Santri Cendekia

Gambaran Surga dalam Dua Tafsir Muhammadiyah

Salah satu konsep penting dalam al-Qur’an adalah tentang jannah (جنة). Kata Jannah (جنة) dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 66 kali. Sedangkan dalam bentuk plural janna>t (جنات)  sebanyak 69 kali. Ada beberapa penyebutan lain seperti jannataka (جنتك), jannatahu (جنته), jannati (جنتي), jannata>n (جنتان), dan jannatain (جنتين) dalam berbagai ayat al-Qur’an (Lih. Abdul Baqi, 1346 H: 180-182). Kata jannah menurut al-Qurtubi bermakna al-busta>n (البستان) yang artinya taman. Taman disebut dengan jannah karena ia melindungi siapa saja yang berada di dalamnya dengan pepohonan (al-Qurtubi, 1964: 239).

Kata jannah dalam al-Qur’an digunakan untuk menyebut tempat tinggal Nabi Adam sebelum diturunkan ke bumi (QS. al-Baqarah [2]: 35). Dalam konteks kehidupan setelah kematian, jannah menjadi tempat kembali bagi orang yang beriman dan beramal salih ketika hidup di bumi (QS. al-Baqarah [2]: 25). Dalam literatur Bahasa Indonesia kata jannah memiliki dua arti, pada konteks duniawi berarti taman yang indah, sedangkan pada konteks akhirat diartikan surga. Penerjamahan ini diadopsi dari kalimat pusaka dalam agama terdahulu untuk alam akhirat. Mulanya dalam bahasa Sansekerta disebut suarga atau sawarga, lalu seiring perkembangan bahasa menjadi surga (Hamka, 2015, 1:122).

Ada banyak ayat al-Qur’an yang menggambarkan keadaan di surga sebagai balasan bagi orang yang beriman dan beramal saleh. Salah satunya dalam QS. al-Baqarah [2]: 25 berikut.

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buuahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci, dan mereka kekal di dalamnya.” (Terjemah Kementrian Agama RI) 

Dalam tulisan ini, penulis akan membandingkan penafsiran ayat tersebut dalam dua literatur tafsir kelembagaan Muhammadiyah, yaitu Tafsir Al-Qoer’an Djoez ke Satoe dan Tafsir At-Tanwir. Dua karya tafsir tersebut dipilih karena sama-sama ditulis secara kolektif (tafsir jama’i) oleh ulama Muhammadiyah. Akan tetapi dua karya tersebut ditulis oleh kelompok yang berbeda generasi, serta dalam konteks waktu yang berbeda. Penulis berasumsi bahwa perbedaan konteks tersebut tentunya akan menghasilkan orientasi yang berbeda dalam sebuah produk tafsir.

Sekilas Tafsir Al-Qoer’an Djoez ke Satoe dan Tafsir At-Tanwir

Di antara fenomena menarik dalam perkembangan tafsir kontemporer di Indonesia adalah munculnya tafsir kelembagaan. Karya tafsir yang disusun secara kolaboratif atau kolektif sebenarnya bukan hal baru. Akan tetapi karya tafsir kolektif yang mewakili suatu lembaga dengan kekhasan paham keagamaan tertentu belum bisa disebut banyak (Ridha, 2018: 5). Persyarikatan Muhammadiyah menerbitkan Tafsir Al-Qoer’an Djoez ke Satoe pada tahun 1930-an, tepatnya era kepemimpinan KH Ibrahim. Sementara Tafsir At-Tanwir disusun sejak era kepemimpinan Din Syamsuddin pada tahun 2010, lalu diterbitkan juz 1 pada era kepemimpinan Haedar Nashir tahun 2016.

Baca juga:  Melawan Kerusakan Struktural adalah Bentuk Moderasi Beragama

Metode yang digunakan Tafsir Al-Qoer’an Djoez ke Satoe adalah metode ijmali atau global. Dengan metode ini, penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dilakukan secara ringkas dengan bahasa yang populer dan mudah dimengerti (Ilyas, 2018: 280). Penafsiran dilakukan secara berurutan sesuai susunan mushaf (tarti>b mushafi). Pada bagian muqaddimah terdapat daftar tema-tema kandungan surah al-Baqarah pada juz pertama. Lafaz ayat al-Qur’an ditulis berdampingan dengan terjemahnya, lalu penafsiran ditulis di bagian bawah seperti bentuk catatan kaki. Karena metode yang ringkas, penafsiran juz 1 al-Qur’an pada kitab ini dimuat dalam 89 halaman.

Sementara itu Tafsir at-Tanwir menggunakan metode tahlili. Dengan metode ini, kandungan ayat-ayat al-Qur’an dipaparkan dari berbagai aspek seperti aspek bahasa, asba>b an-nuzu>l, muna>sabah, dan aspek lain sesuai minat dan kecenderungan penafsir (Ilyas, 2018: 281). Penafsiran dilakukan sesuai urutan mushaf (tarti>b mushafi), namun ayat-ayat dikelompokkan dalam tema-tema tertentu. Inilah yang membedakan dari metode tahlili dalam literatur ulumul Qur’an sebelumnya. Muhammad Amin menyebutnya metode tahlili-cum-tematik. Metode tahlili ini membuat penafsiran juz 1 al-Qur’an dimuat dalam 489 halaman.

Penafsiran QS. al-Baqarah [2]: 25 dalam Tafsir Al-Qoer’an Djoez ke Satoe

Penafsiran QS. al-Baqarah [2]: 25 terdapat pada halaman 30-31. Kitab ini pertama-tama menyebutkan teks QS. al-Baqarah [2]: 25 beserta terjemahnya sebagai berikut.

Gembirakanlah (Hai Moehammad) orang – orang jang beriman serta jang mengerdjakan kebadjikan, bahwa sesoenggoehnja, bagi mereka itoe soerga, jang dibawahnja mengalir soengai-soengai. Setiap mereka diberi rezeki boeah-boeahan dari soerga, berkatalah mereka : lnilah jang telah direzekikan kepada kita dari jang sebeloem ini: dan memang mereka diberi jang seroepa. Dan lagi bagi mereka disoerga, isteri – isteri jang disoetjikan,dan mereka kekal didalamnja.

Setelah itu pada catatan kaki nomor 16 disebutkan bahwa ayat ini menggembirakan orang yang beriman dan beramal salih, bahwa mereka akan dikaruniai surga taman yang indah. Sebagaimana tercantum dalam ayat, disebutkan dalam tafsir ini bahwa surga itu penuh pohon dan buah-buahan serta istri yang suci. Pemaparan selanjutnya menegaskan pendapat yang dipilih tafsir ini bahwa yang menerima kesenangan atau siksaan adalah badan jasmani dan rohani.

Oleh karena jang melakoekan kedjahatan dan kebaikan itoe badan djasmani dan roehani, demikian poela jang akan menerima kesenangan dan keladzatan ataupoen siksaan dan pembalasan itoepoen badan djasmani dan roehaninja.”

Penegasan ini disinyalir muncul karena adanya pandangan yang mengatakan bahwa nikmat dan azab itu hanya menimpa ruh saja, sebagaimana keyakinan para filsuf. Ibnu Taymiyah menjelaskan bahwa setelah seseorang mati, maka ia akan menerima nikmat atau azab. Hal itu terjadi pada ruh dan badan (Ibnu Taymiyah, 1995: 284). Hal senada dinyatakan Fazlur Rahman bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan akhirat tidak semata-mata spiritual bagi jiwa-jiwa yang tak berjasad. Artinya kenikmatan dan kesengsaraan itu dirasakan secara fisik dan spiritual. Meskipun aspek spiritualnya merupakan hal tertinggi (Rahman, 2017: 163-164).

Baca juga:  Bisakah “Mengantisipasi Covid-19” Dikategorikan Sebagai Keadaan Darurat?

 

Penafsiran QS. al-Baqarah [2]: 25 dalam Tafsir At-Tanwir

Sebagaimana telah disebutkan bahwa Tafsir at-Tanwir membagi pembahasan ke dalam tema-tema, maka QS. al-Baqarah [2]: 25 berada pada bab 2 bertema “Penerimaan dan Penolakan Petunjuk al-Qur’an”. Secara spesifik diberi sub judul “Balasan Bagi Orang Beriman yang Mengikuti al-Qur’an”. Setelah mencantumkan ayat, disebutkan terjemahan sebagai berikut.

“Sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah rezeki yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa. Dan di sana mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”

Setelah itu dijelaskan penafsiran secara tahlili dalam lima halaman mulai halaman 171 sampai 175. Mula-mula dijelaskan dari sisi kebahasaan. Kata janna>tin (جنات) dalam ayat tersebut merupakan bentuk plural dari kata jannah (جنة) yang secara harfiah berarti taman. Kata itu berasal dari kata janna yang berarti tersembunyi. Sebuah taman dinamai jannah karena di dalamnya terdapat pohon-pohon yang rindang, sehingga orang yang berada di dalam tidak kelihatan karena tersembunyi oleh pohon-pohon itu.

Setelah itu terdapat pembahasan tentang visualisasi surga. Gambaran kenikmatan surga divisualisasikan berupa taman dengan sungai yang airnya mengalir. Hal itu merupakan gambaran kenikmatan universal. Meski demikian, Tafsir at-Tanwir menjelaskan bahwa visualisasi surga di dalam al-Qur’an hanya merupakan gambaran agar mudah dipahami, bukan keadaan sebenarnya.

Penjelasan yang menurut penulis paling menarik adalah tentang implikasi dari gambaran surga. Menurut Tafsir at-Tanwir, penggambaran surga bukan semata-mata ungkapan eskatologis, tetapi merupakan ungkapan aktual untuk segala masa termasuk ketika di dunia. Artinya, orang beriman harus senantiasa merasa tentram dan menentramkan orang-orang di sekitarnya. Perilaku sosialnya menciptakan suasana dunia sebagaimana gambaran suasanan surga yang penuh kesejukan. Setelah itu ditegaskan sebagai berikut.

“… implikasi dari gambaran surga pada hakikatnya merupakan ‘perintah’ Allah kepada orang beriman untuk membuat dunia ini sebagaimana gambaran surga tersebut, yakni indah, hijau, rindang, teduh, dan menyejukkan.”

Hal ini berkaitan dengan tugas manusia sebagai khalifah (QS. al-Baqarah [2]: 30) untuk menjaga keserasian dan kelestarian alam. Sejalan dengan itu orang beriman juga disebut sebagai mus}lihu>n atau pembuat kebaikan, bukan mufsidu>n  atau pembuat kerusakan (QS. al-Baqarah [2]: 10). Kepedulian lingkungan merupakan salah satu bagian keimanan, karena termasuk tujuan syariat yaitu hifz} al-bi>’ah (menjaga keserasian alam). Keimanan (teologi) harus memiliki implikasi pada penciptaan lingkungan hidup. Amal saleh secara lebih luas merupakan penjabaran iman dalam perbuatan sehari-hari. Tafsir at-Tanwir menegaskan sebagai berikut.

“Penggambaran surga tersebut memberikan pemahaman bahwa agar tercapai kehidupan yang tentram, aman dan bahagia, manusia harus memperhatikan aspek lingkungan hidup. Salah satunya dengan menjaga kelestarian alam yang merupakan sistem ideal dalam kehidupan manusia.”

Penjelasan tentang implikasi dari gambaran surga terhadap dunia ini membuktikan harapan untuk tidak sekedar mengulang tafsir terdahulu. Tafsir ini memang diharapkan memberi kontribusi baru untuk menanggapi berbagai problem umat masa kini. Hal itu tergambar dalam karakteristik responsivitas, membangkitkan dinamika, dan membangkitkan etos.

Baca juga:  IQRA' dan Peradaban Bercahaya itu pun Dimulai! (Al-Alaq : 1)

Penutup

Sebagai penutup, penulis menyimpulkan adanya pergeseran penafsiran QS. al-Baqarah [2]: 25 dalam Tafsir Al-Qoer’an Dzoez ke Satoe dan Tafsir at-Tanwir. Pergeseran interpretasi dalam dua kitab tersebut dapat dipahami karena beberapa alasan: 1) perbedaan konteks waktu; 2) perbedaan latar belakang tim penulis; dan 3) perbedaan metode penafsiran. Sesuai dengan metode ijmali yang digunakan Tafsir Al-Qoer’an Dzoez ke Satoe, penjelasan ayat tentang gambaran surga memiliki porsi yang ringkas. Metode ini disinyalir menjadi pilihan karena disesuaikan dengan kebutuhan umat pada zaman itu. Jika melihat sumber yang menjadi rujukan, sebenarnya tim penulis memiliki kapasitas untuk menjelaskan secara panjang lebar berdasarkan diskusi-diskusi yang ada dalam literatur terdahulu. Namun demikian, penjelasan ringkas itu masih bersifat normatif dan belum menyentuh aplikasi konkret bagi kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini gambaran surga masih dipandang sebagai ayat eskatologis semata.

Berbeda dengan itu, Tafsir at-Tanwir sesuai metode tahlili-cum-tematik yang dipilihnya memiliki porsi besar ketika menjelaskan ayat tentang gambaran surga. Ada penjelasan yang luas mulai dari aspek kebahasaan hingga signifikansi ayat. Konteks waktu kekinian juga direspons oleh tafsir ini. Perilaku umat beragama yang terkadang hanya berorientasi vertikal (habl min Allah) tanpa memperbaiki dimensi horizontal (habl min al-Nas) seolah mendapat sindiran keras dari tafsir ini. Adanya penjelasan tentang implikasi menjadi nilai kebaruan dari tafsir ini. Dalam hal ini, gambaran surga selain bersifat teologi, juga memiliki relevansi dalam kehidupan saat ini dunia.

Daftar Pustaka

Abdul Baqi, Muhammad Fuad. al-Mu’jam al-Mufahras li Alfa>z al-Qur’a>n. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1364 H.

al-Qurtubi, Syamsuddin. al-Ja>mi’ li Ahka>m al-Qur’a>n. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyah, 1964.

Hamka, Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Gema Insani, 2015.

Ibnu Taymiyah, Taqiyuddin. Majmu>’ al-Fata>wa>, Jilid 4 (Madinah: Majma’ al-Malik Fahd, 1995.

Ilyas, Yunahar. Kuliah Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Itqan Publishing, 2014.

Kementrian Agama Republik Indonesia. “Al-Qur’an dan Terjemahnya”, dalam https://quran.kemenag.go.id

Ladjnah Oelama Moehammadijah, Tafsir Al-Qoer’an Dzoez ke Satoe. Yogyakarta: HB Moehammadijah Madjlis Taman Poestaka, t.th.

Rahman,Fazlur. Tema-tema Pokok al-Qur’an, terj. Ervan Nurtawab dan Ahmad Baiquni. Bandung: Mizan Pustaka, 2017

Rayhan, “Di Balik Tafsir at-Tanwir”, dalam https://suaramuhammadiyah.id/2017/ 02/18/di-balik-tafsir-at-tanwir/.

Ridha, Muhammad. Tafsir Kelembagaan Muhammadiyah (Studi terhadap Tafsir Tematik al-Qur’an tentang Hubungan Sosial Antarumat Beragama dan Tafsir at-Tanwir), Tesis, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2018.

Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Tafsir at-Tanwir. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2016.

Hendriyan Rayhan

Pengajar di Ma’had Khairul Bariyyah Kota Bekasi

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: