Santri Cendekia
Home » Istidraj & “Success (?) Story” (Al-Fajr 15-16 part 1)

Istidraj & “Success (?) Story” (Al-Fajr 15-16 part 1)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

 Maka adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya nikmat, maka ia berkata, “Tuhanku sedang memuliakanku”. Namun apabila  Tuhannya mengujinya dengan membatasi rizkinya, maka ia berkata, “Tuhanku sedang menghinakanku” (Al-Fajr : 15-16).

 

Begitulah kita manusia, terlalu mudah menilai derajat diri di hadapan Rabbnya dengan menjadikan nikmat dan rizki yang ada pada dirinya sebagai ukuran. Ketika mendapati diri ini bergelimang nikmat dan berbagai macam kesenangan diri, kita merasa bahwa saat itu Allah sedang mengangkat derajat kita. Kita merasa saat itu kitalah manusia yang paling sukses dan layak mendapatkan penghormatan di sana sini. Kita merasa bahwa kitalah yang harus dijadikan standar kesuksesan bagi orang-orang di sekitar kita. Kita mulai jarang untuk menghisab amalan-amalan diri. Kita mulai mudah untuk merendahkan orang lain yang tidak seberuntung kita. Hati ini mulai mudah sakit dan tersinggung apabila orang-orang di sekitar kita tidak memperlakukan kita lebih dari yang lain. Makin sulit rasanya jiwa ini untuk menerima nasehat. Semakin banyak nikmat yang bertambah, semakin tinggi percaya diri kita bahwa semua yang kita lakukan semua ini adalah yang terbaik dan tidak ada yang salah. Semakin banyak nikmat yang bertambah, semakin durhaka dan jauh dari Allah ‘azza wa jalla. Ketahuilah, tidak semua nikmat yang datang pada kita adalah anugrah dan berkah dari Allah. Bahkan sangat mungkin, nimat yang terus datang adalah bentuk istidraj dalam hidup kita. Dalam sebuah hadist yang diriwiyatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah pernah bersabda,

 

Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.”

Baca juga:  Kapankah Datangnya Pertolongan Allah?; Tadabbur Surah An-Nashr

 

Ketika berbagai macam nikmat sudah datang dalam hidup, tapi tidak serta merta menjadikan kita orang yang bersyukur dan justru membuat kita semakin angkuh tak tersentuh, bisa jadi saat itu kita sudah terkena istidraj. Istidraj adalah salah satu hal yang paling mematikan bagi kehidupan seorang manusia. Dimana tidak mungkin Allah menimpakan hal ini pada hamba-hamba yang dicintai-Nya. Jadi jangan heran ketika kita melihat banyak orang di jaman yang ini yang hidup sangat jauh dari Allah, berfoya-foya, angkuh, mengumbar nafsu birahi, mengumbar aurat, menjual diri, menjilat penguasa, menyikut saudara, dan melakukan banyak kezaliman justru hidup bergelimang nikmat dan terlihat “sukses”. Karena bisa jadi memang Allah ingin menghabiskan seluruh jatah nikmat-Nya di dunia, dan menyisakan adzab yang pedih di akhirat. Para mafia-mafia berduit yang merasa berjaya sudah mengangkangi apapun, termasuk orang –orang beriman yang ada di hadapannya, sungguh kesombongannya hanya bertahan hingga nafasnya dicabut dan kelak kita yang istiqomah menentang kesewenang-wenangan di muka bumi yang akan menyaksikan jeritan pedih mereka di neraka. Amin Ya Rabbal’alamin.

 

Untuk hal ini, penulis juga ingin mengingatkan agar berhat-hati dalam soal memandang kesuksesan hidup. Di jaman ini, ketika kita berbicara “success story”, maka reflek kita membayangkan omzet yang tinggi, fasilitas yang berlimpah, aset yang bertumpuk, Na’udzubillahi min dzalik. Worldview seperti itu, adalah worldview yang sangat bertentangan dengan worldview islam, din kita. Sudah sepantasnya, worldview bagi seorang muslim adalah sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Al-Baqarah : 201, “Ya Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari adzab neraka”, Jangan seperti yang disampaikan oleh Al-Baqarah : 200, “Ya Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia” dan akhirnya tidak tersisa lagi kebaikan untuk kita di akhirat. Dan ketika kita minta kebaikan di dunia dalam konteks harta, bukan berarti kita minta harta yang berlimpah, tetapi kita minta agar kita diberi kemampuan untuk mendapatkan harta yang halal, berkah, mencukupi, dan bisa kita gunakan utuk berbagai macam kemanfaatan di jalan Allah. Harta yang banyak tapi tidak berkah, biasanya hanya akan menggiring kepada kebinasaan.

Baca juga:  Bagimu yang Belum Mengenal Sunnah

 

Berhentilah menjadi orang-orang yang lemah akal yang menyandarkan kesuksesan hanya dari banyaknya pendapatan. Para pahlawan-pahlawan kita, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, H Agus Salim, Panglima Sudirman, Moh. Hatta, dan nama-nama hebat yang tidak mungkin saya sebut satu per satu dan tentu tidak mengurangi kebesaran dan amal jariyah mereka untuk Indonesia, adalah orang-orang yang namanya dibesarkan oleh amal dan perjuangan mereka di jalan Allah. Mereka tidak besar karena “success story” versi orang-orang kekinian. H. Agus salim, bahkan dengan reputasi sebesar itu, masih istiqomah dengan sepeda ontel dan kontrakannya. Kontrakan yang terkadang memiliki WC yang mampet dan membuatnya harus membuang sendiri kotoran istrinya yang terpaksa menunaikan hajat di pispot. Apakah hal ini mengurangi kebesarannya? Tidak sama sekali. Sampai detik ini, H. Agus Salim dan para tokoh-tokoh yang berjuang di jalan Allah, masih begitu dalam terukir di hati orang-orang yang mencintai umat dan negeri ini sepenuh hati.

 

Allahu a’lam bishshawab.

 

 

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar