Santri Cendekia
Home » Jangan Dahului Allah, Rasulullah, dan Ulama’ (Al-Hujurat 1)

Jangan Dahului Allah, Rasulullah, dan Ulama’ (Al-Hujurat 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.  (Al-Hujurat: 1)

 

            Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Abdullah bin Az Zubair memberitahukan mereka, bahwa ada rombongan orang dari Bani Tamim datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Abu Bakar dan Umar berdebat mengenai siapa yang akan diangkat menjadi kepala rombongan Bani Tamim. Abu Bakar berkata, “Angkatlah Qa’qa’ bin Ma’bad bin Zurarah.” Lalu Umar berkata, “Bahkan, angkatlah Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata, “Engkau tidak menginginkan selain menyelisihiku.” Umar menjawab, “Aku tidak bermaksud menyelisihimu.” Maka keduanya berbantah-bantahan sampai suaranya keras, kemudian turunlah tentang hal itu ayat, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya…dst.

        Saat itu, padahal Sayyidina Abu Bakar ra dan Sayyidina Umar bin Khattab bukanlah berselisih tentang persoalan pokok-pokok aqidah atau persoalan fiqih. Saat itu Abu Bakar dan Umar bin Khattab ‘hanya’ berdebat soal penentuan orang yang akan menjadi pimpinan dari Bani Tamim yang datang ke madinah untuk menemui Nabi Shalallahu ‘alihi wa sallam. Namun teguran Allah datang terkait hal ini, karena saat itu di tengah-tengah mereka ada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan mereka masing-masing berdebat keras tanpa sebelumnya berkonsultasi ataupun bermusyawarah terlebih dahulu dengan Rasulullah. Dan lagi, ketika Abu Bakar dan Umar tidak berkonsultasi dengan Rasulullah, namun teguran yang datang adalah agar orang beriman tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya. Maka dalam kaidah dari ayat ini, tidak ada tempat bagi orang-orang yang ingkar sunnah. Menjalani sunnah-sunnah Nabi meski hanya urusan instinja menggunakan tangan kiri, maka bisa bernilai pahala jika dilakukan karena berniat ittiba’ kepada Rasulullah, dan tentu akan mendapatkan ganjaran dari Allah ‘azza wa jalla, insyaAllah. Karena ketaatan kepada Allah, tidak bisa dipisahkan dari ketaatan kepada Rasul-Nya.

Baca juga:  Siapakah Allah Menurut Allah? ; Tadabbur Surat al-Ikhlas (1)

         Mengenai hal ini, Syaikh As Sa’diy menerangkan, “Ayat ini mengandung adab terhadap Allah Ta’ala dan adab terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, membesarkan Beliau, menghormatinya dan memuliakannya. Maka Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin sesuatu yang menjadi konsekwensi beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan agar mereka berjalan di belakang perintah Allah sambil mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua urusan mereka. Demikian pula agar mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya, tidak berkata sampai Beliau berkata, dan tidak memerintahkan sampai Beliau memerintahkan. Inilah hakikat adab yang wajib terhadap Allah dan Rasul-Nya.

        Lalu, sekarang Rasulullah telah wafat, apakah berarti ayat ini sudah ternasakh begitu saja? Tentu saja tidak. “Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi”(HR Tirmidzi) dan “Para Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi para Nabi mewariskan ilmu” (HR Abu Dawud). Maka ketika kita bertemu persoalan apapun. Jangan terburu-buru melompat menggunakan berbagai macam referensi atau logika. Segera tanyakan kepada Ulama-ulama yang menjadi ahli dari persoalan-persoalan tersebut. Karena mereka adalah pihak-pihak yang lebih dekat dan lebih paham soal perkara Al-Qur’an dan As-Sunnah.

     Ketika bertemu persoalan ekonomi, maka tanyakan kepada Ulama ahli ekonomi syari’ah.  Ketika bertemu persoalan keluarga, maka tanyakan kepada Ulama yang mendalami urusan keluarga. Ketika bertemu persoalan mengenai ibadah-ibadah mahdhoh, maka tanyakan kepada Ulama ahli fiqih soal ibadah mahdhoh, ketika bertemu persoalan tentang tafsir Al-Qur’an, tanyakan kepada ahli tafsir, ketika bertemu persoalan halal dan haram, tanyakan kepada Ulama yang ahli soal halal dan haram, dan sebagainya. Jangan lancang dan ingin menjawab semua persoalan melalui pemikiran kita yang mungkin tidak menguasai bidang-bidang persoalan tersebut. Yang terjadi nanti adalah jawaban-jawaban tidak pada tempatnya. Sungguh salah satu benih-benih pemikiran sesat adalah, ketika memandang semua persoalan dengan worldview yang tidak tepat yang akhirnya menjatuhkan seseorang pada kondisi jahal murakkab. Misalnya? Belajar islam pada orientalis barat, mengomentari persoalan dengan pendapat tokoh A sampai Z yang menyelesihi pendapat ulama-ulama yang lebih tsiqoh (terpercaya) dari tokoh-tokoh tersebut.

Baca juga:  'Memberadabkan' Islam: Bias dan Beban Sejarah Feminisme

          Bagaimana ayat ini menuntut adab kita kepada Rasulullah, ayat ini pun menuntut adab kita kepada Ulama. Adab kepada Ulama adalah bagian ketaatan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Maka setelah larangan mendahului Allah dan Rasul-Nya, Allah memerintahkan kita untuk bertaqwa, “Dan bertaqwalah! Sesungguh-Nya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.

           Maka mari kembali kepada metode belajar yang benar sesuai wordview islam. Dan berhati-hati dalam mencari guru atau ulama. Karena kualitas guru dan ilmu yang kita dapatkan, merupakan sumber kualitas agama yang kita miliki. Untuk ini, Imam Syafi’i sudah memberikan resepnya. Ketika murid-muridnya bertanya kepada ulama seperti apa mereka boleh berguru, ” Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa) maka akan menunjukimu siapa pengikut kebenaran”…begitu jawaban Imam Syafi’i.

Allahu a’lam bishshawab

 

Referensi :

Tafsir Ibnu Katsir

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar