Santri Cendekia
Home » “Israhell B4bi!”: Panduan Membenci Kolonialisme Sejak Dini

“Israhell B4bi!”: Panduan Membenci Kolonialisme Sejak Dini

Penulis: Fitri

Saya belum punya anak dan tidak punya adik juga, tapi saya punya ponakan kelas 4 SD yang ‘criwisnya’ minta ampun. Suatu ketika dia masuk kamar saya dan baca-baca buku On Palestine karya Noam Chomsky & Ilan Pappe yang baru selesai saya lepas sampulnya.

Dia baca sembarang halaman sambil mengeja dan beberapa di antaranya baca sambil terdiam, lalu tiba-tiba dia nyeletuk “ISRAEL B4BI! Iya, kan, Mbak?”, lalu dia menutup buku tersebut lantas keluar kamar dan ngadu ke Mbah Utinya, “Itu, lho, Ti, aku habis baca buku tentang Palestina kasian banget, emang Israel itu uhh,” sambil menunjukkan wajah geram.

Sejujurnya saya agak kaget dengan celotehan dia, saya hanya mikir dia dapat kalimat itu dari mana? Karna di buku On Palestine nampaknya tidak ada kalimat “ISRAEL B4BI”. Setahu saya itu adalah kalimat hujatan netizen Indonesia untuk kaum Zionis Israel.

Dari pada pusing memikirkan hal itu, kali ini celotehan dia saya iyakan, ya karena memang benar “ISRAEL B4BI”, bahkan bisa dibilang lebih mending babi. Karena babi hidup liar atau dipelihara, ketika mati masih banyak gunanya, mulai dari daging, kulit, bulu, tulang dan lainnya sebagai bahan konsumsi, kosmetik dan seterusnya. Sedangkan kaum Zionis tidak lebih dari sekedar “manusia-manusia sangat menyebalkan” yang sengaja dihadirkan Tuhan agar manusia lain belajar sabar dan mengambil pelajaran. Kaum Zionis ketika hidup membuat kerusakan dengan dalih perdamaian dunia, dan ketika mati yasudah sia-sia begitu saja. Lebih mending babi, bukan?

Terkait celotehan “ISRAEL B4BI!” dari ponakan dan sikap saya ketika mengiyakan, jadi teringat tulisan Kalis Mardiasih dalam bukunya Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar!. Dia mengkritik jargon anak-anak TPA “Islam-Islam Yes, Kafir-Kafir No!”, bagi dia usia anak-anak harusnya lebih banyak ditanamkan tentang kasih sayang dan perdamaian antar sesama manusia, dari pada kebencian dan permusuhan, apalagi klaim kebenaran antara pahala-surga dan dosa-neraka.

Baca juga:  Harapan Ulama Muhammadiyah Untuk Presiden Jokowi

Tulisan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Di satu sisi tidak sepenuhnya salah karena usia anak-anak memang masa-masa emas yang sangat cocok untuk ditanamkannya banyak motivasi kebaikan, sehingga diharapkan ketika dewasa nanti mampu melakukan kebaikan dengan kesadaran bukan paksaan.

Namun di sisi lain, tulisan tersebut juga tidak sepenuhnya benar, karena jika diterapkan ke seluruh aspek, saya khawatir justru akan menimbulkan paham “pluralis” tentang kebenaran, bahkan “kebimbangan” baik dan buruknya suatu hal ketika dewasa nanti.

Sebagai contoh, salah satu teman saya dengan background masa kecil penuh kedamaian dan kasih sayang antar sesama, dan ketika dewasa – terkait konflik Israel-Palestina sejak 7 Oktober 2023 – saya coba tanya, “Kamu pro Israel atau Palestina?”

Dia jawab, “Aku pro Palestina tapi tidak 100%.”

Saya tanya balik, “Kenapa masih ada sisa persentase untuk Israel? Bukannya sudah jelas mana benar dan mana yang salah?”

Dia menimpali dan menjelaskan panjang lebar bahwa masing-masing pihak bertindak pasti punya alasan, jadi tidak benar untuk membela salah satu dan menyalahkan lainnya, Israel punya bagian hak tanah atas Palestina, lalu dia juga mengkaitkan bahwa penjajahan Israel atas Palestina ada andil dari umat Islam sendiri yakni kekuasaan Ottoman Turki saat itu, jadi tidak benar semua kontra dengan Israel.

Cukup geram kemudian saya tanya sumber bacaan dia dari mana, dan dia jawab, “Aku tau dari buku Sejarah Dunia Yang Disembunyikan karya Jonathan Black,” dari situ saya cuma mbatin woalah kampreettt.

Dari situ saya jadi kembali berpikir, jangan-jangan orang-orang dewasa yang sampai sekarang tidak juga paham tentang posisi Israel sebagai pelaku kolonialisme dan perampasan atas tanah Palestina itu disebabkan salah satu faktor penerapan teori kasih sayang dan kedamaian antar manusia yang tidak tepat di masa kecilnya.

Baca juga:  Sistem Pendidikan di Israel Sengaja Hapus Sejarah Arab-Palestina

Jangan-jangan orang-orang dewasa yang sampai saat ini masih bimbang dengan peran dukungan terhadap Palestina melalui boikot produk terafiliasi genosida itu disebabkan hasil penerapan teori kasih sayang dan kedamaian yang salah kaprah di masa-masa emasnya. Paham “pluralisme kebenaran” dan “kebimbangan” baik dan buruknya sesuatu, itulah yang saya khawatirkan.

Padahal usia anak-anak (terkhusus mumayiz) sesuai dengan fitrahnya, wajib diberi penjelasan tentang baik dan buruk secara tegas, baik itu persoalan akidah, ibadah maupun muamalah. Sebagai contoh Islam Yes (karena baik dan mengantarkan seseorang masuk Surga), sedangkan Kafir No (karena buruk dan menjerumuskan seseorang masuk Neraka); Palestina Yes (karena benar dan merupakan penduduk asli), sedangkan Israel No (karena salah dan hanya merupakan pendatang kejam yang ingin merampas tanah penduduk asli).

Untuk anak-anak usia mumayiz, alih-alih memberikan mereka kebebasan memilih dan bertindak lepas dengan dalih ‘kreativitas’, mengarahkan dan memberikan pemahaman yang benar adalah jauh lebih penting, supaya ketika dewasa nanti paham batasan baik dan buruknya sesuatu. Adilnya adalah tetap membesarkan mereka dengan motivasi-motivasi kebaikan, sembari diimbangi dengan penanaman nilai-nilai ke-Islaman sesuai dengan porsinya.

Karena lagi-lagi saya khawatir ketika hanya terfokus pada motivasi kebaikan, maka celotehan “ISRAEL B4BI!” oleh ponakan saya timpali, “Eh, nggak boleh ngatain gitu, Israel itu manusia sama kaya Palestina, mereka cuma mainan perang-perangan aja, jadi gak boleh melaknat mereka ya, harus disayang semua oke,” tentu akan jadi sangat aneh bukan?

Karena faktanya memang tidak demikian.

Avatar photo

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: [email protected]

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar