Santri Cendekia

Jangan Berdiri di Pundak Biawak Raksasa! ; Ini Tentang Ilmu, bukan Godzilla

  مبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Di dalam sebuah suratnya kepada Robert Hooke, Newton menulis, “bila aku mampu melihat jauh, itu karena aku berdiri di pundak para raksasa” Ia tidak sedang berbicara tentang anime Attack On Titan, apalagi raksasa Buto Ijo. Raksasa yang dimaksud Newton adalah para ilmuwan sebelum dirinya. Dengan merujuk kepada ide-ide dan temuan mereka, Newton merasa telah berdiri di pundak raksasa sehingga ia mampu melihat lebih jelas, luas dan jauh dari orang lain.

 Kalimat Newton ini mengilhami banyak ilmuwan setelahnya untuk menghargai penelitian dan ide sebelum mereka, menjadikannya basis untuk melihat dunia,  menganalsis keadaan sehingga kau tahu apa yang salah dengan semua. Bahkan Google Scholar, tempat saya mendulang jurnal gratis memakai kalimat sakti ini sebagai tagline. Karena demikianlah adanya, hanya dengan merujuk kepada ide-ide orang hebatlah, kita bisa lebih tahu tentang dunia. Kita bisa melihat dunia dengan cara yang baik.

Namun demikian, sebagai  muslim pembelajar, kalimat Newton ini belum lengkap sebagai panduan bagi kita. Ia harus disandangkan dengan peringatan Rasulullah, “Kelak kalian akan mengikuti tradisi buruk orang-orang sebelum kalian, depak demi depak, hasta demi hasta, hingga bila ia membawa kalian ke lubang biawak, kalian pun akan mengikutinya!” Waktu itu ada sahabat yang nanya, “Rasul, itu maksudnya Yahudi dan Nasrani?” Lalu beliau pun bilang “ya siapa lagi”.

Bila menyangkut dua umat ini, surah al-fatihah udah merangkum akar keburukan yg mereka perbuat. al-Maghdub (yang dimurkai) dan ad-Dhalin (yang tersesat). Rombongan pertama adalah mereka yang udah ngerti salah masih aja dilabrak sebab merasa ide mereka lebih unggul dari wahyu. Sedangkan rombongan kedua adalah mereka yang terjebak kesalahan sebab cara mereka memahami kebenaran wahyu salah total. Namun mereka justru merasa sudah benar. Istilah lainnya, kelompok pertama kena jebakan syahwat, sedangkan yang kedua terjerembab dalam syubhat. Kedua kelompok ini masuk ke lubuang biawak!

Baca juga:  Empat Macam Pandangan Epistemologis Bathil Menurut Ibnul 'Arabi

Setelah mengetahui peringatan Rasulullah itu, tentu seorang pembelajar muslim jadi sangat hati-hati ; jangan sampai raksasa yang ia naiki pundaknya justru membawanya ke lubang biawak. Atau malah yang ia naiki pundaknya justru biawak raksasa itu sendiri. Macam godzilla aja ya hehe. Apa maksudnya? Seorang pembelajar muslim akan waspada bila ide-ide yang ia jadikan pijakan dalam menganalisa hidup dan kehidupan ternyata menggiringnya mengikuti jejak langkah al-maghdub atau ad-dhalin.

Biar lebih jelas, pake contoh aja deh. Contoh yang sering diperingatkan oleh ustad-ustad kita seperti ustad Adian Husaini atau Adnin Armas  misalnya adalah hermeneutika dalam memahami al-Qur’an. Memang benar, dengan memahami hermeneutika, ilmu interpretasi teks yang canggih itu, seseorang menjadi bediri di pundak raksasa. Ia akan  melihat teks dengan lebih jeli dan lebih keren dari manusia yang nggak ngerti hermeneutika. Bila memakai perumpamaan Newton, ia berdiri di pundak para raksasa. Mungkin nama raksasanya Paul Ricoeur atau Arkoun dan banyak lagi yang bahkan ngucapin namanya aja saya nggak begitu fasih hehe.

Namun, menurut ustad-ustad yang juga ngerti banget hermeneutika itu, ternyata metode ini nggak pas buat nafsirkan al-Qur’an. Hasil tafsirannya pasti kocar-kacir. Kalo nggak terjebak model ad-Dhalin bisa-bisa jadi al-Maghdub. Intinya ternyata bisa-bisa membawa ke lubang biawak. Jadi  raksasa-raksasa itu, sengaja atau tidak, bila kita memahami al-qur’an dengan menaiki pundaknya justru akan membawa kita ke lubang biawak! Itu karena memang hermeneutika nggak pas aja buat tafsir al-Qur’an. Mungkin kalo mau nafsirkan Bible atau puisi-puisinya Cinta sama Rangga malah lebih tepat. hehe…

Itu kalo yang lagi mempelajari agamanya secara khusus. Ternyata dalam disiplin ilmu lain pun, lubang biawak masih saja bisa mengintai. Kalo tidak percaya, tanya aja sama Prof. Malik Badri, ahli psikologi yang kondang dengan bukunya “Dilema Psikolog Muslim” Di buku itu, beliau curhat kalo langkahnya yang asal aja menaiki pundak para raksasa psikologi Barat yang berepistemologi sekuler ternyata lama-lama membuatnya terjerembab ke dalam lubang biawak. Akibatnya ia jadi dilema, soalnya cara para raksasa psikologi Barat, si mbah Freud and the gangs dalam menganalisa jiwa manusia kok ada yang bertentangan dengan keyakinanya sebagai muslim.

Baca juga:  “Agama Cinta” Ibnu Arabi

Dari kegalauan tersebut, akhirnya mbah Malik Badri bertekad mengembangkan Psikologi Islam, sebuah kajian tentang jiwa dan tingkah polah manusia berdasarkan pandangan Islam. Soalnya beliau yakin, Islam punya model konseptual untuk itu, tinggal digali dan dikembangkan aja. Akhirnya kini, di kampus keren macam UGM pun ada kelompok studi psikologi Islam. Mereka yang mau berdiri di pundak raksasa psikologi Barat, tapi tetap waspada jangan sampe dibawa ke lubang biawak apalagi malah berdirinya di pundak biawak raksasa. Ohya, tau nggak, kata “biawak” di catatan singkat ini terinspirasi dari beliau. Buku Dilema Psikolog Muslim sebenarnya adalah pengembangan dari papernya yang berjudul “Muslim Psychologist in the Lizard’s Hole”, dari judulnya aja udah keliatan kan?

Nah, Akhirnya…memang benar apa kata Newton kalo mau melihat dunia dengan cara lebih keren, maka berdirilah di pundak para raksasa ilmu pengetahuan. Pelajari dan serap ide-ide mereka, jadikan kaca mata dalam melihat dunia. Tapi lebih benar lagi peringatan Rasulullah, sembarangan menaiki pundak raksasa bisa-bisa jatuh ke liang biawak. Maka para muslim pembelajar akan senantiasa waspada pada tiap ide yang hendak ia pelajari. Bahkan di antara ulama kita ada yang berusaha mengembangkan “Islamisasi ilmu-ilmu kontemporer”. Itu bukan karena ada Ilmu yang kafir, tapi yaa gitu deh, bisa aja ada ide-ide yang mengandung racun biawak atau bisa mengantarmu ke sarang biawak. Islamisasi ini adalah upaya menuntun jalan raksasa yang kita naiki pundaknya, agar hati-hati nggak kecemplung ke markas biawak.  Dalam proyek pengetahuannya, Al-Attas menggunakan istilah dewesternisasi terlebih dahulu, baru islamisasi. Islamisasi tak bisa dibicarakan sembarangan jika kita tak memahami dan melakukan dewesterenisasi, yakni menghilangkan unsur-unsur “kebiawakan” atau “kegodzilaan” bahkan “ke-baltanseijin-an” (Baltan Seijin: alien dengan dahi berbentuk V, musuh abadi Ultraman) dalam pengetahuan hari ini, yang dasarnya adalah sekuler, rasional-empiris belaka, skeptis, dikotomis, dan tragis.

So teman-temanku para muslim pembelajar (intonasi Mario Teguh), ingat, jangan berdiri di pundak biawak raksasa atau raksasa yang masih doyan ke liang biawak!

Baca juga:  Memahami Tuhan bersama al-Ghazali dan Ulil Abshar Abdalla
(tulisan ini mengandung sedikit suplemen dari komentar bung Ismail al Alam, teman saya yang paham tentang Islamisasi lebih baik dan mendalam..)

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: