Santri Cendekia

Don’t Panic!: Klasifikasi Takut dalam Al-Qur’an

Oleh: Hatib Rahmawan*

Takut merupakan nikmat Tuhan yang diberikan kepada manusia. Rasa takut, sebagaimana dijelaskan Robert J Blanchard dalam bukunya Handbook Anxiety and Fear, adalah mekanisme pertahanan diri yang paling dasar.

Dengan rasa takut manusia dapat menghindarkan diri dari ancaman dan bahaya. Tidak memiliki rasa takut sama saja mengantarkan diri dalam bencana. Namun, rasa takut yang berlebihan justru malah menjadi faktor utama yang mematikan.

Oleh karena itu rasa takut harus dikelola dengan baik. Untuk mengelola rasa ini dibutuhkan sebuah pemahaman yang tepat. Mulai dari definisi, sebab, dan dampak yang diakibatkan. Salah dalam mengidentifikasi, menyebabkan solusi yang tidak tepat, bahkan sebaliknya menghantarkan pada masalah baru yang lebih pelik.

“Takut hanya kepada Allah, jangan takut kepada Covid-19. Takut kepada Covid-19 sama dengan musyrik”. Pernyataan tersebut merupakan contoh kegagalan mendefinisikan takut.

Selain mendangkalkan ilmu yang diberikan Tuhan, juga membawa pada bencana yang lebih besar.

Tulisan ini akan mengulas takut menurut Al-Qur’an. Mulai dari klasifikasi, sebab, hingga dampaknya. Selain menambah wawasan, semoga tulisan ini dapat memberikan jawaban terhadap kondisi saat ini.

Konsep Dasar Takut

Al-Qur’an melukiskan takut dalam banyak istilah. Paling tidak ada delapan kata yang digunakan untuk mendeskripsikan rasa takut. Delapan term tersebut adalah hadzar, khauf, khyasyatan, taujal, ru’ba, ruhban, fasyalan, dan rau’un. Masing-masing istilah tersebut menunjukkan sebab dan berat-ringannya ketakutan.

Peter Muris dalam Normal and Abnormal Fear and Anxiety in Children and Adolescents, memisahkan antara takut (fear) dan cemas (anxiety). Menurutnya, takut merupakan respons otomatis terhadap lingkungan sekitar (yang mengancam), bentuknya bisa bisa menghindar (flight) atau hadapi (fight). Sementara cemas merupakan ketegangan psikis (seperti khawatir, cemas, tertekan) yang dialami seseorang akibat rasa takut tersebut.

Takut disebabkan faktor dari luar diri yang membahayakan, sementara kecemasan terkadang muncul dengan sendirinya. Kecemasan lebih menitik beratkan pada kondisi psikis seseorang. Trauma dan phobia adalah bentuk kecemasan yang susah dijelaskan sebabnya. Meskipun kecemasan sebagian besar tetap dipengaruhi faktor eksternal.

Konsep Takut dalam Al-Qur’an

Dari delapan term tersebut, berdasarkan penyebab dan respons yang dihasilkan, dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Pertama, rasa takut karena ancaman eksternal berat seperti bencana alam dan peperangan yang dapat mengakibatkan kematian. Kondisi tersebut dalam bahasa Arab disebut al-mahdzuru. Takut dalam kondisi seperti itu disebut hadzar. Kata hadzara dalam Al-Qur’an berkaitan dengan mati (hadzarul maut) (Al-Baqarah (2): 19, 234). Pada kondisi tersebut respons yang dihasilkan adalah kepanikan.

Baca juga:  Kiat Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

Term di atas berasal dari kata hadzira-yahdzaru, yang artinya waspada, hati-hati, peringatan, dan kecemasan. Bunglon dalam bahasa Arab disebut dengan abuu hadzar. Bunglon berubah warna jika panik (dalam bahaya). Ayat-ayat yang menggunakan kata ini juga menunjukan kepanikan (Surah An-Nisa (4): 71).

Level ancaman yang lebih rendah disebut dengan khauf. Rasa takut seperti ini oleh para psikolog dinyatakan naluriah dan alamiah. Respons yang dihasilkan adalah tindakan rasional dan terukur, seperti menghindar (flight), atau jika mungkin dihadapi (fight).

Kata khauf berasal dari kata khaafa-yakhaafu artinya takut. Lawan dari kata khauf adalah al-Amni yang artinya aman karena tidak ada ancaman. Jika disebut baladan aaminan (A-Baqarah (2): 126), berarti menunjukan negeri tersebut bebas dari berbagai ancaman, baik ekonomi, politik, sosial, dan spiritualitas.

Jadi khauf merupakan bentuk pertahanan dasar manusia. Sumber penggeraknya adalah otak reptil manusia. Otak reptil ini fungsinya mendeteksi ancaman yang di depan mata. Sebagaimana layaknya reptil, jika mendapat ancaman pilihannya dua, bertahan (fight), jika tidak memungkinkan lari (flight).

Takut yang levelnya lebih rendah lagi  adalah aujal. Namun faktor tersebut tidak mengancam (membahayakan). Seperti sesuatu yang aneh, baru dilihat pertama kalinya, dan terjadi secara tiba-tiba. Oleh karena itu aujal lebih tepat jika dikatakan sebagai terkejut. Meskipun di dalam kamus Bahasa Arab diartikan dengan takut (Surah Al-Hijr (15): 52-53).

Kedua, rasa takut yang berdampak pada psikis (anxiety), mulai dari yang berat hingga yang ringan seperti panik, depresi, stress, cemas, dan khawatir. Sebenarnya rasa takut tidak hanya berdampak pada psikis, melainkan juga pada fisiologis yang ditandai dengan nafas tidak teratur (sesak), jantung berdetak dengan cepat, berkeringat, dan bulu kuduk merinding.

Kalau respons tiba-tiba yang menggerakkan otak reptil, tapi kalau kecemasan yang menggerakkan adalah otak limbik, demikian menurut Paul D. Maclean dalam teorinya triune brain. Ekspresi seperti itu di dalam Al-Qur’an disebut dengan—mulai dari yang berat hingga ringan—  ru’ba, ruhban, fasyalan, dan rau’un.

Sebagaimana dijelaskan di atas, takut pada bahaya besar yang menyebabkan kematian (hadzarul maut), dampak psikologisnya adalah kepanikan (panic). Al-Qur’an menggunakan istilah ru’ba untuk menggambarkan hal tersebut. Ada semacam teror mental yang menyebabkan ketakutan ini (Al-Ahzab (33): 26 dan Ali Imran (3): 151).

Asal katanya raba’a-yarba’u yang berarti berhenti dan menanti. Kata lain yang terkait ar-ra’bu maknanya jampi-jampi dan ancaman. Jika dihubungkan dengan ayat di atas, maka yang diserang adalah psikis (kejiwaan). Dalam konteks ayat menjadi teror mental.

Baca juga:  Dua Surah Pelindung Diri; Tadabbur an-Nas dan al-Falaq (1)

Reaksi yang diakibatkan ru’ba sangat buruk. Dapat menimbulkan anarkisme, jika kepanikan tersebut bersifat massal, juga menyebabkan ketidak pedulian terhadap orang lain. Biarkan orang lain mati, asal aku selamat. Kalau hanya satu pintu keluar, dia akan menggunakan berbagai cara agar selamat, meskipun harus membunuh orang lain.

Level yang lebih rendah adalah ruhban. Asal katanya adalah rahiba-yarhabu, artinya takut, lelah, tidak kuat. Turunan dari kata tersebut rahhaba artinya menakuti. Ada juga ar-haba artinya ketakutan yang melemahkan atau menyebabkan tidak berdaya sebagaimana dalam Al-A’raf (7): 116.

Ketakutan model ini disebabkan perasaan tidak mampu. Jadi menunjukan ketakutan akibat ketidakberdayaan, tidak mampu bersaing, tidak mampu menandingi. Daripada kalah, lebih baik mundur. Menyerah saja daripada menderita lebih parah. Kira-kira seperti itu konteksnya.

Kalau khauf berhubungan dengan bentuk ancamannya, sementara ruhban berkaitan dengan tekanan psikis yang diakibatkan.

Di bawah ketakutan tersebut adalah fasyalan. Berasal dari kata fasyila-yafsyalu, artinya lemah, hilang semangat. Kata al-fasyalu artinya ketakutan yang disebabkan karena tidak memiliki motivasi (harapan). Seseorang yang tidak memiliki harapan (hopeless), maka hidupnya akan dihantui dengan kegagalan.

Dampak dari ketakutan ini adalah pesimisme, tidak kreatif, tidak mau berubah. Mapan dalam kondisi terpuruk. Tidak mau repot. Hidup begini saja sudah enak, kok repot-repot buat ini dan itu. Kira-kira kalimat seperti itulah yang keluar mulut penakut seperti itu (Ali Imran (3): 122 dan Al-Anfal (8): 43, 46).

Takut berikutnya adalah rau’un. Berasal dari kata raa’a-yar’i-rai’an yang artinya bertambah atau berkembang. Rau’un jamak dari kata ar-rai’un, yang artinya ketakutan. Ketakutan dalam konteks ini dapat dikatakan sebagai kecemasan, sifatnya sementara, jika ada titik terang.

Kecemasan yang disebabkan karena sesuatu yang diharapkan belum juga nampak. Sesuatu yang ditunggu belum juga datang. Surat yang dikirim belum juga dibalas. Cinta yang diucapkan belum juga terjawab. Hal-hal yang tidak sesuai harapan mengakibatkan kecemasan. Semakin lama rentang waktunya, makin bertambah cemas.

Dalam kondisi yang parah dapat menyebabkan depresi. Sebagaimana asal katanya bertambah. Makin lama mendapatkan solusi, makin bertambah ketegangannya (Huud (11): 74).

Ketiga, rasa takut yang disebabkan karena kesadaran atau karena pengetahuan yang dimiliki. Rasa takut yang satu ini tidak ada dalam kajian-kajian psikologis. Namun, dalam Al-Qur’an kesadaran dan pengetahuan dapat menimbulkan rasa takut. Takut tersebut disebut dengan khasyatan. Berasal dari kata khasyia-yahsya, yang artinya takut, hati-hati, dan malu.

Baca juga:  Tanda-Tanda Hadits Palsu

Karena memuat unsur malu maka rasa takut ini mengakibatkan upaya preventif (pencegahan). Oleh karena itu frase khasyata ‘an sama dengan li’alla yang artinya supaya jangan.  Artinya, term khasyatan dapat memunculkan respons preventif (pencegahan).

Upaya-upaya pencegahan tentu dibarengi dengan pengetahuan dan ilmu yang kemudian membuat orang menjadi sadar akan bahaya yang akan terjadi. Orang yang memiliki sifat khasyatan dapat memprediksi hal buruk yang akan menimpa. Tanpa ada pengetahuan, ilmu, dan kesadaran, tentu tidak ada upaya tersebut (Al-Fathir (35): 28 dan Al-A’la (87): 10).

Takut seperti ini akan menghasilkan respons yang positif, yakni upaya-upaya preventif yang dibarengi dengan ilmu. Takut seperti ini menumbuhkan kepedulian (compassion) dan tindakan-tindakan terpuji.

Beberapa Hikmah

Takut merupakan komponen positif yang ada di dalam diri manusia. Oleh karena itu rasa takut harus dikelola dengan baik. Kalau rasa takut tidak dikelola dengan baik, maka dampaknya akan merusak diri manusia sendiri. Dalam bahasa psikologi disebut dengan psikosomatik.

Rasa takut yang sangat kuat, sebenarnya disebabkan karena kehilangan rasa aman. Untuk menciptakan rasa aman, seseorang harus bersandar pada sesuatu yang paling kokoh. Sesuatu yang kokoh tersebut tidak lain adalah Tuhan.

Al-Qur’an menganjurkan pendekatan spiritual untuk memperkuat pertahanan diri. Salah satunya adalah dengan tawakal. Terminologi tawakal adalah menghadirkan Tuhan dalam kehidupan nyata, jadi bukan hanya sekedar pasrah. Cara menghadirkan Tuhan bisa ditempuh melalui berdoa dan dzikir.

Orang-orang yang panik dalam pandemi Covid-19 seperti sekarang, disebabkan spiritual yang kering. Karena mereka jauh dengan Tuhan. Jadi tidak perlu panik kalau yakin Tuhan bersama kita.

Namun, perlu diingat, bahwa pendekatan spiritual hanya mampu menekan dampak kecemasan yang mendalam (anxiety), tetapi tidak menjawab dampak lainnya, seperti ekonomi, kesehatan, politik, dan sosial. Dampak-dampak lanjutan tersebut dibutuhkan pakar di bidangnya masing-masing. Kita tunggu peran mereka.

Wallahu’alam bishawab.

*Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Ketua Majelis Pendidikan Kader PWM DIY, Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: