Santri Cendekia
Home » Edisi Kemerdekaan – Jangan Seperti Bani Israil (Al-A’raf 138)

Edisi Kemerdekaan – Jangan Seperti Bani Israil (Al-A’raf 138)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang senantiasa melakukan kebodohan.” (Al-A’raf 138)

 

     Tidak berapa jauh dan berapa lama Bani Israil yang bebal ini bebas dari kejaran Fir’aun dan melihatnya tenggelam di tengah laut merah, sudah bertingkah mereka meminta dibuatkan berhala kepada Nabi Musa ‘alaihi salam. Lalu Nabi Musa memberikan pernyataan, “Sesungguhnya kalian adalah kaum senantiasa melakukan kebodohan”. Ini adalah sebuah fakta sejarah yang menggambarkan betapa bebalnya Bani Israil. Ayat ini menggambarkan Bani Israil melalui perkataan Musa ‘alaihi salam dengan fi’il Mudhori’-present (tajhalun), yang menekankan bahwa kebodohan itu adalah hal yang selalu dilakukan Bani Israil.

       Besarnya pertolongan Allah tidak membuat mereka berhasil mengagungkan dan mentauhidkan Allah dengan semestinya. Malah mereka meminta Musa agar dibuatkan berhala untuk mereka karena mereka iri melihat berhala sebuah kaum yang mereka lewati.

       Tadabbur kali ini penulis dedikasikan untuk mengenang peristiwa penghianatan besar terhadap umat islam yang terjadi pada tanggal 18 agustus 1945. Ketika 7 kata dalam piagam jakarta yang kelak akan menjadi pancasila di hapus. Sehingga poin pertama yang tadinya berbunyi, “Ketuhanan dan kewajiban menjalankan syariat islam bagi para pemeluknya” berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Hal ini dikarenakan, konon katanya Bung Hatta mendapatkan informasi dari opsir jepang bahwa wilayah indonesia timur akan melepaskan diri jika poin pertama yang harusnya bisa menjadikan negara indonesia sebagai negara yang kelak akan tumbuh dengan syariat islam sebagai kerangka utama negaranya tidak dihapus. Sampai saat ini, nama opsir jepang itu pun masih menjadi misteri. Ki Bagus Hadi Kusumo yang begitu keras menentang perubahan ini akhirnya pun luluh karena dijanjikan dalam beberapa waktu ke depan hal ini akan dibicarakan lebih lanjut, saat situasi negara lebih kondusif dan stabil. Namun apa hendak dikata, sampai beliau wafat, tak ada lagi pembahasan itu. [1] Dan masih begitu hingga saat kita hidup sekarang. Saham besar umat islam dalam perjuangan kemerdekaan pun di kubur sedalam-dalamnya. Sampai detik ini, indonesia bagai negara tak punya identitas, pancasila pun hanya menjadi dasar negara yang bebas ditafsirkan oleh siapa saja yang berkuasa. Maka tak heran jika dari jaman ke jaman, pribadi amoral dan tak bertuhan pun bisa saja merasa paling pancasila.

Baca juga:  Syaithan dan "Ultimate Weapon"nya (Al-Baqarah : 169)

      Tak hendak bercocok logi atau utak atik gathuk, hanya saja kita perlu memahami. Bahwa proses deklarasi kemerdekaan indonesia, sangat jelas dan kuat jika dilihat dengan mata hati dan dengan mata yang kasat, itu benar-benar pemberian oleh Allah ‘azza wa jalla. Jepang dibom atom oleh sekutu hingga remuk redam. Para pemuda indonesia yang memiliki ghirah tinggi pun menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke rengas dengklok agar segera memutuskan kemerdekaan indonesia dengan tangan sendiri. Bukan menunggu janji jepang yang entah dilaksanakan kapan. Karena mungkin para pemuda yakin, bahwa kemerdekaan yang diberikan adalah suat kehinaan. Indonesia harus memutuskan sendiri kemerdekaannya. Namun yang terjadi, malah kita berbuat persis apa yang Bani Israil buat setelah lepas dari kejaran Fir’aun. Bukannya menegakan tauhid, malah ingin hidup dala naungan berhala ideologi “sekulerisme”. Maka memang kita yang keterlaluan.

         Akhirnya terjadilah peristiwa proklamasi yang terkenal itu. Dengan dasar negara pancasila yang sudah digodok jauh-jauh hari dan disepakati oleh seluruh bapak-bapak perintis negara ini. Namun, baru saja kemerdekaan itu diberikan secara nyata oleh Allah, sudah berkhianat dan berpaling kita dari ayat-ayat-Nya. Mungkin karena hal inilah, keadaan indonesia tak kunjung jelas dan utuh bentuknya hingga saat ini. Biar kata sudah merdeka, masihlah negara kita yang gemah ripah loh jinawi ini jadi prasmanan bagi negara-negara kapitalis dan manusia-manusia tamak anak cucu haman, qarun, dan fir’aun. Mungkin keadaan kita mirip dengan keadaan Bani Israil yang hendak menjadikan berhala setelah Allah bebeaskan mereka dari kejaran fir’aun.

      Sudah gamblang dan nyata perjuangan Ulama dan orang-orang islam di negara ini. Namun segelintir orang masih ragu dan hendak hidup sekuler. “Agama itu suci, politik kotor, jangan dicampur adukan!”, bagitu jargon andalan kaum sosialis-sekuler. Ki Bagus Hadi Kusumo dengan lantang, “jika anda tidak hendak diatur dengan yang suci, apa hendak diatur dengan yang kotor?” [1]. Palu godam yang membuat kaum sosialis-sekuler kehilangan suara. Mungkin benar, negara ini masih tak jelas juntrungannya, karena Allah tak ridho islam terkhianati dari dulu hingga saat ini. Kaum islamis senantiasa dicap sebagai intoleran, anti kebhinekaan, radikal, fundamentalis, dan berbagai macam cap. Tak paham orang-orang bodoh ini bahwa islam agama sempurna yang punya perangkat untuk mengatur setiap sendi kehidupan masyarakat dari skala mikro dan skala makro.

Baca juga:  Al-Sullam dan Isaghuji: Manual Dasar Logika di Dunia Islam

     Yang terjadi sudah terjadi dan biarlah terjadi. Namun sejarah ada agar kita mengambil pelajaran untuk melangkah di masa depan jangan kita bersikap dan bertanya, “terus jika kita udah tahu sejarah bahwa islam pernah dikhianati, mau apa? Sudah terjadi?” kita wajib mengambil pelajaran. Tak akan ada solusi yang tepat jika sumber masalah tak diketahui. Maka agar negeri ini bisa bangkit sekali lagi bersama ridho Allah ‘azza wa jalla, marilah kita memahami ayat ini, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf : 96). Bagi mereka yang beriman kepada Al-Qur’an, maka kunci kebangkitan suatu negara bukanlah teknologinya, tapi dimulai dari iman dan takwa penduduknya. Teknologi, ekonomi, SDM, pendapatn negara, dsb hanyalah efek. Jangan seperti Bani Israil tak tahu diri, ditolong Allah ketika terhina, sudah mulia malah hendak “menghina” Allah dengan meletakan hukum-hukum-Nya di pojok ruang sempit dan gelap.

       Akhirul kalam, mari kita lanjutkan perjuangan bapak-bapak kita. Mereka memang sudah wafat dan tak lagi dapat kita bertatap muka. Tapi percayalah, tauhid, mimpi, dan cita-cita selalu menyatukan orang-orang yang berbeda waktu dan tempat. Mereka memang sudah wafat, tapi ruh-ruh tauhid dan cinta mereka kepada indonesia, masih bersemayam kuat di dalam jiwa-jiwa kita, insyaAllah.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

Referensi:

[1]   Rizki Lesus, “Perjuangan yang Dilupakan”

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar