Santri Cendekia

Kerangka Konsep Tauhid Ekologis

Berpijak pada penjelasan teologis pada bagian sebelumnya dari tulisan ini, dapat disimpulkan definisi tauhid ekologis yaitu keimanan kepada Allah yang didasarkan kepada kesadaran alam dan diwujudkan dengan memperhatikan, melindungi dan menghormati Alam. Kesadaran kepada Allah melalui Alam menuntut seseorang untuk senantiasa peka terhadap alam yang berada di sekitarnya. Melihat dan memerhatikan dengan cara pandang imani bahwa alam dengan beragam bentuk dan jenisnya adalah tanda yang begitu nyata akan adanya Sang Pencipta. Tidak ada yang tercipta sia-sia dan keterciptaannya berasal dari konsep yang sempurna. Kesadaran kepada Allah melalui alam ini juga mengharuskan seseorang untuk menjaga dan memelihara alam. Itulah bentuk nyata dari tauhid ekologis: Menjaga alam dari kehancuran sebagaimana menjaga diri untuk tidak jatuh kepada kemaksiatan.

Jika hendak distrukturisasi, maka tauhid ekologi dapat dibagi menjadi tiga nilai: (1) nilai kepercayaan [iman]; (2) nilai estetika; (3) praktek. Dalam pandangan tauhid ekologis, Allah tidak boleh dikenal hanya dari aspek transendental (Zat yang tidak terjangkau oleh manusia). Kenapa demikian? karena bagi tauhid ekologis, dominasi alam pikir transendent ketika menghayati hakikat Allah menyebabkan seseorang memisahkan aspek kesalehan dengan perhatian terhadap lingkungan. Jika demikian, maka jangan heran akan muncul sebuah ungkapan “tidak apa-apa alam/ lingkungan ini rusak, yang penting saya tetap saleh”.

Lalu jalan apa yang baik di dalam mengenali Allah dari perspektif tauhid ekologis? Bisa didekati dengan penjelasan Mulyadhi Kartanegara mengenai pengenalan terhadap Tuhan dalam konsep Islam.[1] Mulyadhi menyatakan, Tuhan dalam pandangan Islam dikenali berdasarkan Zat tuhan dan Sifat Tuhan. Ketika berbicara mengenai Tuhan sebagai Zat, maka al-Qur’an menggunakan metode tanzih penyucian atau juga disebut sebagai negative theology[2] bahwa tidak satu pun entitas di dunia ini,- baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa- yang sama dan berada pada tingkat yang sama dengan Zat Allah.  Allah tidak berada pada rantai makhluk apapun, bahkan sedikitpun, dari aspek manapun tidak ada yang menyerupai dengan tingkat serupa sekecil apapun dengan Zat Allah. Dalam bahasa al-Qur’an, kita kenal dengan ungkapan laisa ka miṡlihi syai’un (tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya).[3]dalam ungkapan as-Sijistani, “Allah bahkan tidak bisa dikatakan sebagai ‘ada’ dalam arti maujūd. Ia pencipta yang ada, tetapi Ia sendiri tidak sama dan melampaui segala yang ada.”

Pengenalan Allah tidak hanya berhenti kepada Zat-Nya yang transendent, sebab jika demikian maka konsep Islam tidak ada bedanya dengan konsep ajaran lainnya seperti ajaran Budha yang menyatakan bahwa Yang Maha Kuasa itu tidak pernah terjangkau. Karena Islam tidak hanya berisi sistem kepercayaan tetapi juga sistem peradaban yang menyatu dengan dimensi ketuhannya (dalam istilah al-Maudhudi teodemokrasi), maka pengenalan Allah pun –dalam beberapa hal- juga harus menyentuh dan menyatu pada sesuatu yang memang dapat dikenali oleh manusia agar manusia bisa merasa dekat dengan Allah. Menurut Mulyhadi, ruang itu berada dan bisa dikenali ketika berusaha “mengetahui” Allah dari aspek sifatNya.

Ketika berbicara Sifat Allah, al-Qur’an secara tersirat memaparkan metode keserupaan (tasybih). Sekali lagi ditegaskan bahwa keserupaan ini tidak diberlakukan kepada Zat Allah. Dalam hal sifat pun, keserupaan ini juga tidak diterapkan dengan ukuran kemiripan seratus persen. Tetapi sifat itu terhubung erat dengan zat Allah. Sehingga meskipun sifat tersebut bisa dikenali oleh manusia, tetapi tetap tidak bisa dibayangkan secara pasti mengingat Zat yang tersifati sifat tersebut adalah Zat yang tak terbayangkan.

Pengetahuan akan sifat Allah yang bisa dicerna oleh manusia itulah menjadi jalan agar manusia merasa dekat dan “kenal” dengan Penciptanya tanpa mengurangi kemahakuasaanNya. Hal ini bisa dilihat dari sembilan puluh sembilan sifat Allah yang dalam kadar tertentu sifat tersebut juga dimiliki oleh manusia. Misalnya saja, Allah disifati dengan sifat Maha Hidup  (al-Ḥayyu). Manusia bisa merasakan betapa luar biasanya Allah, Zat yang Maha hidup ini, karena manusia juga adalah makhluk yang hidup. Perbedaannya pada hidupnya manusia tidak kekal, HidupNya Allah adalah kekal. Pengetahuan manusia terhadap sifat ini tidak menjadikan Allah kerdil di mata manusia, tetapi justru menjadi sebab kemahakuasaan Allah yang bisa dirasakan manusia. Karena manusia merasakan hidup, mendambakan hidup abadi namun mustahil baginya, karena kondisi itu, manusia bisa sadar betapa luar biasanya Zat yang bisa hidup tanpa pernah mati dengan segala sebabnya (tua, sakit, lemah dan lain sebagainya). Zat seperti itulah yang layak disebut Tuhan.

Menghayati Allah dari tauhid ekologis idealnya pun menggunakan dua metode ini. Dari aspek nilai kepercayaan (iman) maka penghayatan atas alam dengan berbagai keluarbiasaannya menambah keyakinan kita bahwa Sang Pencipta alam adalah Zat yang tidak bisa disejajarkan dengan manusia. Sebab manusia, hingga sekarang pun belum bisa membuat unsur alami yang itu –sampai saat ini- hanya disediakan oleh alam. Maka semakin kita menghayati alam dalam tauhid teologis maka, semakin suci (tanzih ) Allah dalam keyakinan kita.

Jika nilai iman dari tauhid ekologis menguatkan ketanzihan zat Allah, maka nilai estetika dari tauhid ekologis akan menguatkan hubungan kita dengan Allah. Sebab Allah memiliki tiga sifat; Maha Indah, Maha Agung, dan Maha sempurna yang seorang pun tidak akan bisa dengan benar-benar menghayati ketiga sifat Allah itu, kecuali ia memahami dan menghayati nilai estetika dari alam yang Allah ciptakan ini. Dengan demikian, seseorang akan semakin merasa dekat dan akrab dengan Allah, ketika ia memahami betul Keindahan Keagungan dan Kesempurnaan Allah dari alam disekitarnya.

Terakhir, tauhid ekologis, tidak berhenti pada kedua hal itu saja, tetapi –sebagaimana pembagian tauhid yang lain- ia juga harus dipraktekkan sebagai bentuk pemuliaan Allah melalui pemeliharaan dan kepedulian seorang hamba kepada lingkungan. Teladan yang terbaik dalam hal ini tentu adalah Rasulullah. Beberapa riwayat menggambarkan sosok Nabi saw sebagai pribadi yang sangat peduli terhadap lingkungan. Di antaranya, dalam kitab adab al-mufrad disebutkan:

عن أنس بن مالك رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إنْ قَامَت السَّاعةُ وَفِي يَد أَحَدِكُم فَسِيلةٌ  فَإنْ استَطاعَ أنْ لَا تَقُومَ حَتى يَغرِسَهَا فَليَغِرسْهَا

dari Anas bin Malik r.a., Nabi saw bersabda: apabila terjadi hari kiamat, sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat bibit/tunas, maka apabila ia bisa menanamnya sebelum meledak kiamat itu, maka hendaknya ia menanam bibit/tunas tersebut.[4]

Hadis di atas secara jelas menunjukkan perintah Rasulullah untuk memberi perhatian terhadap alam meski dalam keadaan genting sekalipun. Setiap muslim sejatinya bisa menangkap semangat dari anjuran Rasulullah ini, yaitu orang yang beriman, bertauhid dan bergantung kepada Allah harus senantiasa optimis dan berada di garda terdepan untuk memelihara alam yang Allah ciptakan. Ungkapan bibit di tangan juga menjadi cermin bahwa hendaknya tangan seorang muslim idealnya menjadi tangan yang produktif untuk menumbuh suburkan lingkungan di sekitarnya. Kerja-kerja ekologis yang positif harus selalu diusahakan dalam rangka menjaga keteraturan alam sesuai dengan keteraturan yang telah ditetapkan Allah

Dari skala yang terkecil, tauhid ekologis ini sejatinya bisa kita mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga kita, di tempat-tempat aktifitas kita, termasuk di ruang publik seperti di masjid dan di kampus. Dari keluarga kita berusaha untuk mengurangi penggunaan plastik belanja; di masjid kita berusaha untuk mengganti kotak-kotak snack dengan sarana yang dapat di daur ulang, semisal piring yang terbuat dari anyaman bambu; di kampus bisa kita mulai dari memunculkan ide-ide inspiratif untuk memanfaatkan sumber daya yang besar. Seperti di UMY sudah diupayakan pemanfaatan bekas air yang digunakan untuk berwudhu. Sehingga berkubik-kubik air yang terpakai itu tidak hanya terbuang begitu saja, tetapi bisa dire-fungsikan kembali untuk hal-hal yang bermanfaat lainnya. Meski semua itu merupakan hal yang merepotkan, harus tetap kita usahakan. Itulah jihad ekologis yang tidak akan pernah berhenti meskipun kiamat terjadi. Wallahu musta’an

[1] Mulyadhi Kartanegara, Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia, (Bandung; Mizan, 2017)

[2] Ibid, hlm. 4

[3] Q.S. as-Syura: 11

[4] Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, pentahqiq. Samir bin Amin az-Zuhairi, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1419 H/ 1998 M), hlm. 242

Qaem Aulassyahied

Add comment

Tinggalkan komentar