Santri Cendekia
Home » IQRA’ dan Peradaban Bercahaya itu pun Dimulai! (Al-Alaq : 1)

IQRA’ dan Peradaban Bercahaya itu pun Dimulai! (Al-Alaq : 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

”Bacalah! Dengan Nama Tuhamu Yang Menciptakan.” (Al-Alaq: 1)

 

            Ketika itu peradaban ada di titik nadir. Penyimpangan dan kerusakan terjadi hampir di setiap lini dan aspek hidup manusia. Romawi dan Persia, yang menjadi 2 emperium besar dunia saat itu pun tidak bisa membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, bahkan malah menjadi pelopor berbagai kerusakan. Berbagai kerusakan dunia saat itu, digambarkan cukup detail oleh Abu Hasan ali Al-Hasani An-Nadwy dalam bukunya yang berjudul “Kerugian dunia akibat kemunduran islam”.

            Di Persia terjadi penyimpangan seksual yang begitu ekstrim, aliran mazduk yang mengijinkan pemeluknya untuk memperkosa siapapun yang ingin diperkosa tanpa boleh menolak. Hingga aliran maniyah yang mengkebiri fitrah manusia akan kebutuhannya terhadap lawan jenis. Di romawi, sekte-sekte kristen antara aliran manufisiyah dan milkaniyah menghabiskan jaman dengan pertumpahan darah dan perdebatan teologis yang tak berdasar. Di Mesir dan daerah kekuasaan Romawi lainnya, mereka hidup hanya untuk menjadi sapi perah bagi romawi. Di ambil manisnya, lalu dibuang setelah sepah. Hingga tak sedikit dari mereka yang berharap segera dijajah oleh bangsa lain agar terlepas dari romawi. Di india, pengkastaan manusia pun sampai kepada titik nadirnya, di mana kehormatan bagi si kasta sudra adalah menjadi pelayan abadi bagi si kasta brahmana. Penyimpangan seksual dan pemerkosaan pun sudah marak di kalangan rahib-rahib mereka, hingga kita mengenal “kamasutra” yang terkenal itu. Di cina, agama hanyalah apa yang diraba oleh prasangka dengan jumlah dewa dan tuhan yang terus bertambah sekehendak manusia. Tidak ada satupun yang bisa menjadi harapan bagi peradaban dunia.

Baca juga:  Antara Pasar dan Kantor

            Lalu sedikit kita menengok ke jazirah arab. Anak cucu Ibrahim dan Ismail masih menyimpan sedikit banyak nilai-nilai mulia seperti keberanian, perlindungan, kesetiaan, penepatan janji, pemuliaan dan penjamuan tamu. Namun bercampur dengan kebusukan-kebusukan penyembahan berhala, fanatisme kesukuan jahiliyyah, pelacuran yang terlegalisasi,hingga pembunuhan anak-anak wanita.

            Lalu, Nabi akhir jaman itu pun diutus. Muhammad bin ‘Abdullah, manusia terbaik, dari nasab dan suku terbaik. Dengan bermodalkan aqidah dan hati yang jernih, ia memutuskan untuk merenung di gua hira semenjak umurnya yang ke 37 tahun, demi mendapatkan jawaban dari hatinya yang gelisah terhadap kondisi umat. 3 tahun berselang, akhirnya cahaya itu datang. Jibril membawa sebuah perkataan dari Allah ‘Azza wa Jalla yang lebih berat dari gunung, dimana kata itu yang menjadi gong dari dimulainya peradaban islam yang akan menjadi cahaya hingga akhir jaman.

            Apa ayat yang turun itu? Apakah perintah tentang menghancurkan berhala? Memberantas zina? Merebut kepemimpinan politik? Penyusunan kekuatan militer? Memberantas perzinahan dan miras? Tentang ekonomi? Tentang akhlak? Atau apa? Ternyata Allah Yang Maha Tahu itu memberikan satu perintah yang akan menjadi solusi dari semua kerusakan yang terjadi. IQRA! Bacalah! Ayat ini tentang perintah agar  kita memulai peradaban besar bernama islam dengan berilmu. Ilmu yang seperti apa? Ilmu yang kamu pelajari dengan nama Rabbmu Yang Menciptakan. Ilmu yang membimbingmu untuk mengagungkan Tuhanmu dan menjadi khalifah adil di bumi-Nya.

           Menarik sekali, tanpa Allah menambahkan salah satu sifat Allah “Yang Menciptakan”, sebenarnya definisi Rabb itu sendiri sudah mencakup Allah sebagai Dzat Yang Menciptakan. Tapi Allah hendak memberikan penekanan pada Sifat-Nya yang satu ini, mengapa? Agar manusia belajar dengan senantiasa mengingat sebuah kaidah, bahwa Sang Pencipta itu lebih tahu bagaimana mengatur ciptaan-Nya. Jadi siapapun itu yang sok ingin coba mengahadirkan hukum-hukum tandingan bagi hukum-hukum Allah, pasti hancur dan bikin kehancuran. Siapapun yang ingin membangun ideologi-ideologi di luar ideologi yang Allah ridhoi, siap-siap celaka dan mencelakakan. Liberalisme, komunisme, sekularisme, pluralisme, fenimisme, dan isme-isme lainnya. Sudah banyak memasukan manusia ke jurang yang gelap.

Baca juga:  Belajar Hadis Itu Berbahaya!

            Selain itu, proses belajar kita, tidak boleh lepas dari tadzkirah kita terhadap Allah. Belajarlah kita, dengan metodologi yang Allah ajarkan kepada kita melalui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu diteruskan oleh para khulafaur-rasyidin dan para sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi;in, dan para ulama ulama soleh. Karena Allah sudah berfirman dalam surat Al-Baqarah : 151, bahwa Allah mengajarkan kita apa-apa yang tidak kita ketahui. Artinya? Siapapun yang mengaku tahu akan sesuatu, namun tidak sesuai dengan apa-apa yang Allah tentukan dan ajarkan, ya sebenarnya dia itu bodoh dan tidak tahu. Misalnya jargon-jargon pluralis, “tidak boleh mengklaim kitab suci sendiri yang paling benar!”, itu statement orang bodoh (yang ini sedang hangat di socmed).

            Pelajarilah ilmu dengan urutan dan urgensitas yang tepat, Mulai dari yang Fardhu ‘ain, ilmu tentang Allah, sifat-sifat Allah, konsekuensi aqidah, Al-Wala wal Bara’, hari kiamat, surga neraka dsb. Baru beranjak ke ilmu-ilmu fardhu kifayah. Ini belum kuat ilmu Fardhu ‘ainnya, sekolahnya ke negara liberal, pendidikannya sekuler, lingkungannya humanis dan pluralis, buku-bukunya tentang komunis. Ibarat anda ingin menyaring pasir dengan saringan yang mudah sobek. Bukan pasir yang anda dapat,  kotoran-kotoran hewan sungai dan lumpurnya yang anda dapat.

 

Allahu a’lam bishshawab

Avatar photo

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar