Santri Cendekia
Home » Jangan Biarkan UIN Membusuk

Jangan Biarkan UIN Membusuk

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
buku ini penting dibaca, 
Gara-gara spanduk membusuk masa orientasi di salah satu UIN, bertambah buruklah nama institusi milik ummat Islam itu. Orang orang pun mengingat-ingat lagi beberapa daftar dosa UIN, misalnya UIN di salah satu kota tujuan pendidikan di Indonesia isunya 70% mahasiswinya sudah tidak perawan lagi. Anjinghuakbar, dosen yang menginjak al-Qur’an, isu pemurtadan, jurnal pemuja kaum LGBT dan seterusnya. Akhirnya citra buruk yang selama ini sudah ada itu semakin dipertegas. Padahal di UIN tentu masih ada ulama-ulama yang baik, serta mahasiswa-mahasiswa ilmu fardu ain yang baik dan benar, mencintai kebijaksanaan dan benci hal-hal kulit murahan seperti tema ospek kontroversial. Namun, nasi sudah jadi bubur, isu ini terlanjur menggelinding di dunia maya. Diperbincangkan banyak orang. Nama UIN, filsafat dan ushuluddin semakin identik dengan mahasiswa snewen.

Sebenarnya bahaya terbesarnya justru jika kita sudah jadi antipati terhadap UIN ; “jangan kuliah di UIN nanti jadi liberal”, Nasehat ini pun seakan semakin benar adanya. Padahal tanpa anjuran semacam itu pun, jurusan agama di UIN sudah sepi peminat. Beasiswa digelontorkan di jurusan tafsir hadis di UIN salah satu kota, tapi tetap saja tidak ada yang sudi di situ. Ya siapa yang mau? Sudah masa depan tidak jelas mau kerja apa, ditambah lagi nanti malah jadi keblinger. Justru jurusan fardu kifayah-nya yang ramai. Ya saintek, bahasa inggris dan lain-lain. Ironisnya, teman saya yang kuliah di Bahasa Inggris salah satu UIN justru mendapatkan kesulitan gara-gara jurusannya itu akreditasinya rendah. Kalah dari tempat kuliah saya yang swasta! Aduh, jurusan agama Islamnya ditinggalkan, jurusan umumnya juga tidak dapat! Memprihatoskan!

Baca juga:  Syamsul Anwar dan Pemikirannya Dalam Bidang Hisab-Rukyat (1)

UIN, nasibmu kini. Padahal sebenarnya mahasiswa aqidah filsafat UIN itu keren sekali, contohnya kisah dosen kristologi saya di Jogja dulu. Beliau adalah seorang mantan missionaris. Perjalanannya untuk sampai pada hidayah Islam sungguh luar biasa. Dua cabang besar agama nasrani telah ia pelajari untuk mencari kebenaran, tapi yang dicarinya belum didapatkan. Beliau kemudian mendalami ajaran Kejawen dengan berbagai variannya, hasilnya masih nihil. Di tengah pencarian itu dosen saya bertemu dan intens berdiskusi dengan seorang mahasiswa aqidah UIN SuKa. Niat awalnya sebenarnya adalah memurtadkan si mahasiswa UIN, tapi akhirnya justru dosen saya lah yang masuk Islam sebab penjelasan dari mahasiswa UIN itu memuaskan dahaganya. Keren sekali! Saya bayangkan, apa jadinya jika kisah itu berlangsung pada saat ini. Dan teman diskusinya adalah anak-anak model “anjinghuakbar” atau “membusuk” yang dosennya menginjak-injak mushaf, atau mengadvokasi kaum lesbong. Aih, tidak usah dibayangkan deh.

Bagaimanapun, UIN adalah aset milik kita. Milik ummat Islam Indonesia. Seharusnya kita merawatnya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Jika punya putra-putri cemerlang, jangan langsung dipaksa jadi dokter, siapa tahu dia mau jadi peneliti hadis! Siapa tahu dia mau mempelajari aqidah lebih dalam. Anak-anak cemelang itu pun, jangan malah dibaut bingung. Saya berharap orang-orang yang masih saja suka bingung sendiri apakah kebenaran dengan “k” besar itu ada atau tidak, sebaiknya untuk sementara mereka berhenti dulu mengajar. Nanti jika sudah berhenti bingung baru mengajar lagi. Dalam hidup sehari-hari pun, orang bingung itu harusnya bertanya, bukan malah mengajar. Atau mau contoh keren? Imam al-Ghazali pernah mengalami masa keraguan ketia jadi rektor Nizhamiyah di Baghdad, apa yang beliau lakukan? Menyebarkan keraguannya? Bukan tong! Beliau beruzlah, mengembara mencari kemantapan hati. Beliau lalu kembali mengajar ketika sudah menemukan titik terang, dan lahirlah al-Munqid min ad-Dhalal. Yah, susah juga si, kalau al-Ghazali justru dianggap penyebab kemunduran! Lalu siapa lagi yang mau dicontoh?

Sekali lagi, UIN adalah milik ummat ini. Jadi mereka yang sedang “in charge” di institusi tersebut bertanggung jawab terhadap ummat. Pasti ada yang tidak benar hingga muncul hal-hal meresahkan dan kontroversial di kampus itu. Kasus anjinghuakbar sudah berlalu sepuluh tahun lalu. Apakah kasus itu dijadikan pelajaran? Kira-kira apa yang salah hingga muncul mahasiswa seperti itu? Waktu sepuluh tahun kiranya cukup untuk mencari dan memperbaiki yang salah. Namun saya pun akhirnya agak takut juga, jangan-jangan hal itu tidak dianggap sebuah kesalahan. Jangan-jangan justru dianggap biasa saja, atau malah kasus macam itu adalah indikasi bahwa mereka sudah keren. Mereka sudah kritis seperti yang diajarkan oleh pakar-pakar hebat studi Islam di barat sana. Bukan manusia ketingalan jaman seperti ulama-ualam al-Azhar yang kurang canggih. Apakah memang itu tujuannya hingga kiblat berpikir diubah dari al-Azhar yang kumuh, jumud, kuno ke McGill yang cemerlang dan maju? Apakah begitu duhai bapak-bapak guru besar? Semoga tidak.

Baca juga:  Ibu, Sebagai Surga Yang Jauh?

Kembali ke kasus “membusuk” itu, ketika diberondong pertanyaan, mereka membela diri bahwa maksudnya adalah pemahaman orang-orang tentang Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Baiklah jika memang demikian, kasus yang terakhir ini memang lebih “ringan” dari tragedi-tragedi sebelumnya. Namun tetap saja kita bisa meratap bahwa “UIN tengah membusuk”. Tentu maksudnya bukan UIN itu sendiri yang membusuk melainkan citra UIN di mata masyarakat. Semuanya berawal dari pembusukan pemikiran di dalam UIN sendiri. Ustad Adian Husaini sudah lama memperingatkan kita bahwa ada hegemoni Kristen-Orientalis pada sutudi Islam di perguruan tinggi. Tentang hegemoni orientalis ini, jauh sebelumnya Prof Rasjidi sudah memperingatkan ketika buku Harun Nasution yang sarat pengaruh Barat dijadikan bacaan wajib di UIN. Kedua tokoh tadi melakukan koreksi dan peringatan bukan sebab mereka membenci UIN atau tokoh-tokoh tertentu. Semua kritik tersebut berangkat dari rasa cinta dan rasa memiliki terhadap UIN serta keprihatinan atas ummat. Sebagai institusi perguruan tinggi, UIN ibarat otak sekaligus hati bagi tubuh ummat, jika ia membusuk maka ummat ini akan berubah menjadi zombi.

Terahir, saya teringat sebuah kisah yang pernah saya baca, konon orang-orang Barat yang pertama kali mendengar tentang Uviersitas Islam milik negara akan terkejut. Mereka adalah manusia-manusia yang sudah kaffah sekuler, konsep bahwa ada agama yang punya universitas lalu dinaungi negara adalah sebuah kisah ajaib. Tapi bagi kita hal itu justru hal yang wajar, bahkan sudah sewajarnya. Sebab justru sekulerisme lah yang ajaib bagi kita. Tapi apa jadinya jika mind-set orang-orang sekuler itu dipaksakan ke UIN? Hasilnya adalah sebuah kisah ajaib, tentang tuhan yang katanya membusuk.

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar