Santri Cendekia
Home » Gaza: Bumi Ribath yang seharusnya Diprioritaskan

Gaza: Bumi Ribath yang seharusnya Diprioritaskan

Gaza adalah sebuah wilayah yang memiliki keistimewaan dan daya tarik yang unik. Terletak di bagian barat daya Palestina, di tepi pantai Mediterania. Wilayah ini  telah lama menjadi pusat perhatian dunia sebagai bagian dari konflik Israel-Palestina. Peperangan yang terjadi secara berulang telah mempengaruhi geopolitik kawasan Timur Tengah dan sekitarnnya sampai hari ini (Iqbal, 2010). Sebagaimana pemberitaan Gaza yang akhir-akhir ini kita saksikan di medsos kita masing-masing. Meskipun terkenal dengan kompleksitas politik dan situasi sosial yang rumit, namun Gaza memiliki cerita menarik untuk dibahas terus menerus, baik itu ditinjau dari keluhuran, kebaikan dan kehormatannya.

Banyak Orang Mulia Yang Hidup di Gaza

Gaza telah menjadi tempat peristirahatan banyak orang mulia sepanjang sejarahnya. Di antara mereka ada dua orang yang mempunyai silsilah yang bersambung dengan Nabi kita tercinta, Muhammad Saw. Pada Abad ke-5, daerah Mekkah, Saudi Arabia menghadapi tantangan yang luar biasa beratnya, yaitu kekurangan pangan yang merajarela. Menanggapi krisis ini, Amr Ibn ‘Abd Manaf, kakek Nabi Muhammad sekaligus pemimpin Quraisy merasa memiliki tanggungjawab besar untuk menyediakan makanan dan minuman bagi penduduk Mekah dan orang yang berziarah kesana.

Lalu lahirlah inisiatif untuk melakukan perjalanan ke Syam (daerah yang sekarang meliputi Palestina, Yordania, Suriah dan Lebanon) untuk berbelanja kue panggang yang kemudian dibagikan untuk penduduk Mekah dan Penziarah. Perhatiannya yang besar membuat beliau hampir menghabiskan harta kekayaanya. Tanpa disertai pamrih apapun. Itulah yang menyebabkan beliau mendapatkan gelar Hasyim, yaitu orang yang remuk atau hancur (istilahnya entong-entongan, kalau dalam bahasa banyumasan) dalam mengorbankan hartanya untuk berderma. Selain mengatasi kekurangan pangan, Hasyim berusaha meningkatkan pasokan air dengan menggali beberapa sumur, menerapkan sistem pengasuhan di mana keluarga-keluarga kaya membina keluarga yang kurang beruntung, dan mempopulerkan kepada khalayak terkait sistem perjalanan dagang dwitahunan ke daerah Syam pada musim dingin dan musim panas.

Dedikasi yang dilakukan Hasyim untuk melestarikan kehidupan manusia dan memupuk solidaritas sosial meninggalkan warisan kebaikan yang abadi. Suatu ketika, saat perjalanan kembali dari Daerah Syam beliau wafat di Gaza dan dimakamkan di sana. Hal ini menandai dimulainya status terhormat di wilayah tersebut, yang ketika itu Gaza sudah memainkan perannya sebagai pusat ekspedisi perdagangan Arab. Banyak dari penduduk Jazirah Arab yang berdatangan, termasuk beberapa kerabat Hasyim dari suku Bani Amr Ibn Kinanah yang kemudian tertarik menetap di Gaza, mengingat lokasinya yang strategis sebagai pusat perdagangan.

Pada abad ke-8, di daerah Gaza tepatnya di kota Zeitoun, lahirlah seorang keturunan bangsawan Hasyim yang kelak menjadi ulama rujukan umat Islam di seluruh Dunia, yaitu Imam al-Syafi’i. Nama lengkapnya ialah Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Ustman Ibn Syafi’i ibn Saib ibn Abdul Yazid ibn Hisyam ibn Muthalib ibn Abdul Manaf. Nasab Imam al-Syafi’i bertemu dengan Rasulullah Saw di Abdul Manaf (Abu Zahra, 2007).

Baca juga:  Menimbang Manfaat dan Mudharat E-Cigarette/Vape (II)

Tempat lahirnya Imam Syafi’i kemudian bertranformasi menjadi sekolah interdisipliner yang meski menghadapi bayak tantangan, saat ini bertahan menjadi lembaga al-Qur’an, pusat intelektual dan perpustakaan. Dari sini kita tahu, bahwa Gaza patut dihormati dan diperhatikan dengan baik.  Disebabkan daerah ini memiliki sejarah indah dalam menjaga silsilah keturunan Nabi Muhammad Saw, sehingga dikenal di kalangan umat Islam sebagai Gaza-Hasyim.

Tanah yang Diberkahi dan Penduduknya yang Berbudi Luhur

Menurut beberapa mufasir, kata Al-Syam dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak lima kali. Diidentifikasi sebagai tanah yang diberkahi. Penyebutan daerah al-Syam antara lain mengenai relokasi Bani Israil ke al-Syam (7: 137), lokasi perjalanan malam Nabi Muhammad (isra’) ke Masjid al-Aqsa (17:1), migrasi Nabi Ibrahim ke Syam (21:70-71), Kerajaan Nabi Sulaiman (21:81), perjalanan masyarakat Saba (34:18). Selain itu, Gunung Sinai, tempat Allah mengajak bicara Nabi Musa dan bersumpah dalam al-Qur’an (95:1), terletak di daerah Syam juga. Lebih-lebih lagi, daerah Syam diidentifikasi oleh beberapa ulama sebagai tanah berkumpul (Hashr) di akhir zaman. Banyak hadis-hasdis Rasulullah Saw yang mengagungkan keutamaan Negeri Syam, baik itu wilayah ataupun penduduknya.

Berikut kami tuliskan beberapa hadis yang dikutip dari buku Fadha’il al-Syam karya al-Sam’ani. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw bersabda:

طُوبَى لِلشَّامِ طُوبَى لِلشَّامِ. قُلْتُ: مَا بَالُ الشَّامِ. قَالَ: الْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَجْنِحَتِهَا عَلَى الشَّامِ (أخرجه أحمد)

“Beruntunglah bagi (penduduk) Syam, beruntunglah bagi (penduduk) Syam”. Aku (Zaid Bin Tsabit) bertanya apa alasannya? Beliau menjawab, “(Karena) para malaikat mengepakan sayap (menaungi) negeri Syam”. (HR. Ahmad, no: 21606).

أَلَا إِنَّ عُقْرَ دَارِ الْمُؤْمِنِينَ (أخرجه أحمد)

“Ketahuilah sesungguhnya tempat tinggal orang-orang beriman itu adalah Syam”. (HR. Ahmad, no: 16965).

إِذَا فَسَدَ أَهْلُ الشَّامِ فَلَا خَيْرَ فِيكُمْ وَلَا تَزَال طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ (أخرجه الترمذي)

“Apabila kerusakan terjadi pada penduduk Syam maka sudah tidak ada lagi kebaikan bagi kalian. Senantiasa akan ada dikalangan umatku yang ditolong, yang tidak akan merasa terganggu dari orang yang menyakitinya sampai tegak hari kiamat”.( HR at-Tirmidzi, no: 2192)

Menjaga Tanah dan Kehormatan Umat Islam

Sepanjang Sejarah manusia, kendali tanah Syam sering berpindah dari satu tangan kelompok ke kelompok lain. Lokasi geografis yang strategis terletak di persimpangan tiga benua melalui darat dan dua benua melalui laut menjadikan wilayah ini rentan terhadap penaklukan oleh kerajaan-kerajaan yang bersaing. Meskipun demikian, Syam memiliki pintu gerbang yang kuat dalam menghentikan penyebaran kekuatan jahat yang masuk. Hal ini dikarenakan tanah ini menjadi tanah pilihan yang di dalamnya terdapat banyak orang-orang baik.

Nabi meramalkan banyak dinamika yang akan terjadi dan peran berkelanjutan umat manusia di tanah Syam (termasuk warga Gaza dan Palestina secara keseluruhan). Ada orang akan ikut memperjuangkan tanah ini (jihad) demi menegakan kalimat Allah dari penjajahan dan ada pula yang abai. Bahkan berada di posisi musuh. Paraaah sih, kalo ini.

Baca juga:  Cinta Ramadhan 10: Segerakan Berbuka, Segerakan Sholat

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah Ibn Hawalah dijelaskan sebagai berikut:

سَيَصِيرُ الْأَمْرُ إِلَى أَنْ تَكُونَ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ جُنْدٌ بِالشَّامِ وَجُنْدٌ بِالْيَمَنِ وَجُنْدٌ بِالْعِرَاقِ فَقَالَ ابْنُ حَوَالَةَ خِرْ لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَاكَ قَالَ عَلَيْكَ بِالشَّامِ فَإِنَّهُ خِيرَةُ اللَّهِ مِنْ أَرْضِهِ يَجْتَبِي إِلَيْهِ خِيرَتَهُ مِنْ عِبَادِهِ فَإِنْ أَبَيْتُمْ فَعَلَيْكُمْ بِيَمَنِكُمْ وَاسْقُوا مِنْ غُدُرِكُمْ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ تَوَكَّلَ لِي بِالشَّامِ وَأَهْلِهِ  [أخرجه أبو داود]

“Akan ada masa di mana karena adanya suatu urusan, seseorang akan berubah menjadi berkelompok dan golongan. Ada kelompok di Syam, lalu kelompok di Yaman dan kelompok di Iraq”. Ibnu Hawalah berkata, “Ya Rasulallah, pilihlah untuk saya jika seandainya aku menjumpainya. Beliau bersabda: “Engkau harus memilih kelompok yang berada di Syam, sesungguhnya itulah negeri pilihan Allah, yang Allah pilih menjadi negeri bagi hamba -Nya. Dan jika engkau enggan, maka ikutkan dengan kelompok Yaman, lantas penuhilah tempat minum kalian. Sesungguhnya Allah telah menjamin (keamanan) bagiku dengan penduduk Syam serta negerinya”. (HR Abu Dawud no: 2483).

Selain tanah Syam, sejumlah hadis juga memuji tanah ‘Asqalan. sebuh kota yang sekarang terletak kurang lebih 13 kilometer sebelah utara perbatasan dengan jalur Gaza. Hadis-hadis tersebut memuji kota ini karena dedikasinya untuk membela tanah muslim, sebagai upaya yang dikenal sebagai ribath. Diriwayatkan dari al-Thabroni bahwa Nabi Saw bersabda:

اَوَّلُ هَذَا الْأَمْرِ نُبُوَّةٌ وَرَحْمَةٌ ، ثُمَّ يَكُونُ خِلَافَةً وَرَحْمَةً ، ثُمَّ يَكُونُ مُلْكًا وَرَحْمَةً ، ثُمَّ يَكُونُ إِمَارَةً وَرَحْمَةً ، ثُمَّ يَتَكادَمُونَ عَلَيْهِ تَكادُمَ الْحُمُرِ فَعَلَيْكُمْ بِالْجِهَادِ ، وَإِنَّ أَفْضَلَ جهادِكُمُ الرِّبَاطُ ، وَإِنَّ أَفْضَلَ رباطِكُمْ عَسْقَلَانُ

“Awal urusan ini adalah kenabian dan rahmat, kemudian berikutnya kekhilafahan dan rahmat, kemudian berikutnya kerajaan dan rahmat, kemudian berikutnya pemerintahan dan rahmat, kemudian mereka saling merebutnya sebagaimana gigitan keledai, maka wajib bagi kalian untuk berjihad, dan sesungguhnya sebaik-baik jihad kalian adalah ribath (terikat dengannya), dan sebaik-baik ribath adalah di ‘Asqalan”

Ribath, sebuah istilah dari al-Qur’an yang telah memperoleh berbagai penafsiran kontektual dan interdisipliner, namun dalam konteks ini, maksudnya ialah mempertahankan wilayah muslim. Dengan cara menjaga bangunan-bangunan yang berlokasi di daerah berbahaya, di perbatasan, atau di jalur negeri yang diperebutkan.

Disebabkan kedekatan wilayah ‘Asqalan dengan wilayah Gaza, beberapa ahli geografi muslim menganggap Gaza sebagai bagian darinya. Sebagaimana ada pendapat alternatif yang menceritakan bahwa Imam al-Syafi’i lahir di daerah ‘Asqalan, meskipun diyakini beliau lahir di Gaza. Mempertimbangkan dua pendapat tersebut, ahli hukum Madzhab Syafi’i terkemuka, yaitu Imam Nawawi mengatakan, “keduanya (Gaza dan Asqalan) adalah bagian dari tanah suci yang diberkahi Allah. Hubungan antara ‘Asqalan dan Gaza membuat keduanya memiliki keutamaan yang sama, yaitu anjuran melakukan ribath di daerah tersebut.

Baca juga:  Sistem Pendidikan di Israel Sengaja Hapus Sejarah Arab-Palestina

Rasulullah menginformasikan bahwa akan ada dari umat Islam sekelompok yang istiqamah dalam menegakan kebenaran dengan cara berjihad dan ribath untuk menegakan kalimat Allah. Beliau bersabda:

لاَ يَزَالُ أَهْلُ الْغَرْبِ ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ » [أخرجه مسلم]

“Akan senantiasa ada, dari penduduk barat (penduduk Syam) yang berada diatas kebenaran sampai tegaknya hari kiamat”. (HR Muslim no: 1925).

Penting untuk dicatat bahwa para cendekiawan muslim tidak mengaitkan kondisi tertentu, pada status lokasi ribath. Baik itu karakteristik yang melekat pada tanah atau penghuninya. Melainkan, mereka mengaitkan keutamaan tersebut secara khusus dengan aktivitas ribath yang sedang berlangsung di daerah-daerah tersebut.. Ibnu Taimiyah menjelaskan asal muasal keutamaan ini sebagai berikut:

Secara umum apa yang terdapat pada pembahasan ulama mutaqadimiin (klasik) mengenai keutamaan ‘Asqalan, Iskandariyah, ‘Aka, Qazwain dan lainnya.  Begitu juga berdasar cerita dari orang-orang saleh terhadulu menginformasikan bahwa beberapa tempat tersebut merupakan wilayah perbatasan, bukan karena memiliki keistimewaan tertentu. Sebuah daerah baik menjadi wilayah perbatasan kaum muslimin atau tidak adalah merupakan sifat yang sementara tidak tetap selamanya, sama halnya dengan Darul Islam (wilayah Islam), wilayah kafir, wilayah perang, wilayah damai, wilayah penuh dengan keilmuan dan iman atau wilayah penuh dengan kebodohan dan kemunafikan. Semua itu berbeda satu sama lain disebabkan perbedaan penduduk dan karakteristiknya.

Oleh karena itu, banyak umat Islam dan ulama yang saleh dengan sengaja memilih lokasi ‘Asqalan sebagai tempat tinggal mereka untuk mendapatkan imbalan yang dijanjikan dalam menjaga tanah umat Islam. Di antara mereka yang pindah ke ‘Asqalan demi melakukan ribath adalah Sahabat Abu Rayhanah al Azdi dan cicit ‘Umar ibn al-Khattab, yaitu Umar ibn Muhammad ibn Zaid ibn Abdullah ibn Umar, sampai meninggal di sana dan akhirnya melekat padanya sebutan ‘Asqalani. Selain itu, terdapat Tabi’in, Ata’ ibn Rabah  dan  Sufyan al-Tsawri yang menghabiskan 40 hari setiap tahunnya untuk melakukan ribath di ‘Asqalan.

Tujuan dari ribath adalah untuk menjaga tanah dan kehormatan umat Islam. Imam Bukhari memberikan satu bab khusus dalam kitabnya mengenai keutamaan melakukan satu hari ribath di jalan Allah. Ini menjadi penanda penting bahwa ribath merupakan syariat yang agung untuk dikerjakan. Terutama saat ini, menjaga tanah Gaza dari penjajahan Zionisme menjadi sangat penting untuk diperjuangkan, karena Gaza selain menjadi daerah yang telah menjaga sisilah keturunan Nabi Saw. Namun juga menjadi bagian dari kehormatan kaum muslimin yang perlu diprioritaskan.

Sumber Bacaan:

Akhmad Iqbal. 2010. Perang-Perang Paling Berpengaruh di Dunia, I. (Yogyakarta: JBPublisher)

Al-Sam’ani. 1992. Fadha’il al-Syam. (Damaskus: Darul al-Tsaqofah al-‘Arabiyah).

Muhammad Abu Zahra. 2007. Imam al Syafi’i (Biografi dan Pemikirannya dalam masalah aqidah, Politik, Fiqh) cet. I, (Jakarta: Lentera)

https://www.aqsaonline.org/BlogPosts/Details/dc0fd33c-719d-43fd-b9fd-615c1d08abba

https://yaqeeninstitute.org/read/post/why-is-gaza-important-honoring-a-land-of-ribat

Fadhlurrahman Rafif Muzakki

Alumni PAI UMY!

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar