Santri Cendekia

Keras dan Penuh Kasih Sayang (Al Fath 29 part 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Muhammad utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar (Al-Fath : 29)

  

     Dalam ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla bercerita tentang ciri-ciri para sahabat yang membersamai Nabi akhir jaman dalam perjuangannya. Ciri-ciri yang pertama adalah orang-orang ini bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir. Menurut Ustad Herfi, orang-orang kafir pada ayat ini adalah orang-orang kafir harbi. Orang-orang kafir yang memerangi islam dan menimbulkan fitnah di tubuh umat islam, sehingga umat islam pun boleh dan bahkan wajib memerangi mereka.

     Konsekuensi iman, tidak bisa tidak, tentu akan melahirkan ghirah dan perlawanan kepada siapapun yang memerangi dan memusuhi islam dengan terang-terangan. Seperti yang diterangkan dalam surat Al-Mujadalah ayat 22, bahwa tidak akan pernah didapati, orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dapat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi allah dan Rasul-Nya. Ini adalah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa ditawar. Lihat bagaimana para sahabat begitu keras dan tegas kepada orang-orang kafir yang memerangi agama Allah sekalipun itu adalah keluarga, keluarga atau bekas kawan dekatnya. Abu Bakar berhadapan dengan anaknya, Mush’ab bin umair dengan saudaranya, Abu Hudzaifah dengan ayahnya, dan kisah yang lainnya.

Baca juga:  Nahi Mungkar dan SOP-nya (Tadabbur Ali-Imran : 110 bag. terakhir)

     Yang kedua, bahwa mereka, para sahabat-sahabat Rasulullah yang terpilih, memiliki sifat yang begitu lembut dan saling berkasih sayang kepada sesama orang-orang beriman. Lihat bagaimana Al-Qur’an menggambarkan keindahan ukhuwah dan kasih sayang orang-orang anshar kepada orang-orang muhajirin dalam surat Al-Hasyr ayat 9. Orang-orang anshar begitu mencintai orang-orang muhajirin yang justru akan menjadi “beban” untuk kehidupan mereka. Mereka pun tidak ada sedikit hajat di hatinya untuk mengambil keuntungan atau timbal balik dari pemberian yang mereka berikan kepada orang-orang muhajirin. Padaha mereka dalam kondisi yang sulit. Sa’ad Ubadah Al-anshary, dikatakan bahkan bisa menampung 80 orang muhajirin untuk menjamu mereka makanan. Sa’an bin rabi’, bahkan ingin memberikan satu istrinya untuk Abdurrahman bin ‘Auf. Hingga bahkan di masa wafatnya Rasulullah, kaum Anshar (semoga Allah merahmati mereka dan anak cucunya), dengan lapang dada melepaskan diri mereka dari “bursa” kekhilafahan. Mereka sudah ridha sebagai wazir bagi jama’atul muslimin. MasyaAllah.

     Namun sekarang? Adakah kita pantas menyandang gelar sebagai umat muhammad? Ada yang begitu keras terhadap saudara seiman, ada yang begitu akrab dan bersahabat dengan para kafir harbi. Mudah sekali kita mentahzir ulama lain, melabeli saudara kita dengan ahlul bid’ah, khawarij, dan label-label lain yang tidak pada tempatnya. Sedang terhadap kafir harbi, kita bela dengan dalih toleransi, dan yang sedang hangat dan sering bikin eneg, kebhinekaan. Subhanallah, kebhinekaan dengkulmu.

     Kita seperti umat bingung yang malas berpikir bijaksana dan mendalam. Sehingga pada akhirnya kita bingung mendefinisikan mana kawan dan mana lawan. Mana orang yang perlu bimbingan dan mana yang penjahat besar. Mana perkara ushul dan mana perkara furu’. Berantakan semuanya. Mana tokoh yang perlu diteladani dan mana yang tidak. Kita keras dan tajam terhadap saudara yang kurang pintar, tapi kompromistis terhadap orang liberal dan sespesiesnya. Semua mengklaim metode dakwah dan manhajnya yang paling sunnah, padahal semuanya hanya perlu saling melengkapi. Dalil bukan lagi jadi petunjuk, hanya jadi alat legitimasi pembenaran komunitas masing-masing.

Baca juga:  Al-Hakim; Kebijaksanaan Penuh Kasih

    Sekali lagi, Umat Muhammad adalah mereka yang tegas dan keras kepada kafir harbi, dan berkasih sayang terhadap sesama. Selama ini belum terwujud, maka tak usah jauh-jauh membicarakan kejayaan islam apalagi khilafah. Karena Imam Malik pernah berkata, umat ini tidak akan pernah bisa diperbaiki kecuali dengan cara seperti umat terdahulu diperbaiki.

 

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: