Santri Cendekia

Hadist Mutawwatir dan Berbahayanya Covid-19

Menurut saya, mempelajari ilmu ilmu alat di dalam syariat tidak hanya berguna untuk memahami perkara perkara agama dengan baik dan benar. Tapi juga membantu kita memahami berbagai persoalan yang kita hadapi sehari-hari.

Contoh saja tentang covid-19 varian delta yang memicu gelombang pandemi kedua di indonesia ini.

Hampir semua teman-teman socmed saya (FB dan grup whatsapp) memberikan informasi banyaknya orang orang yang meninggal di lingkaran pertemanan ataupun keluarga mereka.

Sehingga kalaupun kita termasuk golongan yang meyakini bahwa covid-19 tidak berbahaya dan meyakini bahwa data kematian yang disajikan negara itu adalah rekayasa dan konspirasi industri vaksin, minimal dengan kabar yang kita dapatkan dari lingkaran pertemanan kita tentang banyaknya orang yang meninggal di sekitar mereka, itu menjadi penguat bahwa memang jumlah kematian orang meningkat beberapa waktu belakangan ini. Bukan rekayasa.

Karena kondisi penyebaran informasi tersebut mirip dengan hadist mutawwatir. Hadist mutawwatir adalah khabar yang diriwayatkan oleh banyak perawi, secara akal maupun adat mustahil mereka berdusta (misalnya karena mereka tidak saling kenal dan bertempat tinggal berjauhan).

Misalnya saya punya teman FB si arya, tempat tinggalnya di pontianak. Lalu ada lagi si lois, tempat tinggalnya di bandung, ada lagi si indro tempat tinggalnya di padang. Seminggu terakhir mereka update status bahwa mereka merasa akhir akhir ini banyak kenalan mereka yang meninggal. Mereka tidak mungkin bersepakat dan saling berjanji untuk membuat kabar seperti itu, karena saya tau mereka tidak saling kenal dan tinggal berjauhan.

Dari situ saya yakin bahwa benar adanya memang akhir akhir ini banyak orang yang meninggal, akibat apa? Ya qarinah (indikator) terkuat adalah sebab covid-19 varian delta. Karena satu satunya kondisi yang sama di tempat tinggal mereka satu sama lain adalah penyebaran covid.

Baca juga:  Pandemi 'Fitnah' Netizen atas Fatwa tentang Corona

Ditambah kabar-kabar kematian serupa dari teman teman FB saya yg lain maka kabar dari mereka mereka mirip hadist mutawwatir.

Faidah hadist mutawwatir itu adalah menunjukan pengetahuan yang bersifat pasti (Qath’i), meyakinkan. Dengan kata lain, manusia dipaksa untuk percaya secara mutlak, seakan menyaksikan perkara terasebut dengan mata kepala sendiri, sehingga tidak mungkin dia meragukan apa yang dia saksikan sendiri. (At taisir fi ‘ulumil hadist).

Dalam kondisi ini, mohon maaf, tidak ada ruang bagi mereka yang masih tidak percaya covid berbahaya dengan dalil “itu hak keyakinan masing masing”, kecuali akal sehatnya rusak. Manusia tidak berhak untuk bodoh dan membodohi orang lain. Manusia itu berhak pintar dan dipintarkan. Dibina, kalau tak bisa ya dibinasakan sebelum membinasakan orang banyak dengen kebodohannya.

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: