Santri Cendekia

Gua Kahfi, Bilangan Tahun, dan Kesesuaian Gerak Matahari

Ashabul Kahfi adalah kisah tentang sejumlah pemuda yang tidur dalam gua selama ratusan tahun. Awal mula mereka tidur dalam gua adalah ketika seorang raja bernama Dikyanes (Decius) yang dikenal lalim, tidak memperkenankan penduduknya menyembah Allah.

Raja ini menghukum orang-orang yang tidak patuh terhadap perintahnya untuk menyembah berhala. Seluruh penduduknya diharuskan menyembah berhala tersebut.

Sejumlah pemuda (yang berikutnya dikenal dengan ashabul kahfi) melarikan diri meninggalkan kota guna menghindar dari sang raja dan demi menjaga iman mereka kepada Allah. Kisah ini diabadikan dalam QS. Al-Kahfi [18] ayat 9-10. Allah berfirman,

“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa,wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami” (QS. Al-Kahfi [18]: 9-10).

Pelarian dan persembunyian pemuda-pemuda ini adalah di sebuah gua (yang kini dikenal dengan gua ashabul kahfi). Singkat cerita, Allah menidurkan para pemuda ini di dalam gua tersebut selama 309 tahun. Peristiwa ini tertera dalam QS. Al-Kahfi [18] ayat 25, Allah berfirman,

“Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)” (QS. Al-Kahfi [18]: 25)

Konon, nama-nama pemuda tersebut, yang selanjutnya disebut dengan pemuda Ashabul Kahfi, adalah: Mukaslamina, Yamlikha, Mortunes, Kastones, Byrunes, dan Kolaus, satu lagi anjing mereka yang bernama Humran.

Adapun lokasi tempat berada gua ini terdapat di Amman (Yordania), dimana ditemukan sebuah gua yang berdasarkan ciri-ciri fisiknya serta sisa-sisa barang dan tulang-belulang yang ada diyakini sebagai gua tempat para pemuda Ashabul Kahfi tersebut.

Quraish Shihab dalam karyanya “Mukjizat Al-Qur’an” menginformasikan bahwa pada tahun 1963 M, Rafiq Wafa ad-Dajany, seorang arkeolog asal Yordania, menemukan sebuah gua yang terletak 8 kilometer dari Amman, ibukota Yordania, dan memiliki ciri-ciri seperti yang diuraikan dalam al-Qur’an.

Gua tersebut berada di atas dataran tinggi menuju arah tenggara, sedangkan kedua sisinya berada di sebelah timur dan barat dan terbuka sedemikian rupa sehingga cahaya Matahari menembus ke dalam.

Di dalam gua terdapat ruang-ruang kecil yang luasnya sekitar 3 x 2 ½ meter. Ditemukan juga di dalam gua tersebut 7 atau 8 kuburan.

Baca juga:  Kerangka Konsep Tauhid Ekologis

Pada dinding-dindingnya terdapat tulisan Yunani kuno, tetapi tidak terbaca lagi, sebagaimana terdapat pula gambar seeokor anjing dan beberapa ornamen.

Di atas gua tersebut terdapat sebuah tempat ibadah ala Bizantium, mata uang dan peninggalan-peninggalan yang ditemukan di sekitarnya yang menunjukkan bahwa tempat tersebut dibangun pada masa pemerintahan Justinius I (418 M-427 M).

Ciri-ciri yang ditemukan itu dapat dikatakan sesuai dengan ciri-ciri yang dikemukakan al-Qur’an (Shihab, 2007: 209-210).

Adapun aspek yang terkait dengan astronomi dari peristiwa Ashabul Kahfi ini adalah durasi waktu ditidurkannya para pemuda ini. Seperti dijelaskan dalam QS. Al-Kahfi [18] ayat 25, para pemuda ini ditidurkan selama 100 tahun dan ditambah 9 tahun.

Tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun mengandung makna hitungan astronomis. Angka 300 tahun adalah menurut hitungan kalender Matahari dan 309 tahun adalah menurut hitungan kalender Bulan.

Waktu yang dirujuk dalam ayat ini adalah sebagai berikut: 300 tahun x 11 hari (selisih yang terjadi setiap tahun) = 3.300 hari. Mengingat satu tahun Matahari berlangsung selama 365 hari, 5 jam, 48 menit, dan 45,5 detik, maka 3.300/365,24 hari = 9 tahun.

Dengan kata lain, 300 tahun menurut kalender Gregorian sama dengan 300 + 9 tahun menurut kalender Hijriah. Seperti tampak, ayat ini merujuk pada selisih 9 tahun. Ini tidak lain adalah diantara kemukjizatan dan keagungan al-Qur’an.

Seperti diketahui, satu tahun Matahari yang merupakan periode perputaran Bumi mengelilingi Matahari selama satu tahun berdurasi 365 hari atau 366 hari.

Sedangkan satu tahun Bulan yang merupakan perputaran sinodis Bulan mengelilingi Bumi selama setahun berdurasi 354 hari atau 355 hari. Maka, berdasarkan isyarat ayat tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

300 tahun Matahari  = 300 x 365,2422 hari = 109.573 hari.

309 tahun Bulan = 309 x 12 x 29,53 hari = 109.497 hari.

Artinya, para pemuda ini ditidurkan Allah sekitar 109.500 hari, yang mana ini merupakan sebuah mukjizat dan kekuasaan Allah.

Gambar 1. Gua Ashabul Kahfi, terdapat di Amman (Yordania)
Gambar 1. Gua Ashabul Kahfi, terdapat di Amman (Yordania)

Selain aspek bilangan tahun, dalam peristiwa Ashabul Kahfi ini terdapat isyarat kesesuaian pergerakan Matahari di dalamnya.

Dalam QS. Al-Kahfi ayat 17 dikemukakan deskripsi rinci tentang keterkaitan gua Kahfi dengan gerak harian Matahari. Allah berfirman,

“Dan kamu akan melihat Matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila Matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (QS. Al-Kahfi [18]: 17).

Baca juga:  Tinjauan Fikih: Lebih Baik Tidak Salat Jumat Selama Wabah Corona

Ayat ini setidaknya mendorong sejumlah arkeolog dan sejarawan untuk mengkaji fenomena Matahari dan kesesuaian terbit-terbenamnya sebagai terdapat di gua Kahfi yang berjarak sekitar 13 kilometer dari ibukota Yordania, Aman. Tahun 1963 M, “Da’irah al-Atsar al-‘Ammah” Yordania telah melakukan penggalian arkeologis di bawah supervisor Rafiq Wafa ad-Dujjany.

Para arkeolog dan sejarawan ini membuktikan dengan sejumlah bukti bahwa gua Kahfi adalah benar sesuai apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Diantara petunjuk arkeologis yang ditemukan pada gua Kahfi adalah apa yang diisyaratkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 17 di atas.

Penggalian arkeologis tersebut juga membuktikan adanya bangunan di atas gua yang digunakan sebagai tempat ibadah, lalu diubah menjadi masjid di era Islam.

Demikian lagi ditemukan sisa-sisa tujuh buah tiang terbuat dari batu dengan panjang tidak beraturan, berbentuk bulat memanjang. Juga ditemukan sisa-sisa mihrab setengah lingkaran terletak di atas pintu gua.

Lalu diantara tiang-tiang yang tersisa ada sebuah sumur berisi air yang digunakan untuk berwuduk.

Gambar 2. Sisa-sisa peninggalan Masjid di Gua Kahfi (Sumber: Waziry, 2013: 170)
Gambar 2. Sisa-sisa peninggalan Masjid di Gua Kahfi (Sumber: Waziry, 2013: 170)

Sementara itu mimbar masjid tersebut tetap ada sampai hari ini yang tersusun dari tiga tingkatan batu cukup besar.

Gambar 3. Sisa-sisa peninggalan Masjid di hadapan Gua Kahfi (Sumber: Waziry, 2013: 171)
Gambar 3. Sisa-sisa peninggalan Masjid di hadapan Gua Kahfi (Sumber: Waziry, 2013: 171)

Di zaman Khalifah Al-Muwafiq (era Abbasiyah), masjid ini pernah diperintahkan untuk direnovasi. Selain itu, di kawasan ini juga ditemukan sejumlah makam, diduga bahwa itu adalah makam para pemuda Kahfi yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Yahya Waziry (peneliti etno-arkeo astronomi dari Suriah) adalah diantara orang yang pernah melakukan survei dan penelitian langsung ke lokasi ini, yaitu tahun 2003 M.

Dia merekonstruksi ulang ukuran gua secara alami, mengukur arah pintu gua menggunakan kompas, mengukur suhu di dalam dan di luar, mendokumentasi semua sudut dan bagian, termasuk bangunan masjid yang ada di atasnya.

Melalui survei Waziry, diketahui bahwa gua ini memiliki satu pintu menghadap barat-daya, dimana arah gua miring 45 derajat ke arah barat-selatan. Ukuran pintu masuk 1.02 meter dan lebar 1.73 meter.

Konstruksi interior gua terdiri dari ruang utama dengan tinggi 3.35 meter dan memiliki celah di sisi timur, barat, dan utara. Celah di sisi utara adalah celah paling luas. Celah-celah ini menjadi rongga keluar-masuk udara.

Baca juga:  Tentang Berita yang Viral dan Teori Mutawatir
Gambar 4. Sketsa bangunan gua Kahfi (Sumber: Waziry, 2013: 173)
Gambar 4. Sketsa bangunan gua Kahfi (Sumber: Waziry, 2013: 173)

Seperti diketahui, secara astronomis Matahari terbit setiap tahun (yaitu musim dingin, masim panas, musim semi, musim gugur) di sisi gua, tidak dari pintu gua.

Tepat mulai pertengahan hari (jam 12 siang), sinar Matahari akan masuk ke dalam gua, dan akan terus demikian. Sedangkan pada musim panas, Matahari akan menerangi celah pintu masuk sekitar jam 13:00 siang, dan akan terus bertambah hingga puncaknya jam 16:00.

Kemiringan arah pintu masuk gua ke arah barat-daya menunjukkan kesesuaian deskripsi Al-Qur’an, dimana Matahari terbit dan tampak di posisi sebelah kanan gua. Namun gua akan tersinari sejak siang (ketika Matahari bergeser ke arah Barat).

Di sisi lain, sinar Matahari tidak mengenai celah pintu masuk gua pada musim panas. Kenyataannya hal itu memang tidak diperlukan mengingat panasnya suhu di dalam pada musim itu.

Pada saat bersamaan sinar Matahari masuk ke ruang utama saja pada musim dingin dan saat ekuinoks dalam bentuk butiran-butiran cahaya.

Kenyataannya ini diperlukan di area ini guna memasok suhu panas oleh karena Yordania pada musim ini cenderung dalam keadaan musim dingin.

Selain itu, adanya terowongan udara, sejatinya menjadi asupan udara di sepanjang siang hari, dimana udara dingin akan masuk melalui  celah utara, demikian seterusnya.

Kali yang lain, pada hari-hari musim panas, Matahari akan masuk melalui terowongan udara ini dan sampai ke ruang paling bawah terowongan pada saat tengah hari, sudut Matahari mendekati tiang, saat itu suhu di dalam akan menghangat.

Berikutnya terus naik hingga keluar dari pintu terowongan atas, lalu dengan tarikan udara dari dalam gua dan dari sisi pintu gua, hal ini layaknya sebagai lokasi udara yaitu membantu pergerakan udara di dalam gua dan menetralkannya secara terus menerus.

Dengan demikian, semua petunjuk arkeologis dan sejarah tentang gua Kahfi ini menguatkan deskripsi Al-Qur’an tentangnya (Waziry, 2013: 169-176).[]

 

* Dikutip dari buku “Etno-Arkeo Astronomi (Menguak Sisi Astronomi Bangunan-Bangunan Kuno dan Tradisi Masyarakat Silam)” karya Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, dan telah dimuat dalam Majalah Hidayatullah edisi 10 (XXXI) 2020 M / 1441 H.

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Add comment

Tinggalkan komentar