Santri Cendekia
Home » Kahanisme dan Pandangan Orang Israel terhadap Bangsa Arab-Palestina

Kahanisme dan Pandangan Orang Israel terhadap Bangsa Arab-Palestina

Belakangan ini media dan aktivis semakin sering mengekspos retorika ultra rasis para petinggi Israel. Wakil wali kota Jerusalem misalnya menyebut tawanan Palestina sub-human, bahkan non-human. Pernyataan ini bukan pernyataan terisolir, silakan google saja, beberapa petinggi Israel pernah tercatat mengeluarkan ucapan rasis serupa. Maka akan wajar jika kita melihat mereka mudah saja membom Gaza dan tidak begitu peduli pada jumlah korban jiwa. Sebab yang mati itu bukan manusia.

Namun seberapa gregetan pun kita, perlu untuk memahami bahwa tidak semua orang Yahudi mengimani ideologi ultra rasis ini. Bahkan tidak semua orang Israel yang Zionis mengimaninya. Tapi bagaimanapun, ideologi (dan teologi) ini memang sedang meningkat popularitasnya di kalangan rakyat dan elit Israel.

Artikel ini akan menggambarkan dengan sederhana pandangan rakyat dan elit Israel pada orang-orang Palestina dan ide tentang ‘negara Palestina’. Artikel ini diolah dari data yang sepenuhnya kami ambil dari laporan jurnalis investigasi senior asal Haifa, David Sheen dan disusun berdasarkan narasi dari Ustadh Shadee Elmasry dari Safina Society.

Empat Pandangan terhadap Palestina

Dominasi

Dari segi sikap mereka terhadap rakyat Palestina dan ide tentang negara Palestina orang Israel bisa dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama adalah kaum nasionalis. Secara teologis, mereka bisa dikatakan ber-Yahudi secara reformis. Mereka memang mengakui Taurat berasal dari Tuhan tetapi tidak benar-benar mengimplementasikannya secara penuh. Mereka lebih pragmatis dan praktis, mereka mengikuti tradisi Judaisme yang dianggap bisa diimplementasikan dalam konteks negara Israel, tapi meninggalkan bagian yang dianggap kurang praktis. Secara demografis, mereka mayoritas di Parlemen Israel (Knesset), sekitar 60%.

Terhadap Palestina, mereka menerapkan sikap dominasi. Mereka menginginkan hanya ada satu negara di bumi Palestina dan negara itu adalah sebuah negara-etnik Yahudi yang eksklusif.  Orang Yahudi harus memiliki lebih banyak hak daripada orang Arab. Posisi ini cukup mirip dengan atau bahkan bisa dikatakan apartheid. Pemimpin Israel saat ini, Benjamin Netanyahu, berasal dari kalangan ini.

Baca juga:  Robohkan Rasa Takut dan Bicara Lantang Soal Palestina!

Eliminasi

Kelompok nasionalis di atas terus-menerus didesak oleh kelompok mayoritas kedua – memiliki kursi sekitar 20% di Knesset. Kelompok kedua ini adalah kaum supremasis. Secara teologis mereka mengikuti interpretasi yang oleh Yahudi lainnya dianggap terlalu ekstrem. Mereka adalah pengikut Rabbi Meir Kahane. Tokoh ini penting untuk diingat sebab dialah tokoh spiritual dan politik di balik kelompok supremasis yang sama sekali tidak menghargai Palestina, baik sebagai negara, bangsa, bahkan sebagai seorang manusia.

Mereka tentu saja hanya mendukung adanya satu negara di bumi Palestina. Negara tersebut adalah Israel. Adapun orang Arab-Palestina, mereka bukan hanya layak didiskriminasi seperti visi apartheid ala kelompok pertama, tapi layak untuk dieliminasi.

Untuk mencapai tujuannya, kelompok ini awalnya bergerak di luar parlemen. Mereka membentuk milisi dan melakukan serangan terror.  Sekarang mereka sudah masuk parlemen dan memegang posisi-posisi penting baik politik, keagamaan, maupun social-kultural di Israel – dan di luar Israel (Untuk lebih detail unduh buklet gratis ini).

Integrasionis

Kelompok berikutnya adalah kaum integrasionis. Seperti nama yang diberikan Sheen kepada mereka, kelompok ini menginginkan integrasi dengan masyarakat non-Yahudi. Sayangnya, mereka kebanyakan sekular sehingga identitas keyahudiannya hanya bersifat etnik. Mereka kebanyakan terdiri dari orang-orang liberal yang hanya mengidentifikasi diri sebagai Yahudi tapi tidak menjalankan hukum-hukum Taurat. Bahkan mungkin ateis. Mereka memiliki kursi sekitar 10 % di Knesset.

Kelompok ini menginginkan adanya satu negara saja di bumi Palestina, tapi negara tersebut tidak didirikan di atas identitas rasial atau keagamaan tertentu. Mereka menginingkan sebuah negara-bangsa demokratis yang ‘normal’. Seperti kebanyakan negara demokrasi saat ini di mana semua warga negara memiliki hak sipil yang setara.

Baca juga:  Historifobia: Penyakit di Balik Buntunya Upaya Perdamaian di Bumi Palestina

Separasionis

Kelompok ini juga ramah pada orang-orang Palestina, bahkan mereka siap mengakui adanya negara Palestina. Pengakuan ini bukan dari pandangan sekular atau liberal seperti kelompok integrasionis, tapi sepenuhnya atas interpretasi mereka sendiri terhadap Taurat dan tradisi rabbinic Yahudi. Jadi mereka ber-Yahudi secara serius.

Solusi mereka adalah dua negara. Mereka menginginkan adanya sebuah negara etno-religio Yahudi di mana mereka bisa menjalankan kehidupan sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran Yahudi. Namun mereka tidak menafikan hak orang Palestina atas tanah kelahirannya. Orang-orang Palestina juga dipersilakan memiliki negara mereka sendiri dan harapannya kedua negara ini berdiri terpisah tapi akur. Sayangnya, kelompok ini hanya 5% dari kekuatan politik Israel di Knesset.

Rabbi Meir Kahane dan Pengaruhnya di Israel

Dalam literatur, khususnya literatur jurnalistik, ideologi kelompok eliminasionis sering juga disebut Kahanisme, merujuk kepada Rabbi Meir Kahane. Pandangan dan cara kerja Kahane and the gang awalnya dianggap cukup ekstrem oleh orang-orang Yahudi sendiri sehingga ia sempat dijebloskan ke penjara. Ketika di penjara inilah, Kahane menulis sebuah risalah politik, judul Inggrisnya They Must Go. Yang dimaksud ‘they’ yang harus ‘go’ itu ya tentu orang-orang Palestina.

Kahana adalah orang Amerika yang kebetulan lahir di keluarga Yahudi, ayahnya bahkan seorang Rabbi. Singkat cerita, ia akhirnya menjadi Rabbi juga. Karena kebetulan Yahudi, meskipun telah merasakan hidup yang relative tenang di Amrik, ia selalu gelisah karena tanah Palestina belum sepenuhnya bisa dikuasai Israel. Apalagi, orang Israel sendiri tampaknya tidak begitu serius. Mereka masih main aman, bahkan berencana berdamai dengan PLO. Kahane tidak suka perdamaian.

Bagi Kahane, perdamaian adalah ancaman bagi eksistensi dan ekslusivitas Israel bagi orang Yahudi. Salah satu bentuk komitmen anti-perdamaiannya adalah rencananya untuk meledakkan Dome of the Rock pada 1971. Tujuannya agar orang-orang Arab bereaksi keras dan upaya perjanjian damai bisa buntu. Ia lebih suka perang terbuka, dan ia ingin sekali motif agama mengemuka. Jika motif agama mengemuka, maka legitimasi nasionalistik Palestina akan hilang. Untunglah ancaman teror ini bisa dielakan.

Baca juga:  Gaza bukanlah Penjara dan Serbuan Israel bukanlah Tragedi: Palestina dan Politik Bahasa

Singkat cerita, Kahane akhirnya masuk Knesset dengan platform partai anti-Arab. Ia terus berkiprah sampai 1990 ketika ia modyar ditembak orang. Namun pengaruh Kahane terus hidup di kalangan masyarakat Israel. Sebagai contoh, pengikut Kahane yang menembak 40an jamaah masjid di Khalil, Baruch Goldstein, disebut oleh seorang pejabat Israel sebagai “the sweetest Jew I ever know”. Ya, menembak orang-orang yang sedang salat subuh adalah tindakan heroik seorang Yahudi unyu-unyu, menurut pejabat Israel ini.

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar