Santri Cendekia

Dua Ceklis Istiqamah Pasca Ramadan

Perintah istiqamah adalah perintah yang tak ringan hingga membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beruban karenanya[1]. Al-Imam Al-Qusyairi (w. 465 H) menyebutnya sebagai karamah nan teragung[2]. Bahkan kemudahan kita berjalan di atas jembatan shiraath akhirat kelak pun bergantung pada keistiqamahan kita di atas shirath-Nya di dunia ini, sebagaimana paparan Hujjatul Islam Al-Ghazali (w. 505 H)[3].

Di penghujung Ramadan ini, tentu kita ingin agar apa yang telah kita latih selama sebulan ini terus langgeng pengaruh baiknya dalam diri. Duhai, apa sajakah ceklis-ceklis keistiqamahan pasca Ramadan yang seharusnya kita capai?

  1. Lebih banyak introspeksi diri dan bertaubat

Al-Hafidzh Ibnu Rajab (w. 795 H) menyebutkan adanya isyarat pada firman Allah “Maka beristiqamahlah dalam ketaatan pada-Nya dan minta ampunlah.” [QS. Fushshilat: 6] bahwa pastilah terdapat keteledoran seseorang dalam beristiqamah sesuai perintah Allah. Karenanya, harus selalu ditambal dengan memohon ampunan dan kembali ke jalur istiqamah[4].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Istaqiimuu walan tuhshuu (Istiqamahlah kalian, dan kalian tidak akan mampu utuh beristiqamah).” [HR. Ibnu Majah no. 277] Beliau juga bersabda: “Fasaddiduu waqaaribuu (Berusahalah menepati istiqamah dan berusahalah mendekati kesempurnaannya).” [HR. Al-Bukhari no. 39]

Karena itu kita akan sulit dapati mereka yang istiqamah jatuh pada kepongahan. Sebaliknya, justru mereka sering mengoreksi diri sendiri dan terus memohon ampunan Allah atas segala kekurangan.

  1. Ada peningkatan bertahap dari Sya’ban ke Syawwal

‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa menuturkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh di 10 malam terakhir Ramadan dengan apa yang tidak beliau lakukan di hari-hari lainnya.” [HR. Muslim no. 1175]. Hadis ini mengisyaratkan pada kita bahwa memang tak mengapa ada penurunan kuantitas amal salih dari Ramadan ke Syawwal. Malah memaksakan diri meningkat secara berlebih-lebihan beramal itu sendiri menurut Al-Imam Ibnul Qayyim (w. 751 H) adalah berlawanan dengan spirit istiqamah[5].

Baca juga:  Kritik Terhadap Pandangan Jalaludin Rakhmat Tentang Puasa Asyura

Akan tetapi haruslah ada peningkatan ketakwaan dan perubahan ke arah yang lebih baik walau hanya satu anak tangga dari Sya’ban ke Syawwal, dan begitu seterusnya. Berusahalah agar setiap Ramadan berlalu, ada satu kebiasaan baik yang kita rutinkan serta satu keburukan yang kita hentikan. Sehingga andai 10 kali Ramadan dilalui seseorang, maka ia telah menambah 10 amal dan menyetop 10 dosa. Sungguh beruntung orang yang seperti ini. Jauh lebih baik daripada orang yang telah menjalani 20 kali Ramadan, namun seolah tak ada hasil.

Asy-Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jilani (w. 561 H) mengatakan: “Bulan Ramadan adalah bulan kesucian … Jika ia tidak memberikan bekas sama sekali kepadamu, maka apa lagi yang dapat memberikan pengaruh baik padamu?”[6] [1] Lihat: Ibnu Rajab, Jaami’ Al-‘Uluum wal-Hikam (I/509-510). Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.

[2] Lihat: Al-Qusyairi, Ar-Risaalah Al-Qusyairiyyah (II/526). Kairo: Darul Ma’arif, 2003.

[3] Lihat: Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluumid Diin (IV/524). Beirut: Darul Ma’rifah, 2004.

[4] Jaami’ Al-‘Uluum wal-Hikam (I/510).

[5] Lihat: Ibnul Qayyim, Madaarij As-Saalikiin (II/104). Beirut: Darul Kitabil ‘Arabi, 1996.

[6] Lihat: Al-Jilani, Al-Ghunyah (II/27). Beirut: Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 1997

Nur Fajri Romadhon

Ketua Majelis Tarjih PCIM Arab Saudi, Anggota Divisi Fatwa MUI Jakarta, dan Mahasiswa Pascasarjana King Abdulaziz University

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: