Santri Cendekia
Home » Dialog Ayu Utami dan Naquib al-Attas Tentang Sekulerime dan Kerusakan Alam

Dialog Ayu Utami dan Naquib al-Attas Tentang Sekulerime dan Kerusakan Alam

Ada benang benang merah tipis yang samar menjalin pilin di dalam kepalaku. Ternyata urutanku membaca al-Attas trus Ayu Utami ada hikmahnya juga.  Keduanya ternyata bertemu di dalam salah satu kerak otakku, dan sambil makan tempe bongkrek mereka terlibat curhat-curhatan aneh. Ayu Utami yang lebih muda dan bersemangat menggebu-gebu menuntut, mempertanyakan banyak hal, lalu al-Attas sang guru nan bijak bestari memberikan jawabannya.  Yeah, sebuah diskusi aneh yang melibatkan Nyi Roro Kidul, Freeport, perusakan alam, tauhid, sekularisasi dan sekularisme.
ini orangnya
Mari mulai dengan novel Bilangan Fu. Sudah baca Bilangan Fu? Hehe, aku tahu, akulah yang ketinggalan. Novel keren karya novelis beken.  Terbit Juni 2008 dan cetak ulang berkali-kali. Buah pena Ayu Utami, novelis yang suka misuh-misuh  puitis pada militrsme itu.
Di dalam Bilangan Fu, sangat terasa bahwa teh Ayu (sok akrab hehe) sungguh geram dengan perusakan alam oleh manusia-manusia rakus. Rakus menurutnya pastilah seakar dengan kata rusak, raksasa, dengan bunyi dasar “RSKRSK” yang kedengrannya saja sudah bikin ill feel.
Ia amat sinis pada jalan pikir dan tindak tanduk manusia modern yang merasa telah maju, meremehkan nilai nilai kuna sbagai takhayul tak masuk akal. Karna akal manusia modern yang telah dipolusi omong kosong TV adalah : yang menguntungkan (terutama finansial) adalah baik, tak menguntungkan atau malah merugikan adalah buruk. Dan itulah pangkal kerakusan yang kelak berbuah kerusakan.
Ia tampaknya terkagum kagum pada cara orang orang Jawa kuno pra-Islam bahkan Hindu melihat alam. Dimana setiap hutan, telaga, samudra, pohon, mata air, pegunungan kuarsa, dan lainnya memiliki penunggu. Sebutlah Nyi Rara Kidul, dkk. Dengan begitu, manusia manusia Jawa kuna itu menghormati alam. Tiap masuk hutan saja pake “kulo nuwun”, orang orang semacam itu mustahil melakoni illegal loging yang terkutuk. Jika semua orang percaya bahwa segara kidul adalah milik Sang Nyi Roro Kidul permaisuri ghaib setiap raja Majapahit hingga Mataram Islam (bahkan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat), maka siapa yang berani mengebom ikan, merusak terumbu karang?. Namun lihatlah kini!. Hasil modernisasi abal-abal adalah eksploitasi tak berperasaan pada alam, pada ibu kita (ohya seprtinya dia bangga sekali jadi perempuan hehe).
Sampai di sini saya oke oke saja. Tapi ada yang aneh, entah  perasaan saya sendiri atau Ia memang berpikir begitu, bahwa salah satu yang perlu dikritisi (katakanlah disalahkan) adalah orang-orang yang menafikan kepercayaan-kepercayaan tadi dengan alasan musyrik. Itu tercium dari kehadiran tokoh bernama Kupukupu, seorang pemuda puritan garis keras yang menentang dengan kasar  ritual ritual sesajenan untuk menghormati kaum lelembut di kampungnya sendiri.
Olala. Maaf-maaf saja teh Ayu, ketahuilah.. mempercayai bahwa memang ada jin-jin yang menghuni bumi slain manusia (entah ia bernama Nyi Roro Kidul, Wewe Gombel atau apalah..) bukanlah musyrik. Namun, menghormati mereka dengan sesajen, dan serangkaian ritual khusus tak diragukan lagi adalah musyrik yang sama bahkan lebih terkutuk dari ilegal logging atau penambangan gila ala FreePort. Meski gaya si Kupukupu juga tidaklah bijak.
Bahwa manusia modern jadi sinting dan memperlakukan alam dengan ngawur ancur ancuran itu aku juga berpikir sama. Dan tingkah dungu itu karna mereka tidak lagi memandang alam seperti nenek moyang kita dulu memandangnya, yaahh… Sepertinya memang begitu. Tapi menyamakan pandangan mereka  terhadap alam dengan  pandangan muslim anti-TBC pada khurafat animis sebagai biang kerok pelecehan alam?… Weittss tunggu dulu..
Meski sepintas agak mirip, tapi ia beda jauh. Yang pertama adalah produk dari sekulerisasi cara pandang dan modernisasi abal-abal, yang kedua adalah buah manis Islamisasi bernama Tauhid. Implikasi keduanya berbeda, meskipun sama sama hendak “membebaskan” manusia dari pandangan “jahiliyah” kepada alam tabi’i/nature.
buku apik
Disinilah, lamat-lamat kalimat kalimat Syed Naquib al-Attas muncul dari tumpukan memoriku. Ulama melayu yang dipuji Fadzlur Rahman sebagai the genius  ini menjelaskan dalam bukunya Islam and Secularism sesuatu yang disebut “Disenchantment of Nature yang artinya pelucutan nilai spritual dari alam tabi’i/nature. Jadi dalam proses sekulerisasi, alam tidak boleh lagi dipandang memiliki khasiat gaib, memiliki daya magis. Alam harus dilihat sebagai “hanya alam” tidak ada apa-apa dibaliknya.
Buku itu terbitan 1978, pada dekade ketika proyek Islamisasi Ilmu ramai diperbincangkan. Al-Attas adalah salah satu panglima islamisasi Ilmu. Mungkin sabagai bagian dari perang pemikran vs anak-anak Utan Kayu dan yang sejnisnya, buku itu kembali cetak ulang akhir 2011. (kebetulan yang asyik, karena Ayu Utami juga kerap main ke Utan Kayu—menurut kabar burung garuda pancasila—hehe )
Berpetuahlah sang Syed, bahwa Sekularisasi Barat bertumpu pada empat tiang, salah satunya adalah “Disenchantment of Nature” itu. Tujuannya adalah melenyapkan nilai-nilai spritual yang diimani manusia dalam pandangan mereka terhadap alam nature. Dengan begitu, sekularisasi menghendaki agar pandangan bahwa ada kaum halus dewa-dewi yang menguasai alam ini harus dienyahkan karna ia hanyalah cara pandang kekanak-kanakan warisan Homo Erectus Palaeo Javanicus, Homo Neanderthal, Homo Wajakensis dan sebangsanya. Natijahnya adalah manusia bebas memanfaatkan alam sesuka suka dia, dengan buas sampai puas. 
Modernisasi pola pikir dan sekulerisasi pandangan hidup demikian, akan menghasilkan manusia-manusia yang mereduksi alam menjadi sekedar “sumber daya” untuk “pembangunan” Bahkan jika orang-orang ini melakukan konservasi, mereka melakukannya karena takut dan kapok kena banjir dan longsor. Bukan karean hormat pada hutan, dan ibu bumi. 
 Pandangan seperti inilah yang kini merajai bumi. Yaah…gimana lagi cuy, mereka super power. Mereka pemilik modal (kapital). Maka hancurlah bumi dikangkangi industri kapitalis sinting. Meranalah para lelembut penunggu hutan, dan gerahlah Ayu Utami.
Apa bedanya dengan tauhid? Hehe, yabedalah. Islam juga menyuruh manusia meninggalkan pandangn demikian. Jika kau bukan muslim, silakan saja. Namun begitu kau bersyahadat maka tinggalkan takutmu pada Nyi Roro Kidul dan Wewe Gombel, tinggalkan sesajenan dan segala selamatan tak berdasar. Serahkan dirimu pada Allah semata.
Lalu alam? Tidak ada lagi dong sistem nilai luhur yang menjaganya dari sifat rakus manusia?. Owhh… Tidak begitu, menurut al-Attas, Islam bahkan mengangkat derajat alam di mata manusia melalui proses Islamisasi. Menurut al-Attas, Islamisasi adalah pembebasan akal dan bahasa manusia dari kuasa magis, juga sekaligus belenggu sekulerisme. 
Dengan demikian, melalui Islamisasi pandangan alam (worldview), persepsi manusia terhadap alam akan berubah dari sekedar hamparan benda mati dan mahluk hidup tak berakal, atau sekedar kerajaan dedemit menjadi sebuah kitab yang terbuka, ayat-ayat Allah yang siap dibaca dan dipelajari manusia. (lihat al-Qur’an; 2:164, 40:81, 45:5, 29:50, dan 18:17).  Jadi, lebih dari sekedar menghormati dan tidak merusaknya, manusia bahkan harus mempelajarnya dan mengenal Allah melaluinya. 
Yup, Begitulah, meski nilai sastranya ruar biasa super sekali, tapi Bilangan Fu dan Ayu Utami perlu dibaca dengan kritis (apalagi ia punya kecendrungan menganggap biasa sex pra-nikah, tokoh-tokohnya baru pacaran tapi sudah seperti suami istri). Dan yeaah, Syed Naquib al-Attas memberiku jawaban yang pas untuk kritikan Ayu Utami
Baca juga:  Syaikh Ahmad Thayib: Hati-hati Dengan Bahaya Syiah

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar