Santri Cendekia

Mushalla Perempuan; Marginalisasi atau Liberasi?

Kemarin, hari senin tanggal 13 April 2020, saya berkesempatan menghadiri ujian disertasi yang diadakan secara daring di jurusan tempat saya studi. Yang diuji namanya Mbak Bethanny Jenner.

Disertasinya meneliti tentang dua mushalla Aisyiyah di Jogjakarta: satu di Kauman dan satu di Karangkajen, dan membandingkannya dengan masjid khusus perempuan di kota Los Angelos California, USA. Bethanny menggabungkan antara penelitian ๐˜จ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฅ dan etnografi untuk risetnya ini. Ia melakukan penelitian lapangan di Jogjakarta sejak tahun 2013, ketika ia pertama kali mulai belajar Bahasa Indonesia, dan sejak tahun 2015 untuk masjid di Los Angeles.

Riset Bethanny menurut saya sangat menarik. Saya belajar banyak hal dari risetnya. Fenomena yang tampaknya biasa dari sudut pandang kita orang Indonesia, bisa dijelaskan lebih hidup ketika dikaitkan dengan teori-teori sosial humaniora kontemporer. Bethany juga berhasil menunjukkan bagaimana fenomena partikular bisa memberi kontribusi teoretis untuk berbagai disiplin ilmu: ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜จ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜บ, ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ด, dan ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ด.

Bethanny menyebut bahwa di dunia Islam keberadaan mushalla khusus perempuan sangat jarang. Untuk itu, gerakan lokal Aisyiyah di tingkat Ranting Kauman dan Karangkajen layak mendapatkan kredit untuk kepeloporan di bidang ini. Mushalla Aisyiyah di dua kampung di Jogja ini sudah berdiri sejak seratus tahun yang lalu. Sementara masjid khusus perempuan di Los Angeles baru berdiri sejak tahun 2015. Itupun hanya berkegiatan sebulan sekali.

Pertanyaan yang diajukan Bethany dalam disertasinya adalah: Bagaimana segregrasi (pemisahan) gender di masjid membawa dampak tertentu bagi perempuan? Adakah dimensi marginalisasi dari praktek ini? Ataukah justru ada dimensi ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ (pembebasan), ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ (perlawanan), dan ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต (penguatan) komunitas di dalamnya? Apakah segregasi di rumah ibadah bermakna perempuan terisolasi dari pergaulan sosial?

Baca juga:  Perempuan Haid Boleh Puasa?

Bethanny menyebut bahwa keberadaan mushalla perempuan, baik di Jogja maupun di Los Angeles, memiliki potensi untuk menjawab beberapa asumsi liberal Barat tentang sejumlah hal. Selama ini, misalnya, ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฅ ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ค๐˜ฆ๐˜ด (ruang-ruang yang digenderkan) selalu dianggap sebagai ciptaan laki-laki dalam rangka mengontrol apa yang boleh dan tidak boleh diketahui oleh perempuan.

Jadi, dalam asumsi Barat ini, perempuan yang memiliki ruang sendiri, selalu dianggap tidak berdaya dan hanya obyek kaum laki-laki.

Kenyataannya, ternyata ada praktek di dunia Islam di mana perempuan melakukan segregasi secara sukarela. Implikasi dari segregasi sukarela ini, menurut Bethany, sangat sigfinikan, baik di bidang spiritual, kepemimpinan dan otoritas keagamaan, dan penguatan komunitas.

Riset Bethany ini dengan demikian menolak anggapan bahwa ruang yang digenderkan bersifat ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ (merugikan) sehingga harus dileburkan atau di-degenderisasi. Sebaliknya, ruang-ruang seperti ini menurutnya banyak memberi manfaat bagi perempuan yang tidak bisa didapatkan dari ruang-ruang ibadah tradisional di mana laki-laki dan perempuan digabungkan.

Beberapa Saran

Sebagai pendengar ujian disertasi, saya tentu saja tidak bisa memberi tanggapan atau komentar. Tapi pagi ini, saya berkesempatan menulis email ke Bethany. Selain ucapan selamat dan turut gembira atas keberhasilannya memperoleh gelar doktor, saya juga menyampaikan bรชberapa saran teknis.

Pertama, saya menyarankan buku ini diterbitkan dalam bahasa aslinya agar bisa dibaca oleh kalangan akademia di Barat. Karya ini penting mengingat kesarjanaan tentang Indonesia masih sangat jarang dalam bahasa Inggris. Karya ini juga hemat saya dapat menambah daftar studi yang menggunakan paradigma paska kolonial tentang perempuan.

Kedua, jika ia berniat menambahkan beberapa hal sebelum karyanya diterbitkan, saya juga mengusulkan agar ia membaca satu karya yang ditulis oleh aktivis sekaligus sarjana perempuan Muhammadiyah tentang isu gender di persyarikatan. Di satu sesi tanya jawab dengan supervisor, ia sempat ditanya apakah sempat bertemu dan mewawancarai Ibu Siti Ruhayni, seorang aktivis feminis Muhammadiyah.

Baca juga:  Buya Syafiโ€™i dan Kaidah Pokoknya dalam Berdialog

Ia jawab tidak sempat. Supervisor memaklumi mengingat Bu Ruhayni sekarang sibuk sekali, terutama sejak beliau menjadi penasehat presiden. Dalam email saya sebut bahwa Bu Ruhayni bukan sekedar aktivis, tetapi juga sarjana yang menghasilkan penelitian penting tentang topik yang ia kaji.

Ketiga, saya juga mengusulkan agar karya ini diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Saya yakin riset ini dapat memberi inspirasi dan mendorong lahirnya riset-riset berkualitas, baik di bidang gender studies, maupun ilmu sosial humaniora secara umum.

Mudah-mudahan Mbak Bethany sukses dengan rencana-rencana selanjutnya.

Muhamad Rofiq Muzakkir

Pengurus PCIM Amerika Serikat

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: