Santri Cendekia
Home » Keridha’an Allah di atas Keridha’an Ekonomi (kritik Muhammad al-Ghazali atas Klaim Orientalis)

Keridha’an Allah di atas Keridha’an Ekonomi (kritik Muhammad al-Ghazali atas Klaim Orientalis)

Mbah Muhammad al-Ghazali waktu berbincang dengan penulis haha :
Ukuran harta atau ekonomi memang sudah menjadi pandangan hidup kebanyakan orang. Hal ini karena faham matrealisme yang dibawa oleh pihak kapitalis dan kolonialis sudah menjadi pandangan hidup. Mulai dari masalah yang besar, seperti sebab majunya peradaban, pendidikan, tercapainya kesejahteraan umum, teknologi, dan kemoderenan itu ditentukan dari bagus tidaknya aspek ekonomi sebuah negara. Begitu juga dengan hal-hal sosial yang sepele, seperti memilih menantu, pekerjaan, memilih jenjang karir dan pendidikan, juga ditentukan dari seberapa besar peluang kita mendapatkan ekonomi dan finansial yang baik.

Matrealisme yang kita anut sekarang adalah sebuah faham yang tidak sesuai dengan falsafah hidup agama Islam. Matrealisme akan menjadikan kita manusia yang menuhankan kebendaan, mendasari segala hubungan dengan teori untung rugi dan menjadikan kita manusia konsumtif dan hedonis, serta yang paling utama menjadikan kita jauh dari ajaran agama yang menekankan kehidupan yang bernilai tinggi dalam aspek hubungan sosial, amar makruf nahi munkar, dan utamanya hidup menjaga moral dan kepatuhan kepada Tuhan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak sebagaimana yang kita yakini.

Dan memang pada sejarahnya, faham matrealisme ini merupakan salah satu senjata yang dipergunakan oleh orang Barat dalam mengaburkan sejarah Islam. Hal itu dimaksudkan agar semua muslim ragu apakah perjuangan umat Islam terdahulu yang sungguh gilang gemilang murni di dasari atas perjuangan iman ataukah dorongan ekonomi semata.

Muhammad al-Ghazali dalam salah satu tulisannya pada kitab Mi’ah Su’al ‘an Islam,menerangkan sebagian orientalis Barat tidak mau mengakui kenyataan bahwa kejayaan Islam diraih atas dasar keberislaman yang sempurna. Dalam pandangan mereka sebagai orang yang hidup di bawah naungan kolonialisme, bahwa apa yang terjadi di masa lalu tak lain adalah perang demi mencari kebendaan. Untuk itu, mereka membuat sejarah yang sungguh jauh dari apa yang tertulis dalam buku-buku sejarah Islam. Mereka mengatakan “paceklik hebat yang melanda Jazirah Arabia pada zaman Nabi Muhammad dan sesudahnya, membuat orang-orang Arab, baik secara rombongan maupun perorangan, pergi ke negeri-negeri tetangganya yang subur untuk menghindari kelaparan. Mereka mencari makan di daerah Iraq dan Suriah untuk tujuan itu”.

Di kesempatan lain orientalis juga menulis tentang Rustam seorang panglima bala tentara Persia berbicara kepada al-Mughirah ibn Syu’bah. “saya tahu bahwa yang mendorong kalian bertindak seperti itu (menyerang Persia) ialah disebabkan oleh penghidupan yang sempit dan penderitaan. Kami bersedia memberi kepada kalian apa saja yang dapat mengenyangkan kalian dam memperbolehkan kalian mengambil apa yang kalian inginkan”.

Baca juga:  Membangun Filsafat Sains Modern; Review Atas Tulisan Towards a Contemporary Philosophy of Islamic Sciene Karya Anwar Ibrahim (1)

Masih banyak lagi pengkaburan sejarah yang mereka lakukan. Omong kosong-omong kosong seperti ini kemudian dibungkus dengan data yang sungguh di luar koar mereka bahwa penelitian harus didasari dengan data yang valid, pendapat yang objektif dan bebas dari kepentingan. Lebih anehnya lagi, ada orang yang mengaku Islam namun dengan setia mengekor pendapat-pendapat palsu orientalis dan meninggalkan bantahan-bantahan yang cemerlang dari ulama Muslim. Mereka merasa lebih intelektual jika mengikuti pendapat orientalis yang dalam hal ini sudah sangat jelas hanya ingin memadamkan cahaya Allah dibanding para ulama yang menjadi lentera Islam. “Yuriduna liyuthfi’u Nuur Allah, Wallahu mutimmu nuurihi walau kariha al-kafirun”.

Adalah Muhammad al-Ghazali, salah seorang ulama yang menyempurnakan “cahaya Allah” ini. Kegelapan sejarah yang sengaja diciptkan oleh para orientalis, kemudian dilenyapkan dengan obor sejarah yang nyata dan liku logika yang tak terbantah. Ia mengatakan bahwa, jika zaman itu –zaman di mana Arab masih terbelakang dan kelaparan sebagaimana tuduhan orientalis- orang Arab ditanya “apakah anda hendak menyerbu Persia dan Romawi, disebabkan kelaparan yang anda alami?” maka pasti anda disebut orang gila. Taruhlah jika paceklik terjadi di Swiss, apakah penduduknya serta merta menyerbu Rusia atau Amerika untuk mencari makan?, jika Kongo juga mengalami bencana kelaparan, apakah penduduknya menyerbu dua negara raksasa di sekitarnya? Hanya orang-orang mabuk saja yang berpikir seperti itu!

Mengenai sejarah Rustam panglima Persia yang dikatakan oleh orientalis, maka itu adalah kebohongan sejarah. Dalam kitab sejarah yang mu’tabar –yang tidak sama sekali dirujuk oleh sebagian besar kaum orientalis seperti Tarikh at-Tabari- diungkapkan bahwa Rustam mengetahui jelas, bahwa beberapa tahun yang lalu rajanya (Kisra) menerima sepucuk surat dari Muhammad Rasulullah saw yang berisi ajakan supaya bersedia memeluk agama Islam. Rustam pun tahu bahwa sekarang pengikut Muhammad saw datang untuk menyampaikan dakwah yang sama dan mereka bersedia kembali ke negerinya sendiri jika Persia telah memeluk agama Islam.

Baca juga:  Kajian Tafsir Ayat-Ayat Puasa #1 ; Makna Kebahasaan

Sebagian Orientalis tersebut mungkin tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu tentang banyak hadis yang menerangkan bagaimana para Muslim berperang karena mencari ridha Allah. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa, seorang bertanya kepada Rasulullah tentang orang yang berperang karena tiga motif; karena harta, derajat dan mau dianggap hebat, mana di antara mereka yang masuk surga?. Rasulullah menjawab “barang siapa yang berperang karena hendak meninggikan kalimat Allah dialah yang berhak masuk surga”. Muslim dalam shahih-nya juga mengetengahkan sebuah hadis yang menerangkan tentang tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Salah satu dari mereka adalah orang yang mati di medan perang. Tatkala orang tersebut dihisab, ia ditanya “kenapa engkau terbunuh?”, orang tersebut menjawab “Aku diperintah berperang di jalanmu, karena itu, aku terbunuh!, Allah bertitah seketika “engkau berdusta, engkau berperang karena mau dianggap sebagai orang pemberani, dan sekarang engkau telah mendapatkan niatmu itu!”, lalu Allah menyuruh malaikat menariknya dan melemparnya ke dalam api neraka. Semua itu di dasari dari firman Allah:

“sesungguhnya dari orang-oirang mukmin Allah membeli jiwa dan harta mereka dengan surga. Mereka berperang di jalan Allah lalu mereka membunuh atau dibunuh. (Q.S. 9:11)

Para Sahabat dan kaum tabi’in serta muslim yang lurus mengikuti Islam, yakin betul bahwa berperang dengna tujuan untuk meraih keuntungan duniawi akan mengakibatkan kerusakan agama dan menjauhkan dari mashlahat yang sebenarnya. Sejarah membuktikan, tidak ada satu pun kekuatan bisa mencapai kejayaan yang hakiki dan seluas kaum muslimin terdahulu. Inilah bukti nyata bahwa manifestasi paganisme atau keberhalaan, baik yang berupa ideologi, politik, maupun ekonomi tidak akan pernah mampu menciptakan hati yang lebih berani dan tangan yang lebih kuat dari hati dan tangan yang dibentuk oleh keimanan kepada Allah swt. Khalid Muslih, peraih doktoral di universitas al-Azhar memberikan wejangan bahwa dalam Islam sungguh sangat terang diyakini bahwa, Orang-orang yang mengharap dunia hanya akan mendapatkan dunia yang kecil ini, sementara umat Muslim harapannya adalah Ridha Allah swt, dan ketika Allah telah meridhai, maka ia akan memberikan yang lebih banyak dari apa yang kita harapkan “wallahu yu’tika aktsar mimma tatamanau”.

Baca juga:  Membangun Filsafat Sains Modern; Review Atas Tulisan Towards a Contemporary Philosophy of Islamic Sciene Karya Anwar Ibrahim (2)

Maka kejayaan yang didapatkan umat muslim dahulu karena Allah telah meridhai mereka, dan mungkin sekarang kita tidak mendapatkan kejayaan itu, karena yang kita harapkan adalah “keridha’an ekonomi”

Avatar photo

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar