Santri Cendekia

Jualan Kaos Muktamar Muhammadiyah, Komersialisasi Persyarikatan?

Oleh: Amirudin A Faza

Muktamar 2005 di Malang, saya jualan pernak-pernik muktamar, dari kaos, topi, kipas, dan lain-lain. Modal pinjam sana-sini. Waktu itu nggak ada aturan soal komersialisasi logo. Semua orang bisa membuat merchandise Muktamar, semua orang bahagia.

Alhamdulillah, hasil jualan saya lumayan. Berangkat dari Jogja pinjam satu mobil isi full barang dagangan, pulang naik travel tinggal bawa satu kardus bekas bungkus kertas hvs A4.

Saya ambil stand, sewa tentu saja, di Muktamar Aisyiyah. Pas pembukaan, saya ke stadion Gajayana, jualan kaki lima. Saya dibantu 2 sahabat baik saya; satu anak Pemuda Muhammadiyah Cabang dan satu anak Nasyiatul Aisyiyah Daerah yang asli Malang. Hari-hari terakhir, saat barang dagangan habis, saya kulakan di pedagang lain. Alhamdulillah laris juga.

Nah, untuk siapa saya jualan? Ya, jelas untuk “maisyah” saya sendiri dan keluarga. Kala itu belum ada setahun usia pernikahan saya, dan istri sedang hamil, yang menurut dokter HPL-nya satu bulan sesudah Muktamar.

Dengan gaji pas-pasan, keuntungan dari jualan di Muktamar itu tentu sangat membantu proses kelahiran anak pertama saya yang tentu saja butuh banyak biaya.

Saya nggak tahu, apakah saya bisa disebut sebagai pihak yang melakukan komersialisasi Persyarikatan untuk kepentingan pribadi atau tidak? Kalau iya, ya nggak apa lah.

Yang pasti, anak pertama saya yang banyak dibantu kelahirannya dari event Muktamar itu, sekolah TK-nya di TK ABA, SD-nya di SD Muhammadiyah dan sekarang sedang mondok di Mu’allimin Muhammadiyah Jogja. Nggak usah dibayangkan berapa biaya sekolahnya. Ha-ha. Belum lagi 2 adiknya, yang juga di TK ABA dan SD Muhammadiyah.

* Penjual Kaos Muktamar Muhammmadiyah

Pak Ngadimin

Add comment

Tinggalkan komentar