Santri Cendekia
Home » KESADARAN MEMIMPIN, MEMIMPIN KESADARAN

KESADARAN MEMIMPIN, MEMIMPIN KESADARAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan manusia. Hal ini terbukti dengan adanya sosok pemimpin di dalam tiap kesatuan social sejak zaman dahulu. Pada masyarakat primitive entah di zaman dahulu atau bahkan sampai sekarang, mereka akan mengangkat orang terbaik mereka menjadi kepala suku. Pada system monarki ada raja atau kaisr, pada system republic ada presiden. Plato sang filsuf idealis mengangankan negara yang dipimpin seorang filosof. Jadi manusia diamana dan kapan saja membutuhkan pemimpin, ini sesuai dengan kodrat mereka selaku makhluk social, makhluk yang suka berkumpul dan hidup bersama, kita menyebutnya bermasyarakat. Bayangkanlah jika sekumpulan orang hidup bersama , tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang memiliki otoritas untuk didengarkan pendapatnya dimana keputusannya adalah kata akhir bagi tiap sengketa, pasti yang terjadi adalah kekacauan ; semua orang melakukan yang menguntungkan pihaknya sehingga terjadi chaos.
Sebagai agama yang syumul atau meliputi segala aspek kehidupan, Islam tentu saja mengatur pula masalah yang sungguh penting ini.  Fundamen Islam  yakni al-Quran dan Sunah memang tidak mengatur sampai detail-detailnya, misalnya tata cara pemilu, pemasangan lampu lalu lintas oleh pemimpin kota dan hal-hal teknis lainnya. Perkara yang diatur adalah pokok-pokok atau asas-asas kepemimpinan. Sebutlah asas musyawarah, amar ma’ruf nahi munkar, ‘adalah dan lain sebagainya. 
Kepemimpinan dalam kaca mata Islam bisa dimaknai khusus yakni pemimpin masyarakat dengan segala mekanisme pengangkatan, persyaratan, dan hal-hal lain yang diatur dalam fikih siyasah, atau al-ahkam al-sulthaniyah jika memakai isitlah al-Mawardi dan Abu Ya’la al-Hanbali. Kemudian kepemimpinan juga bisa dimakani umum yaitu kepemimpinan yang dilakukan oleh setiap individu, dalam kaca mata ini setiap orang adalah pemipin atas tanggung jawab sekecil apapun yang dibebankan padanya termasuk tanggung jawab atas dirinya sendiri.
Pada tulisan ini saya tidak akan membahas terlalu ilmiyah tentang bahasan kempemimpinan  dalam kaca mata pertama.  Sesuai judulnay, tulisan ini mungkin hanya bersifat reflektif tentang salah satu prinsip kepemiminan dalam Islam yakni kesadaran memimpin yang masuk pada ranah kepemimpinan jika dilihat dengan paradigm kedua tadi. 
Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadisnya yang cukup popular (masyhur): 
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهْوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ ، وَهْيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ
Arti : dari Abdullah bin Umar ra, bahwa beliau mendengarb Rasulullah saw bersabda : setiap diri kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kalian pimpin. Maka seorang Imam adalah pemimpin (atas rakyatnya) dan ia bertanggung jawab akan rakyatknya, seorang lelaki adalah pemipin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas keluarganya, seorang wanita adalah pemimpin pada rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas hal itu, seorang budak/pembantu adalah pemimpin atas harta majikannya dan ia bertanggung jawab atas harta majikannya itu. (HR. Bukhari-Muslim.)
Para imam mukharrij hadis seperti Bukhari dan Muslim meletakan hadis ini pada bab kepemimpinan dalam kitab mereka. Tidak mengherankan karena hadis ini bisa dikatakan bahwa hadis inilah dasar utama bagi konsep kepemimpinan dalam Islam. Baik dari paradigm umum dan ataupun khusus. Pesan utama hadis di atas adalah apa yang saya sebutkan dalam judul tulisan ini sebagai “kesadaran memimpin”.
Kesadaran memimpin adalah modal utama bagi setiap orang untuk hidup tertib dalam suatu negara. Bukan hanya sebagai kepala negara tetapi juga sebagai warga negara. Betapa bijak Rasulullah saw, beliau mampu memadatkan konsep luas tentang kepemimpinan Islam dalam sebait sabdanya. Perhatikanlah!, beliau menyebutkan bahwa kesaran memimpin harus ada pada tiap individu muslim, lalu beliau memberikan perincian mualai dari posisi kepala negara, keluarga, dan bahwa seorang budak pun adalah pemimpin. 
Jika diperhatikan, inti dari kedaran memimpin yang hendak ditekankan oleh Rasulullah adalah rasa tanggung jawab atau jika memakai istilah hadis di atas “akan ditanyai (masulun) tentang yang dipimpinannya”.  Kita tentunya sepakat bahwa rasa tanggung jawab memang merupakan ruh sebuah kepemimpinan. Sebuah system kepemimpinan apa pun namanya meskipun ia memakai nama khilafah akan runtuh hancur lebur jika kesadaran memimpin atau tanggung jawab telah menguap dari hati pemimpin dan rakyatnya. Jika dibawa pada level individu, maka seorang yang telah kehilangan rasa tanggung jawabnya dan tidak lagi sadar bahwa ia adalah pemimpin atas dirinya pasti akan mejadi biang penyakit social dan menzhalimi dirinya sendiri.
Kesadaran memimpin pada gilirannya akan melahirkan suatu pencerahan dalam diri seseorang bahwa ia adalah pemimpin bagi seluruh dirinya jiwa dan raga. Orang yang telah meyadari hal itu akan tahu bahwa seluruh tingkah lakunya berada dalam kendali sesuatu yang sisebut oleh Paulo Friere sebagai “kesadaran”. Nah, dengan demikian ia akan segera mengambil tali kekang kesadaran dirinya, sehingga segala tindak tanduk yang muncul dari dirnya berada di bawah pengawasannya. Konsep terakhir inilah yang penulis sebut “memimpin kesadaran”.
Menutut penulis, konsep kesadaran memimpin dan memimpin kedaran inilah yang menjadi salah satu kunci utama manejmen kepemimpinan dalam kaca mata Islam. Jika kedua hal ini telah terpatri dalam diri tiap individu anggota dari suatu masyarakat atau jika memakai istilah hadis Nabi al-imam hingga al-khadim maka akan mudahlah suatu masyarakat diatur, dimenej untuk menempuh jalan yang benar menuju tujuan yang benar. Tujuan yang benar dari suatu kepemimpinan kata Buya Natsir adalah menjadikannya sebagai sarana ibadah kepada Allah swt, karena itulah tujuan satu-satunya eksistensi manusia di muka bumi. 
Wallahu a’lam bisshawab.
  
Baca juga:  Kritik Wael B Hallaq terhadap Fondasi Orientalisme (Bagian III)

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar