Santri Cendekia
Home » Hati-hati Memilih Tempat “Curhat”

Hati-hati Memilih Tempat “Curhat”

Ketika Yusuf as menceritakan mimpinya kepada ayahnya, Ya’qub as, yang memiliki keahlian untuk menakwilkan mimpi, mena’wil bahwa 11 bintang yang akan bersujud kepada Yusuf adalah kesebelas saudaranya. Sedangkan matahari dan bulan adalah Diri beliau sendiri beserta istrinya. Kelak kemampuan mena’wilkan mimpi ini pun akan menurun kepada Yusuf as. Kisah ta’wil mimpi Yusuf yang terkenal adalah ketika beliau mena’wil mimpi 2 orang pemuda yang beliau kenal di dalam penjara.

Ada beberapa poin menarik yang akan jadi bahasan kita di dalam tulisan ini,

  1. Perintah Ya’qub kepada anaknya untuk tidak menceritakan mimpi yang Yusuf alami dan makar saudara-saudara Yusuf.
  2. Syaithan adalah musuh yang nyata bagi manusia.
  3. Pentingnya berbuat adil kepada anak-anak kita.

Poin pertama, ada kaidah penting yang perlu kita petik di sini. Tidak semua berita atau rencana baik kita, bisa kita ceritakan kepada sembarang orang. Rasulullah bersabda, “Sukseskanlah penyelesaian hajat kalian dengan menyembunyikan (hajat tersebut), karena setiap orang yang memiliki nikmat pasti akan mendapatkan sikap hasad (dari orang lain)”. (HR Thabrani: 20/94 dan dinilai shahih oleh Al-Albani). Kita tidak pernah tahu kapan rasa dengi menghujam kuat ke dalam hati seseorang yang mendapatkan berbagai cerita nikmat dari kita.

Oleh karena itu, berhati-hatilah memilih orang yang akan mendapatkan cerita tentang nikmat-nikmat ataupun kesuksesan kita. Jika kita baru saja mendapatkan rezeki berupa uang yang banyak, jangan kita ceritakan kepada kawan kita yang miskin. Jika kita mendapatkan rezeki berupa tubuh yang bugar, jangan kita sampaikan kepada teman kita yang tubuhnya ringkih dan menderita penyakit. Jika kita bahagia melihat lucunya pertumbuhan anak kita, jangan ceritakan kepada kawan kita yang beum dikaruniai anak setelah pernikahannya bertahun-tahun.

Jika dalam bercerita soal nikmat tanpa ada niat sombong pun kita dianjurkan untuk beradab dan berhati-hati, apatah lagi jika kita bercerita untuk menyombongkan diri atas segala kelebihan yang kita punya? Maka sungguh sangat tidak penting untuk meng-upload semua yang kita punya ke socmed. Makanan, harta, kendaraan, rumah, pasangan, hingga anak, semua di upload ke socmed. Kita tidak pernah tahu berapa ribu orang yang dengki akibat postingan kita itu. Ingat, menjaga dengki adalah tugas pribadi dan sosial. Jangan menjadi teman Syaithan untuk membangkitkan kedengkian di hati orang lain.

Baca juga:  Adakah "Kesalahan" Gramatik di dalam Al-Qur’an?

Makar yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf, adalah akibat kedengkian mereka kepada Yusuf. Mereka merasa bahwa Yusuf dan saudaranya seibunya, Bunyamin, lebih disayangi oleh ayah mereka. Namun apa iya? Karena dengki, mereka bisa membuat makar untuk membinasakan saudaranya sendiri? Ingat, kedengkian tidak pandang buluh. Bahkan, Yusuf tidak pernah menceritakan mimpinya kepada ke 10 saudaranya. Namun makar tetap terjadi hingga akhirnya kita semua tahu, Yusuf dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya.

Jangan remehkan persoalan dengki-mendengki. Bahkan dosa pertama yang terjadi di langit (iblis kepada Adam) dan di bumi (Qabil kepada Habil) disebabkan oleh dengki. Dengki pun bisa menyerang ‘Ulama. Seperti perkataan Ibnu Jubair, “Tapi diamlah dan jangan libatkan dirimu jika mereka sedang membicarakan orang ‘Alim lain. Sungguh, rasa cemburu di antara mereka, melebihi saling bersaingnya kambing-kambing jantan.” Karena dengki, Walid bin Mughirah, Abu Lahab, Abu Jahal, dan banyak tokoh kafir quraisy menutup hatinya dari hidayah sedang akalnya mengakui kebenaran islam.

Point kedua, Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Ya’qub menutup nasihatnya. Syaithan selalu jadi pemantik utama berbagai macam keburukan yang dilakukan oleh manusia. Syaithan pula yang akan menyulut api dengki di dalam manusia hingga akhirnya dengki itu melumat habis semua kebaikan layaknya kayu di makan api. Maka dalam surat Al-Falaq ayat 5, kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari dengkinya orang – orang yang dengki.

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar