Santri Cendekia

“Jumat Agung”: Puisi Yang Menghakimi Agama

Oleh: Arif Wibowo*

Puisi Jumat Agung

Ulil Abshar Abdalla (Cendekiawan Muslim, NU)

Ia yg rebah, di pangkuan perawan suci,
bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yg lemah, menghidupkan harapan yg nyaris punah.
Ia yang maha lemah, jasadnya menanggungkan derita kita.
Ia yang maha lemah, deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi, setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci,
terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!

Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.

Saat aku jumawa dengan imanku,
tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu,
terus mengingatkanku:
Bahkan Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu
– mereka semua guru-guruku,
yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.
Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah, jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!
Tubuh yang mengucur darah di kayu itu, bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta, untuk mereka yang disesatkan dan dinista.

Penderitaan kadang mengajarmu tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci, kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku.
Ia telah menebusku dari iman yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!

Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih Tuhan.

(Selamat Berjumat Agung saudaraku)

Puisi paskah di atas ini lagi viral di kalangan teman-teman NU belakangan ini. Sebenarnya tidak akan bermasalah jika yang membacakan orang Kristen, bukan santri kecil berkopiah NU dan santriwati berjilbab putih seperti yang ada dalam lagunya Nasyida Ria.

Bait akhir dari puisi tersebut, jelas menggambarkan pandangan keagamaan penulisnya yakni penganut perrenialisme, salah satu varian pluralisme yang berbeda arah dengan global teologinya Smith. Ini jelas masuk dalam tataran pluralisme teologis bukan pluralisme sosiologis.

Baca juga:  Intruksi Resmi Majelis Tabligh PP Muhammadiyah terkait Pelaksanaan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19

Sedangkan di bait-bait awal bermasalah. Karena konsepsi Yesus yang dibawakan adalah konsepsi Yesusnya Kristiani. Bukan Isa a.s nya umat Islam. Karenanya, meski merujuk pada sosok yang sama, konsepsi Yesus dan Isa itu berbeda secara mendasar pada banyak hal.

Adanya perbedaan ini dikarenakan sumber yang dipercayai pada agama Kristen dan Islam itu dari kitab suci yang berbeda. Lebih mendasar lagi, konsep tentang wahyu. Bagaimana akhirnya firman Tuhan itu bisa menjelma menjadi sebuah buku juga berbeda.

Banyak teman-teman muslim yang berpendapat, karena di masyarakat sama-sama disebut kitab suci maka proses historis juga kurang lebih sama. Banyak yang membayangkan pewahyuan dalam tradisi Kristen itu sama seperti proses pewahyuan Al Qur’an.

Karena menuliskan tentang agama lain di ruang publik, saya berusaha tidak masuk ke ranah doktrin. sebab, sebagaimana yang dipesankan Al Qur’an, Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Salah satu buku ringan tapi komperehensif yang menampilkan pertumbuhan agama Kristen -sejauh bacaan saya- adalah buku yang ditulis oleh Michael Keene yang berjudul Kristianitas. Buku 160 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. Menarik untuk menyampaikan secara ringkas paparan dalam buku ini mengenai kitab suci.

Menurut Kisah Para Rasul, martir pertama Kristen adalah Stefanus. Stefanus dilempari batu sampai mati di depan Saulus dari Tarsus yang memimpin awal penganiayaan terhadap umat Kristen.

Saulus adalah seorang Yahudi Farisi, pengamat hukum yang sangat keras, murid dari Gamaliel, Rabi besar Yahudi dan warga negara Romawi. Imam Agung mengizinkan Saulus untuk pergi ke Damaskus dan mengepung umat Kristen, tetapi dalam perjalanannya Saulus bertemu Yesus.

Sebuah pertemuan mistis. Dimana dalam perjalanannya, ia dibutakan oleh sinar yang sangat menyilaukan dan mendengar suara Yesus yang bertanya, mengapa dia menganiaya Gereja? Setelah tiga hari di Damaskus, penglihatannya pulih dan akhirnya ia menjadi anggota gereja dan dikenal dengan nama Paulus.

Baca juga:  “Agama Cinta” Ibnu Arabi

Tokoh lain yang juga dikenal sebagai peletak dasar kekristenan adalah Petrus, yang disebut sebagai murid langsung Yesus. Petrus, menurut Michael Keene, adalah orang yang pertama kali membukakan gereja untuk orang non Yahudi tetapi tidak bisa menerima bahwa orang Yahudi dan bukan Yahudi sama kedudukannya dalam Gereja.

Oleh karena itu kemudian tongkat kepemimpinan gereja diberikan kepada Paulus. Dalam memimpin gereja, ada karya besar Paulus yang diwariskan kepada penerusnya, yakni 1) karya misionaris (penyebaran agama yang intensif), 2) penanaman iman Gereja dan 3) penulisan surat.

Penulisan surat itu disebut epistola, baik ditujukan untuk gereja maupun untuk umat Kristen secara pribadi. Surat-surat Paulus ini banyak diabadikan dalam Bible Perjanjian Baru. Epistola ini mendapat tempat yang signifikan di Perjanjian Baru -meskipun masih diperdebatkan adanya beberapa epistola yang tidak ditulis sendiri oleh Paulus. Karena Injil yang paling tua yakni Markus, ditulis sekitar tahun 65 di masa ketika Petrus dan Paulus menjadi martir.

Meski demikian, surat-surat ini adalah dokumen awal kekristenan yang sangat penting. Paulus merupakan tokoh yang paling banyak karyanya. Meskipun ia bukan murid Yesus sejak awal, tetapi karena pertobatannya yang dramatis dalam perjalanan ke Damaskus ia diyakini menjadi murid Yesus secara “ex officio”.

Uraian Michael Keene ini setidaknya bisa menjelaskan definisi kitab suci menurut agama Kristen sebagaimana yang ditulis oleh pemikir Kristen Dr. Harun Hadiwiyono,

“Isi alkitab menurut keyakinan Kristen memang diwahyukan Allah, tetapi pewahyuan itu tidak didiktekan oleh Tuhan Allah. Penulis alkitab memang didorong dan dipimpin Roh Kudus, tetapi mereka juga bekerja mencari bahannya sendiri, memakai langgam bahasanya sendiri dan sebagainya. Semua hal ini harus kita ingat jika kita hendak menafsirkan Alkitab. Sebab para penulis alkitab itu mempergunakan bahasa sehari-hari untuk menguraikan pertemuan dengan Firman yang Hidup itu dan untuk menceritakan pengalaman mereka mengenai pertemuan itu. Untuk dapat menafsirkan Alkitab dengan benar, orang harus mengenal dunia memikirkan yang menjadi latar belakang para penulis alkitab, maksud mereka dan sebagainya. Jika tidak, tafsiran itu tidak mungkin benar.”

Konsep ini tentu berbeda dengan konsep pewahyuan dalam Islam. bagaimana nuzulnya wahyu; dari Allah melalui malaikat Jibril yang disampaikan ke Rasulullah Muhammad.

Baca juga:  Daurah Nasional Pembinaan Ilmuwan Islam

Oleh karena itu dalam Islam, meski keluar dari lisan yang sama, ada perbedaan antara Al Qur’an dengan hadits Nabi. Hadits pun ada beberapa tingkatan. Mulai dari sahih, hasan, dha’if dan maudhu’. Berbeda dengan Al Qur’an yang mutawatir.

Bagi saya pribadi, mengetahui konsepsi internal agama lain itu diperlukan. Supaya  bisa menempatkan diri dengan benar di ranah publik yang majemuk. Sehingga ada proses saling menghormati di ranah sosiologis, ranah mu’amallah, sebab bisa menempatkan diri secara benar.

Dengan demikian, saya berharap teman sesama muslim atau rekan yang beragama lain akan merasa nyaman dalam melakukan interaksi sosial.

*Penulis adalah seorang penikmat buku pemikiran Islam dan Inisiator Komunitas Cangkurakan Dakwah. Pemikiran dan ulasan beliau dapat dijumpai di podcast “Cangkrukan Dakwah”

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: