Santri Cendekia

Jejak Muhammad Abduh dalam Pergerakan Muhammadiyah

Goresan pena sejarah telah mencatat bahwa umat Islam pernah meraih kejayaan pada masa Daulah Abbasyiah. Masa tersebut oleh beberapa sejarawan sering disebut dengan istilah  the golden age (masa keemasan). Namun kejayaan itu berakhir saat terjadi serangan tentara Monggol ke Baghdad, sehingga secara perlahan peradaban Islam mulai pudar, yang berujung kepada kemunduran secara universal. Akibatnya umat Islam di berbagai belahan Dunia mengalami kondisi yang sangat buruk.

Dari aspek ekonomi misalnya, terjadi aktivitas eksploitasi kakayaan umat islam secara terus menerus oleh bangsa penjajah, sehingga umat Islam benar-benar terpuruk pada posisi yang sangat lemah. Lalu dalam aspek keilmuan, yaitu dengan dirampasnya kekayaan khazanah keilmuan dari para intelek muslim ketika itu, pada akhirnya kejumudan dan kebodohan menyelimuti umat Islam. Kenyataan semacam inilah yang mendorong para cendekiawan muslim berusaha bangkit melawan keterbelakangan tersebut. Salah satu tokoh pembaharu Islam yang memiliki kepedulian besar dan keprihatinan terhadap kemunduran umat Islam adalah Muhammad Abduh.

Muhammad Abduh hidup pada awal abad ke 19, dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang secara luas, sehingga sering seseorang menyebut dengan istilah zaman modern, meskipun menurut Marshall Hodsgon lebih tepat dinamakan zaman teknik (technical age), sebab peran sentral teknikalisme dalam masyarakat sangatlah dominan. Dari kemajuan zaman inilah secara langsung atau pun tidak, terjadi kontak dengan dunia Barat yang selanjutnya membawa ide-ide baru ke dalam dunia Islam seperti rasionalisme, nasionalisme, demokrasi dan sebagainya. Ide-ide ini merupakan produk dari hasil olah akal manusia dan aktivitasnya yang kreatif. Lalu terjadilah transformasi kultural yang juga terasa dalam kehidupan beragama. Akibatnya munculah gerakan pembaharuan Islam, sebagai respon positif terhadap modernisme yang dibawa oleh Muhammad Abduh.

Biografi Singkat Muhammad Abduh

Nama lengkapnya ialah Muhammad Abduh bin Hasan bin Khairullah. Ayahnya merupakan seorang petani yang taat beragama, dari segi silsilah nasab ia berasal dari keturunan orang Turki. Sedangkan Ibunya memiliki garis nasab sampai ke sahabat Umar bin al-Khattab. Muhammad Abduh dilahirkan pada tahun 1894 M/ 1265 H di desa Mahallat Nasr, kabupaten al-Buhairah Mesir. Ketika masa kanak-kanak ia memiliki hobi bermain menaiki kuda, memanah, dan berenang. Lalu menikah pada tahun 1866 M /1282 H, tepatnya saat ia berusia 17 tahun. Dari pernikahannya, ia dikaruniai empat anak perempuan. Abduh mempunyai kepribadian yang cerdas dan baik budi pekertinya. Lalu beliau wafat pada tahun 1905 M.

Baca juga:  Puasa sebagai Latihan Lawan Oligarki

Abduh mengawali pendidikannya di bawah naungan langsung bapak ibunya, yang tidak ada hubungan dengan pendidikan formal pada umumnya. Ia belajar membaca, menulis, dan menghafal al-Qur’an pada ayahnya di rumah. Berkat otaknya yang cemerlang dalam waktu dua tahun ia mampu menghafalkan al-Qur’an, saat itu berusia 12 tahun. Lalu di usianya ke 14 tahun, ia dikirim oleh ayahnya ke daerah Thanta di Masjid Ahmadi (al-Jami’ al-Ahmadi) untuk melancarkan hafalan al-Qur’an, belajar Bahasa Arab dan Fikih. Dalam perjalanan mencari ilmu, Abduh pun pernah mengalami kobosanan dalam belajar, sebagaimana pencari ilmu pada umumnya, namun berkat dorongan dan motivasi pamannya yaitu Syaikh Darwisy Khadr akhirnya ia kembali semangat dalam menuntut ilmu.

Tahun 1871 M menjadi penting dalam kehidupannya, sebab pada tahun inilah pertama kalinya ia bertemu dengan Jamaluddin al-Afghani, yang kemudian mengajarkan kepadanya berbagai disiplin ilmu, sehingga mampu mempengaruhi corak pemikiran dan pemahamannya sebagai tokoh pembaharu. Selanjutnya, Muhammad Abduh bersama al-Afghani bersama-sama mendirikan organisasi Al-’Urwat Al-Wutsqa, walaupun usianya sangat pendek, namun mempunyai pengaruh yang besar. Tujuan organisasi tersebut ialah menyatukan umat Islam dan melepaskan dari sebab-sebab perpecahan. Sedangkan cara untuk menyebarkan pemikiranya, yaitu dengan menerbitkan koran yang diberi nama sesuai nama organisasinya, al-urwat al-wutsqa.

Peran Abduh Dalam Muhammadiyah

Peran dan kiprah Muhammad Abduh dalam mengangkat citra Islam dan kualitas umat muslim tidaklah mudah. Hal ini disebabkan banyaknya tantangan yang ia hadapi, baik dari internal maupun eksternal, namun ini tidak menjadikan Abduh menyerah begitu saja. Berkat usahanya yang besar, modernisme pemikirannya mulai kelihatan. Di Indonesia misalnya, pemikiran Muhammad Abduh banyak mempengaruhi perjalanan dan patron ormas Islam, seperti Muhammadiyah. Ormas besar yang didirikan pada tahun 1912 M oleh K.H Ahmad Dahlan memiliki banyak kesamaan cara berpikir dan bertindak. Munculnya banyak instansi pendidikan dan layanan sosial dibawah naungan ormas tersebut merupakan bagian dari buah pikir pembaharuan Ahmad Dahlan, yang secara tidak langsung bayak diilhami oleh pemikiran Muhammad Abduh. Adapun ide-ide pembaharuan yang dibawakan Abduh ialah:

Baca juga:  Ramadhan 2020: Tuntunan dari Muhammadiyah (Sebuah Catatan dari Mark Woodward)

Pertama, Reformasi Pendidikan. Pendidikan merupakan kunci sukses sebuah masyarakat yang menginginkan peradaban yang maju. Sebab pendidikan adalah awal dari segalanya.  Oleh karena itu Nelson Mandela pernah berkata “ Education is the most powerful weapon which you can to change the world (pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang dapat kamu guunakan untuk mengubah dunia)”. Abduh berharap perubahan dari sektor ini mampu mencetak seorang muslim yang shaleh dan berilmu, sehingga Abduh memiliki konsep yang komprehensif mengenai pendidikan yang digarapnya. Mulai dari tujuan pendidikan, kurikulum yang digunakan, sampai metodologinya. Muhammadiyah sebagai organisasi yang menganggap penting pendidikan, sebagai wujud ikut berpartisipasi mencerdasakan kehidupan bangsa telah mendirikan banyak instansi pendidikan dari tingakat dasar sampai ke perguruan tinggi. Secara kuantitas di usianya yang ke-107 Muhammadiyah telah mendirikan 8816 PAUD, 5717 TK, 1579 TPA, 6049 sekolah dasar dan menengah, 166 perguruan tinggi.

Kedua, Mendirikan Lembaga dan Yayasan Sosial. Sepak terjang yang dilakukannya meluas dengan cara mendirikan lembaga sosial seperti Jam’iah Khairiyah Islamiyah, Jamaah Ihya al-Ulum al-Arabiyah, dan Jam’iyah at-Taqarub Baina al-Adyan. Aktivitas ini dilakukan sebagai penguatan mayarakat dalam mengamalkan ilmu mereka. Akibatnya Abduh mampu mengubah kebiasaan masyarakat yang sebelumnya bersikap statis menjadi dinamis, yang pada akhirnya konsep pembaharuan Abduh memiliki pengaruh besar di Dunia Barat dan Timur. Gerakan sosial model Abduh ini nampaknya juga mempengaruhi gerakan Muhammadiyah. Selain dikenal sebagai gerakan Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Muhammadiyah juga dikenal sebagai gerakan sosial. Dalam masalah kesehatan misalnya, sampai saat ini sudah ada 115 rumah sakit yang telah didirikan, yang setiap tahunnya memiliki jumlah pasien puluhan juta.

Ketiga, Mendirikan Sekolah Pemikiran. Dalam catatan sejarah, ia merupakan orang yang pertama mendirikan sekolah pemikiran kontemporer. Sekolah ini mempunyai pengaruh besar. Terutama dalam pembaharuan pemikiran Islam dan kebangkitan akal umat muslim, saat mereka menghadapi musuh-musuh Islam yang sedang gencar menyerang umat muslim pada saat itu. Ini juga bisa dikatakan sebegai kompor kebangkitan dalam perjuangan Islam, setelah sekian lama tengelam dari keterpurukannya. Secara khusus Muhammadiyah memang belum memiliki sekolah pemikiran, namun upaya menghidupkan pemikiran dengan cara diskusi, seminar dan debat sering diadakan di sekolah-sekolah muhammadiyah. Dari cara-cara inilah semangat untuk mengkaji pemikiran akan muncul dan berkembang.

Baca juga:  [Jurnal] Hukum Wanita yang Makmum Kepada Seorang Lelaki Bukan Mahram

Pemikiran Muhammad Abduh memiliki pengaruh yang kuat terhadap kemajuan zaman. Hal ini membuktikan bahwa agama Islam memang sesuai atau relevan diterapkan sesuai zaman. Tidak ada istilah ketinggalan zaman jika mau berpegang teguh dengan Islam, sebab ia merupakan solusi dari setiap permasalahan zaman. Oleh sebab itu, ada kemungkinan bahwa jargon Muhammadiyah yang berkemajuan adalah buah hasil perenungan dari pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh yang segar dan dinamis.

Sumber Bacaan:

https://media.neliti.com/media/publications/256454-studi-pemikiran-muhammad-abduh-dan-penga-89ddf862.pdf diakses pada tanggal 4 November 2019 pukul 14.00 WIB

Iqbal, Abu Muhammad. 2015. Pemikiran Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rahnema, Ali. 1998. Pioneer of Islamic Revival. Diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul Para Perintis Zaman Baru Islam. Bandung: Mizan.

Sambas, Syukriadi. 2009. “Pemikiran Dakwah Muhammad Abduh Dalam Tafsir al-Manar”. Disertasi Tidak Diterbitkan Jakarta:UIN Syarif Hidayatullah.

Suara Muahammadiyah. Edisi 22, 16-30 November 2019.

Fadhlurrahman Rafif Muzakki

Alumni PAI UMY!

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: