Santri Cendekia

Istilah-Istilah Falak Dalam Lagu “Sang Surya”

“Sang Surya” adalah lagu resmi persyarikatan Muhammadiyah. Lagu ini selalu dikumandangkan dalam acara-acara formal Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Lagu Sang Surya digubah dan diciptakan oleh salah seorang tokohnya yang bernama H. Djarnawi Hadikoesoemo.

Berikut adalah lirik lagu tersebut:

Sang Surya Tetap Bersinar. Syahadat Dua Melingkar. Warna Yang Hijau Berseri. Membuatku Rela Hati. Ya Allah Tuhan Rabbiku. Muhammad Junjunganku. Al-Islam Agamaku. Muhammadiyah Gerakanku. Di Timur fajar Cerah Gemerlapan. Mengusir Kabut Hitam. Menggugah Kaum Muslimin. Tinggalkan Peraduan. Lihatlah Matahari Telah Tinggi. Di Ufuk Timur Sana. Seruan Ilahi Rabbi. Sami’na Wa Atha’na. Ya Allah Tuhan Rabbiku. Muhammad Junjunganku. Al Islam Agamaku. Muhammadiyah Gerakanku.

Dari bait-bait lagu di atas, setidaknya terdapat enam kata (kalimat) yang merujuk kepada makna astronomi (ilmu falak). Keenam kata itu adalah: surya/matahari, syahadat, timur, fajar, dan ufuk. Berikut makna astronomi dari keenam kata tersebut.

Surya, Matahari

Surya adalah nama lain dari Matahari. Kata Surya berasal dari bahasa Sansekerta. Dalam mitologi Hindu silam, Surya adalah nama dewa matahari. Surya juga diadaptasi ke dalam dunia pewayangan sebagai dewa yang menguasai atau mengatur surya (Matahri), dan diberi gelar ‘Batara’.

Secara ilmiah, Surya atau Matahari adalah bola gas panas raksasa yang terbentuk dari gas hidrogen helium yang terisolasi. Matahari merupakan salah satu bintang yang dekat dengan bumi. Matahari adalah pusat dari tata surya, dimana planet, satelit, asteroid, komet, dan benda angkasa lainnya berevolusi dan atau beredar mengelilingi matahari.

Dalam kehidupan sehari-hari, Matahari berguna sebagai sumber energi untuk kehidupan di bumi. Energi panas dari matahari akan menghangatkan bumi sehingga membentuk iklim, dan sinarnya bermanfaat untuk menerangi bumi serta bermanfaat bagi makhluk hidup seperti tumbuhan yang membutuhkan cahaya matahari untuk proses fotosintesis.

Baca juga:  27 Mei 2020, Momentum Kalibrasi Arah Kiblat

Dalam dunia ilmu falak (astronomi), Matahari adalah benda langit yang menjadi perhatian para astronom dan ulama, yaitu keterkaitannya diantaranya dalam penentuan waktu-waktu salat.

Seperti diketahui, melalui petnjuk al-Qur’an dan as-Sunnah, waktu-waktu salat ditentukan berdasarkan gerak harian dan posisi Matahari.

Waktu Zuhur ditandai ketika tergelincir matahari, waktu Asar ketika bayang-bayang sebuah benda telah sama panjang, waktu Magrib ketiga terbenam (gurub) matahari, waktu Isya ketika hilangnya awan (mega) merah, dan waktu Subuh ketika munculnya fajar shadiq.

Selain itu, dalam kalender Islam, awal hari (atau pergantian hari) ditandai dengan terbenamnya matahari di ufuk barat.

Syahadat

Secara bahasa, “syahadah” adalah penyaksian atau menyaksikan. Dalam ilmu falak, syahadah dimaksud disini adalah menyaksikan bulan (hilal) dalam rangka tibanya awal bulan kamariah.

Seperti ditegaskan dalam Sabda baginda Nabi Muhammad Saw, bahwa sebuah bulan kamariah dinyatakan tiba apabila hilal telah terlihat di ufuk barat pada saat sore hari.

Selanjutnya, dalam konteks publik keterlihatan hilal haruslah divalidasi dengan kesaksian orang yang melihat hilal, inilah yang disebut dengan syahadah.

Dalam diskursus fikih klasik, terjadi ragam pendapat tentang syahadah ini, ada yang berpandangan bahwa kesaksian (syahadah) itu cukup satu orang saja, yang lain menetapkan tidak cukup satu orang tetapi minimal dua orang, yang lain lagi berpandangan bahwa orang yang menyaksikan haruslah laki-laki, bukan wanita, dan seterusnya.

Namun seiring perkembangan zaman dan teknologi, praktik syahadah dapat digantikan dengan menggunakan ilmu pengetahuan atau yang dikenal dengan hisab (perhitungan), tanpa harus melihat (syahadah).

Timur

Timur adalah salah satu arah mata angin. Dalam ilmu falak, timur adalah sebuah arah mata angin dalam kompas. Timur biasanya berada di sebelah kanan peta.

Baca juga:  Observatorium Sekolah dan Pesantren

Matahari dan Bulan terbit di sebelah timur. Dalam navigasi, timur dinyatakan sebagai arah 90 derajat. Dalam kajian ilmu falak, arah timur merupakan arah (posisi) munculnya fenomena fajar shadik guna menentukan awal waktu Subuh.

Fajar

Fajar (Arab: al-fajr) adalah pencahayaan gelap malam dari sinar pagi. Para ulama sepakat bahwa fajar ada dua yaitu fajar kazib dan fajar sadik. Fajar kazib (al-fajr al-kādzib) disebut juga dengan fajar pertama (al-fajr al-awwal) karena muncul pertama kali dan berikutnya disusul munculnya fajar sadik.

Tanda-tanda alami fajar kazib adalah ia muncul menjulang ke langit laksana seekor Serigala dan sesaat kemudian menghilang.

Sementara itu fajar sadik (al-fajr ash-shādiq) disebut juga fajar kedua (al-fajr ats-tsāny). Dinamakan demikian oleh karena ia muncul setelah fajar kazib.

Tanda-tanda alami fajar sadik adalah tampak menyebar di sepenjuru ufuk dengan warna keputih-putihan. Cahayanya terus bertambah sampai akhirnya terbit Matahari.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, fajar sadik yang menjadi pertanda dimulainya awal Subuh adalah cahaya putih yang nampak dan menyebar di ufuk timur yang muncul beberapa saat setelah fajar kazib.

Dua fajar ini muncul secara bergantian, sehingga munculnya fajar kazib menjadi syarat bagi munculnya fajar sadik.

Menurut An-Nawawi (w. 676 H/1277 M), dinamakan fajar kazib (dusta) adalah karena fajar ini pada awalnya tampak (muncul) dan bersinar namun kemudian menghilang.

Sementara itu dinamakan fajar sadik karena ia dikategorikan benar-benar tampak dan jelas, dan ia menjadi pertanda tiba dan dimulainya waktu Subuh.

Di dalam al-Qur’an, istilah fajar disebut dengan dua istilah yaitu “al-khaith al-abyadh” (benang putih) sebagai fajar sadik dan “al-khaith al-aswad” (benang hitam) sebagai fajar kazib.

Baca juga:  Khalifah Umar bin Khattab dan Penanggalan Islam

Dua istilah ini ditemukan dalam QS. Al-Baqarah [02] ayat 187, “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS. Al-Baqarah [02]: 187). Benang putih (al-khaith al-abyadh) dalam ayat ini difahami sebagai batas dimulainya puasa yang mana ia muncul setelah munculnya benang hitam (al-khaith al-aswad).

Ufuk

Ufuk, dalam bahasa Arab disebut “al-ufuq”, adalah garis yang memisahkan bumi dan langit. Ufuk juga disebut dengan horison, berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘orizein yang bermakna ‘membatasi’.

Secara lebih sederhana, horizon adalah garis yang membagi arah garis pandang kita ke dalam dua kategori yaitu arah garis pandang yang memotong permukaan Bumi, dan yang sebaliknya.

Secara umum, ufuk terbagi dua, yaitu ufuk barat dan ufuk timur. Ufuk barat berguna dalam menghitung atau menentukan posisi hilal, demikian lagi menentukan waktu Magrib dan Isya.

Sedangkan ufuk timur berguna dalam menentukan awal waktu Subuh, yang dikenal dengan fajar shadiq.[]

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

Dosen FAI UMSU dan Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: