Santri Cendekia

Ikhtiar Muhammad Abduh Dalam Menyatukan Dualisme Pendidikan di Mesir

Muhammad Abduh merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh pada Abad ke 18 M. Munculnya Ide-ide pembaharuan Abduh tidak dapat dipisahkan dari pengaruh Jamaludin al-Afghani. Terutama mengenai pemikiran modern Barat dan beberapa ilmu modern lainnya. Pengaruh yang dapat disaksikan secara nyata ialah upaya untuk mengekspresikan perubahan dalam masyarakat melalui penataan moral mereka. Hanya saja pada al-Afghani perubahan yang diinginkan dalam bentuk revolusionery of people melalui perubahan politik, sementara Abduh mengingginkan perubahan itu dalam gradual transformasion of the mind melalui pendidikan dan pengajaran.[1] Berdasarkan catatan sejarah, Abduh bukanlah orang yang pertama kali membawa konsep modernisasi pendidikan. Melainkan sebagai pelanjut konsep yang sudah ada sebelumnya lalu memodifikasi sesuai pemahaman yang terbaik menurut Abduh.

Sebelum Muhammad Abduh, modernisasi pendidikan dilakukan oleh Muhammad Ali, yaitu seorang penguasa Mesir ketika itu. Upaya yang dilakukannya cukup memberikan kontribusi yang besar untuk menjadikan Mesir sebagai negara modern. Gerakan yang dibawa Ali bermula dengan mengenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat kepada umat Islam, yang akhirnya dapat mempengaruhi perkembangan intelektual yang besar.

Setelah Muhammad Ali naik tahta, yaitu menjadi penguasa di Mesir. Ia lalu mengerahkan usaha untuk memperkuat kekuasaannya, yaitu dengan memberikan perhatian tinggi dalam bidang militer dan ekonomi. Bidang militer secara tidak langsung akan memperkuat dan memperbesar kekuasaanya, sedangkan ekonomi adalah sebagai penopang kelancaran kegiatan militer. Untuk memajukan kedua bidang tersebut, maka dibutuhkanlah ilmu-ilmu modern sehingga Ali berusaha menaruh perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Adapun Langkah awal yang ia bangun ialah dengan membentuk kementrian Pendidikan[2].

Melalui kekuasaan yang dimiliki, akhirnya Ali membangun sekolahan-sekolahan yang berorientasi kepada pendidikan Barat. Hal ini dapat terlihat dari lembaga sekolahan yang didirikan lebih meniru kepada Sistem Pendidikan Barat dan pengajaran berdasarkan Metode Barat. Selanjutnya, di sekolah tersebut juga diajarkan bebagai macam ilmu pengetahuan sebagaimana yang ada di Barat. Bahkan untuk memenuhi tenaga guru ia sampai mendatangkan tenaga pengajar dari Barat, terutama dari negeri Perancis. Selain itu, ia pun mengirim beberapa pelajar ke Barat yang kelak diharapkan dapat mengembangkan keilmuannya di Mesir[3].

Dari modernisasi pendidikan yang dilakukan Muhammad Ali tersebut, kemudian mewariskan dua tipe Pendidikan. Tipe pertama ialah sekolah-sekolah tradisional dengan al-Azhar sebagai lembaga tertingginya. Tipe kedua ialah sekolah-sekolah modern baik yang didirikan oleh pemerintah Mesir ataupun oleh para missionaris asing. Kedua tipe Pendidikan tersebut tidak ada hubungannya sama sekali, masing-masing berdiri sendiri. Sekolah agama berjalan diatas garis tradisional, baik dari segi kurikulum maupun metode pembelajarannya, sedangkan sekolah-sekolah modern sepenuhnya berkiblat kepada Barat. Dalam perjalanannya, sekolah agama hanya mengajarkan ilmu agama dan mengabaikan ilmu-ilmu umum atau tidak mengajarkan ilmu-ilmu yang datang dari Barat. Sementara sekolah modern tampil dengan memberikan ilmu pengetahuan yang bersumber dari Barat sepenuhnya, tanpa memasukan kurikulum ilmu pengetahuan agama ke dalamnya[4].

Dua tipe Pendidikan yang ada ketika itu berdampak kepada dua kelas sosial dengan motivasi yang berbeda. Tipe pertama melahirkan para ulama dan tokoh masyarakat yang enggan menerima perubahan atau lebih cenderung melestarikan tradisi yang sudah ada. Sedang tipe kedua melahirkan generasi muda yang mendewakan perkembangan Barat tanpa melakukan filterisasi. Berdasarkan peristiwa itu Muhammad Abduh melihat bahwa ada sesuatu yang negatif dari kedua pemikiran tersebut, sehingga ia mengkritik kedua tipe pendidikan yang ada. Sebab, jika pola pikir yang pertama tetap dipertahankan, maka akan mengakibatkan umat Islam semakin tertinggal jauh dan semakin terdesak oleh arus kehidupan dan pola kehidupan modern. Sementara pola yang kedua, Abduh melihat bahwa jika pemikiran modern yang mereka serap dari Barat tanpa nilai-nilai religius, maka akan dapat mengancam sendi-sendi agama dan moral.

Berangkat dari sinilah Muhammad Abduh melihat perlunya mengadakan perbaikan terhadap kedua pola pendidikan yang sudah berjalan ketika itu. Dengan harapan pendidikan tersebut dapat saling menopang demi untuk mencapai suatu kemajuan, serta untuk mempersempit dikotomi ilmu antara dualisme pendidikan yang ada. Ikhtiar Muhammad Abduh dalam mendobrak dualisme pendidikan ialah dengan membuat ide pokok modernisasi pendidikan Islam. Oleh sebab itu, tulisan ini mencoba mencari tahu ide pokok modernisasi pendidikan Islam yang dibangun oleh Muhammad Abduh.

Baca juga:  Sehebat Itukah Imam Syafi'i?; Kritik Pada Tesis Schacht

Modernisasi Pendidikan Islam

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia etimologi modernisasi berarti proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntunan masa kini[5]. Menurut masyarakat Barat “modernisasi” mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha-usaha untuk mengubah paham, adat istiadat dan institusi-institusi lama agar sesuai dan mau menerima pendapat baru dan keadaan baru yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern[6], sedangkan menurut Abdullah dan Toto Suharto modernisasi ialah pembaharuan, yang merupakan alih bahasa dari istilah tajdid[7]. Merujuk dari pengertian di atas, maka modernisasi dapat diartikan sebagai pendangan baru yang berusaha menyesuaikan tradisi dan keyakinan agama agar dapat harmonis dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pendidikan Islam berakar dari kata didik yang memiliki arti pelihara, ajar dan jaga[8]. Dalam Bahasa Arab sering disebut dengan istilah ta’lim, tarbiyah dan ta’dib[9]. Dalam dunia akademik kata tarbiyah lebih sering digunakan dari dua kata tersebut, meskipun menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas dinilai kurang tepat, sebab kata tarbiyah yang digunakan dalam pendidikan merupakan istilah yang relatif baru yang dibuat oleh orang yang mengaitkan dirinya dengan pemikiran modernis.[10]

Ada banyak terminologi pendidikan Islam, misalnya menurut Zakiyah Darajat bahwa pendidikan Islam ialah sikap pembentukan manusia berupa perubahan sikap dan tingkah laku sesuai petunjuk Islam.[11] Lalu menurut Abdul Mujib ialah suatu proses transinternalisasi pengetahuan dan nilai Islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensinya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat.[12] Sedangkan menurut Hasan Langgulung sebagaimana dikutip oleh Muhammad Fathurrahman bahwa ia merupakan proses menyiapkan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di hari akhir nanti.[13] Dari pengertian-pengertian yang telah dijelaskan, maka modernisasi pendidikan Islam dapat diartikan sebagai pembaharuan cara pandang, metode atau sistem pendidikan secara Islami.

Ide Pokok Muhammad Abduh

Demi menyatukan dualisme pendidikan ketia itu, Abduh berikhtiar mencari solusi dengan cara membuat ide pokok modernisasi pendidikan Islam. Tentunya ada tujuan yang jelas, yaitu menyelarakan perkembangan ilmu pengetahuan dengan agama. Sebab agama adalah mashlahat untuk setiap zaman (waktu) dan makan (tempat). Di antara ide-ide pokoknya yaitu:

  1. Tujuan Pendidikan

Untuk meningkatkan pemberdayaan sistem pendidikan Islam, Abduh membuat rumusan tersendiri tentang tujuan pendidikan Islam, yaitu: tujuan hakiki dari pendidikan adalah pendidikan akal dan jiwa dan menyampaikannya pada batas yang memungkinkan peserta didik mampu menemukan kebahagiann yang sempurna.[14]

 Pendidikan akal menurut Abduh hanyalah sebagai instrumen yang dapat membiasakan diri untuk berpikir jernih saat membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang manfaat atau mudharat. Pendidikan akal menjadi sesuatu tujuan yang terpenting, sebab ia dapat membuat orang terhindar dari kebodohan dan menghindar dari penghambaan terhadap tuhan-tuhan yang tidak berhak disembah menuju kepada tuhan yang wajib disembah.[15]Adapun pendidikan jiwa menurut Abduh ialah berusaha menanamkan kemampuan dan sifat terpuji kepada peserta didik, agar dapat terhindar dari sifat yang buruk dan taat dengan norma-norma yang ada.

Dengan menanamkan kebiasaan berpikir, Abduh berharap kebekuan yang melanda kaum muslimin dapat segera dicairkan, dan dengan pendidikan spiritual, diharapkan akan dapat mencetak generasi baru yang tidak hanya memiliki daya kritis yang tinggi melainkan juga memiliki akhlak yang mulia lagi jiwa yang bersih.

Akal dan jiwa menjadi nilai yang penting dalam dunia pendidikan, jika salah satunya hilang maka hilanglah tujuan pendidikan tersebut. Sebaliknya, jika dua komponen itu dapat dimiliki oleh seorang peserta didik, maka akan mendapatkan suatu manfaat yang besar dan terhindar dari bencana keterbelakangan. Menurut Abduh, manfaatnya suatu ilmu yang dimiliki seseorang adalah saat ia memiliki akhlak yang baik, sebab banyak orang pintar tapi tidak memiliki akhlak yang mulia, maka ini amat sangat disayangkan.

Baca juga:  Al-Qur’an dan Angka (Kritik Terhadap Abu Zahra al-Najdi)

Selain itu, seperti yang dikutip Abu Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh pun memiliki tujuan institusional.[16] Pokok pikirannya tentang tujuan instituonal pendidikan didasarkan kepada tujuan pendidikan sekolah. Ia membagi jenjang pendidikan menjadi tiga tingkatan, yaitu Tingkat Dasar (mubtadiin), Tingkat Menengah (tabaqat al-wusta), Tingkat Atas (tabaqat al-‘ulya). Pembagian kelompok-kelompok ini disesuaikan dengan tiga kekompok masyarakat di lapangan pekerjaan, yaitu Petama, kelompok para tukang, pedagang, petani, dan yang sederajat dengan mereka. Kedua, adalah para pejabat yang mengatur urusan negara, panglima angkatan bersenjata dan yang sederajat dengannya. Ketiga ialah para ulama, pemimpin masyarakat dan yang semisalnya.[17]

Pada pendidikan tingkat dasar, tujuan institusionalnya adalah pemberantasan buta huruf yang melanda kebanyakan masyarakat. Harapannya mereka mampu membaca dan berkomunikasi dengan baik melalui tulisan. Selain itu juga mampu berhitung sebagai penunjang aktivitas keseharian mereka.[18]

Pendidikan tingkat menenggah bertujuan mendidik peserta didik agar nantinya dapat bekerja sebagai pekerja pemerintah, baik sipil maupun militer. Mereka diharapkan oleh negara sebagai orang-orang yang dipercaya dan dapat bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan. Misalnya menjadi tantara, mereka dipersiapkan menjadi prajurit yang tangguh dan berani menghadapi musuh. Untuk hakim, mereka dipersiapkan untuk menyelesaikan pertikaan yang terjadi di kalangan masyarakat dan memberikan hukuman seadil-adilnya sesuai undang-undang yang ada, yaitu membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Ide ini muncul akibat pengalaman pribadi Abduh yang pernah diperlakukan tidak adil oleh kalangan pemerintah yang selalu mengedepankan kepentingan pribadi.

Pendidikan tingkat tinggi adalah untuk mencetak tenaga guru dan pemimpin masyarakat yang berkualitas. Harapannya guru yang sudah selesai dari pendidikan tingkat tinggi ini mampu mengajar di berbagai tingkatan atau diseluruh jenjang. Selain menjadi guru, mereka pun dituntut untuk membina kesejahteraan masyarakat.[19]

  1. Kurikulum Pendidikan

Rumusan kurikulum yang disusun Muhammad Abduh berdasarkan tingkatan-tingkatan, dari tingkatan pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Lalu pengorganisasian berdasarkan pada pembagian lapangan kerja yang akan digeluti. Dari situlah Abduh mencoba merencanakan kurikulum pendidikan, agar setelah selesai pendidikan peserta didik mampu melaksanakan tugasnya sesusai tuntutan agama Islam dan perkembangan zaman.

  1. Tingkat sekolah dasar kurikulum pendidikannya meliputi: membaca, menulis, berhitung, dan pelajaran dasar agama dengan materi akidah, fikih, akhlak, dan sejarah Islam.
  2. Tingkat menenggah: ilmu logika (fann al-mantiq), dasar penalaran (al-ushul al-nazari) akidah yang dibuktikan dengan dalil-dalil qat’i maupun zannny, fikih lanjutan, akhlak lanjutan, sejarah Islam lanjutan dan ilmu debat (adab al-jadal).
  3. Tingkat Atas: tafsir, hadis, bahasa Arab dengan segala cabangnya, pembahasan akhlak secara rinci, sejarah Islam secara rinci, dasar-dasar berdiskusi dan ilmu kalam.[20]

Dari formulasi kurikulum yang dirancang Abduh, sangtlah jelas bahwa ia berusaha menghilangkan dualisme pendidikan yang ada pada masa itu. Abduh menghendaki semua sekolah umum agar memberikan materi agama dan untuk sekolah tradisional diharapkan juga menerapkan ilmu-ilmu umum atau ilmu pengetahuan yang berasal dari Barat.[21] Jika diperhatikan, kurikulum dasar yang dirancang Abduh sudah membiasa diri pada peserta didik agar berlatih bepikir kritis dan logis. Hal ini dilakukan supaya suatu saat nant peserta didik yang lahir dari kurikulum ini memiliki daya nalar berpikir yang tajam dalam memahami ilmu-ilmu pengetahuan umum dan agama, sehingga mereka melakukan ajaran agama karena memang bertul-betul paham dasarnya. Bukan karena taqlid buta, seperti yang dialami oleh kebanyakan umat muslim ketika itu.

  1. Metode Pendidikan Islam
Baca juga:  Antropologi Syariah: Kajian Brinkley Messick terhadap Fikih Zaidiyyah

Dalam perjalanan mencari ilmu, Abduh pernah merasakan bosan disebabkan metode yang digunakan gurunya, sehingga ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari ilmu. Akhirnya tetap sama, kebanyakan masyaikh (guru) menggunakan metode hafalan tanpa adanya pemahaman yang detail. Pada akhirnya Abduh dipertemukan dengan al-Afghani yang menjadi gurunya serta mengajarkan kepadanya berbagai variasi metode dalam belajar. Oleh karena itu, saat Abduh mengajar ia menawarkan atau menggunakan berbagai metode, diantaranya ialah: metode menghafal disertai pemahaman, metode diskusi, metode teladan, dan metode pelatihan.

Kesimpulan

Ikhtiar dalam menyatukan dualisme pendidikan yaitu melalui modernisasi pendidikan Islam. Ide-ide Muhammad Abduh itu merupakan angin segar dan pelita yang terang bagi kaum muslimin di Mesir khususnya, umumnya bagi seluruh Dunia. Abduh berhasil membongkar benteng dualisme pemikiran pendidikan yang ada saat itu mejadi saling berkaitan satu dengan yang lainnya

Modernisasi Pendidikan Islam yang dilakukan Muhammad Abduh yaitu dengan cara memformulasikan tujuan, kurikulum dan metode pendidikan Islam. Tujuan pendidikan yang dibangun Abduh adalah mencoba mengkolaborasikan akal dan jiwa, sehingga orientasi pelajar ke depan ialah mendapatkan kebahagiaan Dunia dan Akhirat. lalu dari segi kurikulum dibentuk berdasarkan tingkatan-tingkatan, dari tingkatan pendidikan dasar sampai tingkatan pendidikan tinggi. Pengorganisasiannya berdasarkan pada pembagian lapangan kerja yang akan digeluti. Haraapannya agar setelah selesai pendidikan peserta didik mampu melaksanakan tugasnya sesusai tuntutan agama Islam dan perkembangan zaman. Selanjutnya berkenaan metode. Dalam urusan ini Abduh mengusulkan metode pendidikan Islam agar dibangun dengan cara menghafal disertai pemahaman, diskusi, teladan dan pelatihan.

[1] Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hal.137.

[2] Supriadi AM, Konsep Pembaharuan Sistem Pendidikan Menurut Muhammad ‘Abduh, Jurnal KORDINAT Vol. XV No. 1 April 2016.

[3] Suwito, Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan, (Bandung: Angkasa, 2003), hal. 306.

[4] Ibid., 306

[5] KBBI tahun 2002, hal. 751.

[6] Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, (Jakarta: Mizan, 1995), hal. 90.

[7] Abdullah dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hal. 65.

[8] Muhammad Fathurrahman dan Sulistyorini, Meretas Pendidikan Berkualitas Dalam Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2012), hal. 8.

[9] Ibid., 9.

[10] Ibid., 10.

[11] Zakiyah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hal:25.

[12] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hal: 27-28.

[13] Muhammad Fathurrahman dan Sulistyorini, Meretas Pendidikan Berkualitas Dalam Pendidikan Islam …, hal. 16.

[14] Muhammad Imarah, al-‘Amal al-Kamilah li al-Syaikh Muhammad Abduh, jilid 3, (Beirut: Dar al-Syuruq), hal. 29.

[15] Ibid., 29.

[16] Tujuan Institusional ialah tujuan yang ingin dicapai suatu sekolah secara keseluruhan, artinya jika seseorang telah menamatkan pelajarannya atau telah lulus dari ujian sekolah tersebut, maka ia dianggap telah mencapai tujuan-tujuan yang dibebankan kepadanya.

[17] Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam…, hal. 147.

[18] Ibid., 148.

[19] Ibid., 148.

[20] Ratnawati, “ Ijitihad dan Modernisasi Pendidikan Muhammad Abduh,” Jurnal Al-Ibrah, Vol.3 No.2 Desember (2018), hal. 11.

[21] Muhammad Abduh berpendapat bahwa ilmu pengetahuan modern yang berkembang di Barat kebanyakan bersumber kepada hukum alam atau berdasarkan sunnatullah. Oleh sebab itu, ilmu modern tersebut tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam. Ilmu pengatahuan adalah sebab majunya umat Islam terdahulu dan majunya Barat pada saat ini. Untuk mencapai kemajuan seperti dahulu maka umat Islam perlu mempelajari ilmu pengetahuan umum tanpa melalaikan ilmu pengetahuan agama. Lihat Nasution, Pembaruan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, hal.56.

Fadhlurrahman Rafif Muzakki

Alumni PAI UMY!

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: