Santri Cendekia
Home » Jemput Ibu-ibu Terbaik Untuk Anak Kita! (Al-Furqan : 74)

Jemput Ibu-ibu Terbaik Untuk Anak Kita! (Al-Furqan : 74)

“Dan orang-orang yang berkata, Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami yang menyejukan pandangan kami. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. (Al-Furqan : 74)

Dalam ayat ini, ada sebuah SOP penting lain yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada kita. SOP bagaimana membangun sebuah peradaban yang ideal melalui pembentukan keluarga yang ideal. Di dalam doa di surat di atas, kita memohon agar diberikan pasangan yang menyejukan pandangan sebelum memohon keturunan yang menyejukan pandangan. Hikmahnya bahwa Jika kita ingin dapat memiliki anak-anak yang hebat, yang soleh, yang dapat berguna untuk umat di masa depan. Maka sungguh tugas pertama kita adalah mencarikan ibu-ibu yang baik untuk mereka. Selayaknya visi ayah Shalahuddin Al-Ayyubi dalam mencari pendaming hidup,

”Aku menginginkan wanita shalehah yang akan menggandeng tanganku menuju jannah dan akan melahirkan seorang anak yang ia didik dengan baik hingga menjadi seorang pemuda dan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke dalam pangkuan kaum muslimin.”

Jika kata Ustad Bachtiar Nasir, jangan tanam benih di tanah yang tandus. Jangan main-main urusan pernikahan. Untuk para pemuda yang belum menikah, sungguh menikah tidak hanya bermodal “cinta” dan “sudah mapan”. Modal terpenting sebelum menikah itu adalah ilmu. Setelah itu, bentuk visi yang mulia dari ilmu yang sudah kita punya. Lalu bagaimana bagi yang sudah menikah dan merasa visi menikahnya dulu salah? InsyaAllah semua bisa diperbaiki. Syaratnya, antara suami dan istri harus ada sinkronisasi. Ada kemauan berubah yang sama antara suami dan istri.

Efek negatif yang cukup ekstrim dari ketidaksingkronan seorang suami dan istri dapat kita lihat dari kisah keluarga Nabi Nuh as (tanpa mengurangi keutamaan dan kemuliaan beliau sebagai seorang ulul azmi). Istri Nabi Nuh yang konsisten dengan kekafirannya, akhirnya menjatuhkan 1 korban. Anak Nabi Nuh, yang sering dikenal sebagai Kan’an, menjadi produk kaderisasi ‘sukses’ dari ibunya yang kafir.

Baca juga:  Allah Al Hafîzh dan Kebatilan Paham Mekanisme Alam dan Deisme.

 Kisah ini ini ada bukan untuk menjadikan kita bersikap melampaui batas dan tidak beradab terhadap Nabi Nuh. Karena dalam Ali-imran : 33 sendiri Allah sudah menyatakan bahwa Allah telah memilih Nabi Nuh as di atas semesta alam pada masanya. Kisah ini ada untuk menjadi ‘ibrah bagi kita, agar kita tidak main-main dalam memilih pasangan hidup. Bahkan anak seorang Nabi pun bisa terjatuh ke dalam kekafiran apabila memiliki seorang ibu yang tidak beriman. Apatah lagi kita, Nabi bukan, Ulama bukan, iman pun setengah-setengah. Maka carilah istri yang siap diajak untuk mencetak generasi-generasi hebat pengguncang peradaban.

Berapa banyak ulama-ulama hebat kita yang lahir karena perjuangan seorang ibu. Imam syafi’i rahimahullah, terlahir sebagai anak yatim dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Namun ibunya tidak pernah patah arang, ibunya membawa beliau dari palestina menuju ke makkah untuk menuntut ilmu. Sang ibu rela bekerja serabutan demi membiayai proses belajar imam syafi’i. Jadilah beliau salah satu ulama terbesar berkat jasa ibunya. Sebagai rasa ta’zim yang begitu besar terhadap jasa ibunya, beliau memberi nama salah satu karyanya dengan judul AL-UMM (ibu).

Di Kisah lain, Seorang ibu  hampir tak pernah melewatkan malam-malamnya untuk menangis dan berdoa dalam qiyamnya. Hingga suatu hari ibu ini bermimpi melihat Nabi Ibrahim yang memberi kabar gembira hasil banyaknya doa dan derasnya air mata. Kabar gembira tentang anaknya yang bisa melihat kembali setelah buta sejak kecil. Dan benar pagi itu, anaknya bisa melihat. Di usia anaknya yang ke-16 tahun, ibu ini mengantarkannya ke Mekah untuk haji sekaligus duduk di pusat ilmu Islam. Agar kelak ia pulang menjadi amirul mukminin bidang hadits. Beliau adalah Imam Al Bukhari rahimahullah.

Baca juga:  Sabar dan Saling Menjaga Kesabaran! (Ali-Imran : 200 part 1)

Di kisah lain, Seorang ibu, Suatu hari dia berkata pada anaknya, “Nak, tuntutlah ilmu. Aku yang mencukupimu dengan tenunanku. Nak, jika kamu telah menulis sepuluh hadits, maka lihatlah jiwamu apakah ia bertambah takut, lembut dan wibawa. Jika kamu tidak melihat itu ketahuilah bahwa ia membahayakanmu dan tidak manfaat bagimu.” Dan lahirlah seorang pakar ilmu besar bidang hadits dan faqihnya Arab. Sufyan ats Tsauri rahimahullah.

Ya ikhwan tunggu apa lagi?

Jemput peradaban gemilang itu!

Jemput ibu-ibu terbaik untuk anak-anakmu!

Allahu a’lam bishshawab

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

1 komentar

Tinggalkan komentar