yang butuh sosok pengayom. Yang keras dibutuhkan oleh umat untuk menghadapi kezaliman yang keras. Yang cerdas dibutuhkan untuk menganalisa situasi. Yang simpel, dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Yang akademisi dibutuhkan untuk mendidik para pelajar. Yang dai jalanan dibutuhkan untuk menyelamatkan mereka yang merasa putus asa dengan hidup. Yang tampil dibutuhkan untuk simbol perjuangan. Yang di belakang layar juga dibutuhkan untuk melihat kondisi secara utuh, MasyaAllah semua penting!!

Baca juga:  Pikiran yang Berganti Kiblat

Jika kata AA Gym, “semua punya kavling masing-masing, tidak sudah ingin menonjol semua!”. Jangan sampai penyakit hati merusak perjalanan dakwah kita ini. Mari kita belajar kepada tukang roti, tukang pijat, dan tukang colokan ini. Tulisan ini khususnya saya tujukan kepada ormas-ormas ataupun harakah-harakah yang ada di indonesia ini. Sudahlah yang masih suka ribut, kita ini lebih banyak samanya daripada bedanya. Penulis yakin, setiap ormas dan harakah pasti punya kelebihan dan kekurangan, punya spesialisasi masing-masing. Harusnya jika kita mau bersatu, kita bisa melipat gandakan kelebihan kita dan saling menutupi kekurangan kita. Ada yang hebat di soal pendidikan, tapi lemah soal politik. Ada yang hebat soal organisir masa, tapi lemah soal kaderisasi. Ada yang hebat soal konsep, tapi lemah soal implementasi. Ada yang hebat soal amar ma’ruf, tapi lemah soal nahi mungkar. Sudahlah kita akui saja, kita ini lemah! Dan kita butuh pundak saudara-saudara kita! Allahu akbar! Tidak perlu lagi kita berlomba untuk menonjolkan bahwa gerakan dakwah kita yang paling dibutuhkan umat. Semua penting, dan semua punya harus berjuang..

“DI KAVLING MASING-MASING”

 

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar