Ketika Natsir Mendebat Rasjidi

Pilihan Redaksi

Kirim tulisan ke email: tholebinibrahim@gmail.com
Pilihan Redaksi

Penulis: Mahmud Budi Setiawan, LC*

Engkin Zaenal Muttaqien (ulama dan intelaktual asal Jawa Barat), dalam suatu kesempatan pernah menceritakan tukar pikiran menarik antara dua sahabat yang merupakan tokoh Islam terkemuka, yaitu: Rasjidi (1915-2001) dan Natsir (1908-1993).

Saat kedua figur ini menjadi pembicara di hadapan enam puluh sarjana yang ingin mendalami Islam, keduanya sempat ditanya persoalan kesenian oleh salah satu peserta (Baca: 70 Tahun Prof. H. M. Rasjidi, 1985: 149, 150).

Sang penanya adalah Prof. Drs. A. Sadali (Seorang Guru Besar Jurusan Seni Rupa ITB) mengenai sikap Islam terhadap patung baik yang realistik dan abstrak.

Sebagai dosen seni, beliau merasa perlu bertanya hal itu karena pernah membaca hadits mengenai pengharaman menyimpan dan membuat patung. Supaya tidak penasaran, ditanyakanlah persoalan itu kepada kedua tokoh Islam kawakan tersebut.

Rupanya, jawaban keduanya berbeda. Menurut Buya Natsir, hukum membuat dan menyimpan patung yang berbentuk lengkap atau separuh, realistik maupun abstrak adalah haram.

Salah satu argumentasi yang dibangun Natsir adalah hadits yang dikemukakan oleh Prof A. Sadali. Sementara itu, Prof. Rasjidi memiliki pandangan berbeda dengan Mohammad Natsir, Mantan Menteri Penerangan itu.

Bagi Rasjidi, membuat dan menyimpan patung dalam Islam –yang abstrak maupun realistik– sebenarnya tidak masalah asal tidak ditujukan untuk menyembah selain Allah.

Terlebih, menurut tokoh yang menjadi Menteri Agama RI itu, pada saat itu membuat dan menyimpan patung dilarang karena masyarakat masih jahiliyah yang gemar menyembah patung.

Pada pandangan Rasjidi, sekarang kemungkinan itu sangat kecil karena zaman sudah sangat maju dan banyak yang terpelajar. Berdasarkan argumentasi ini beliau berpendapat boleh.

Tukar pikiran ini rupanya mengambil waktu cukup lama. Dan masing-masing tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Kemudian, muncullah sebuah kelakar: “Yang satu (maksudnya Rasjidi) berasal dari pendidikan kolot dan berakhir ke modern, sedangkan satunya (Natsir) lagi berasal dari pendidikan modern kemudian menjadi kolot.”

Ada hal menarik yang bisa dipetik dari pertukaran pendapat itu yang dipicu dari pertanyaan  sarjana tadi. Sekaligus menggambarkan oase keteladan dari figur sekaliber Natsir dan Rasjidi.

Pertama, para tokoh Islam sudah memberikan teladan yang baik pada umat bahwa perbedaan pendapat adalah hal wajar dan tidak sampai merenggut persahabatan. Terbukti, sampai akhir hayat Natsir dan Rasjidi adalah sahabat.

Selain itu, persahabatan bukan berarti harus terus sependapat dan nihil perbedaan. Justru masing-masing bisa dan sah-sah saja mengemukakan pandangan dan gagasan yang berbeda untuk memperkaya khazanah Islam, selama bukan dalam hal yang berkaitan dengan masalah fundamental dan permanen dalam Islam.

Kedua, ternyata persoalan seni dalam tubuh umat  Islam masih belum tuntas. Kemungkinan sampai sekarang masih juga demikian. Oleh karena itu generasi selanjutnya mendapat PR untuk menjawabnya agar seni Islam bisa bersaing dengan perkembangan zaman.

Ketiga, tokoh Islam seharunya memberi solusi atas kebingungan umat bukan malah membuat mereka bingung dengan kepentingan kelompok dan perbedaan pendapat. Jawaban Rasjidi misalnya, meminjam istilah E. Z. Muttaqien, sebagai “lampu yang terang” terhadap masalah yang membingungkan umat Islam.

Keempat, meyelesaikan persoalan tidak mengedepankan emosi tapi kedinginan hati. Bisa melalui diskusi yang hangat dan sehat dengan argumentasi yang ilmiah dan edukatif. Bukan seperti sekarang, yang kebanyakan dengan orang yang berlainan pandangan suka membully, nyinyir, bahkan membunuh karakternya melalui media sosial.

Kelima, pentingnya menghidupkan tradisi ilmiah sebagai sarana kuat untuk membangun peradaban. Dahulu, saat umat Islam berada dalam masa keemasannya, salah satu hal yang melekat di tubuh mereka adalah tradisi ilmiah. Bisa melalui dialog dan kajian ilmiah secara lisan, maupun karya tulis ilmiah yang berkontribusi besar dalam bidang peradaban.

Dengan demikian, umat Islam tidak hanya disibukkan dengan perkara-perkara kecil sehingga lupa dengan persoalan yang bersekala peradaban. Dialog kedua tokoh tadi telah memberi keteladan yang bagus untuk dikembangkan. Lalu bagaimana dengan kita sebagai generasi penerus?

*Pengurus PCIM Mesir

Pilihan Redaksi

Kirim tulisan ke email: tholebinibrahim@gmail.com

Tinggalkan komentar