Santri Cendekia
Home » Khilafah Tegak, Mungkinkah Palestina Merdeka?

Khilafah Tegak, Mungkinkah Palestina Merdeka?

Seorang ustad yang terafiliasi dengan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pernah membuat status facebook dengan cukup berani—untuk tidak mengatakan gegabah. Ia menyatakan dan mengklaim bahwa Palestina hanya bisa dibebaskan oleh jihad (qital) dan tegaknya khilafah.

Mengenai jihad sebagai solusi pembebasan Palestina, penulis setuju 100%. Karena penjahat dunia terbesar di dunia saat ini, Israhelll, tidak mempan hanya dikutuk, dilaknat, atau diberi sangsi internasional. Mereka harus diusir dan dihabisi hingga Palestina bisa merdeka dan kerusakan di sana bisa dihentikan. Bahkan menurut CNN, Israhell memiliki catatan buruk karena sudah melanggar 3 hukum Internasional sekaligus, yakni Hukum Humaniter Internasional, Statuta Roma, dan Konvensi PBB tentang senjata konvensional tertentu 1980. Penulis tidak tahu lagi cara apalagi untuk menghadapi negara sejahat Israhell selain dengan Jihad Qital.

Namun klaim soal khilafah, itu sangat debatable. Kita bisa meninjau kekuatan klaim ini dengan data-data historis. Kali ini penulis akan menjadi peristiwa direbutnya Yerusalem oleh pasukan Salib pada perang salib pertama sebagai referensi.

Kita tahu, ketika Yerusalem direbut oleh pasukan salib pada tanggal 1099 M, kekhilafahan Abbasiyah masih tegak di Baghdad. Namun saat itu posisi kekhilafahan hanyalah simbolis, bagai cangkang kosoing tanpa isi. Yang benar-benar menjalankan pemerintahan adalah Bani Turki Saljuk. Namun rezim Bani Turki Saljuk juga diwarnai perselisihan dan intrik perebutan kekuasaan di internal mereka. Adapun beberapa contoh bobroknya kondisi internal muslimin akan dipaparkan penulis di bawah ini:

Pertama, ketika Pasukan Salib mengepung kota Nicaea dalam perjalanan menuju Yerusalem pada tahun 1097, Kilij Arslam sebagai pemimpin kota itu sedang berperang untuk memperebutkan kota   Melitene (Malatya). Namun sayangnya saat itu Kilij bukan berperang melawan orang kafir melainkan berperang melawan Pasukan Turki Muslim lainnya yang berada di bawah kepemimpinan Emir Danishmend.

Baca juga:  Mengapa Moderasi Beragama Saja Tidak Cukup

Kedua, pada tahun yang sama, ketika pasukan salib mengepung kota Antioch (Antokya), Dinasti Fathimiyah malah mengirim utusan kepada pasukan salib untuk berdiplomasi dan memberikan saran agar pasukan salib bisa menaklukan seluruh Syria, lalu mereka akan merebut Palestina dan Yerusalem dari kekuasaan Muslim Sunni. Dinasti Fathimiyah memanf menjalin hubungan baik dengan pihak Byzantium karena mereka sama-sama bermusuhan dengan pihak Turki Saljuk.

Kelak ketika Kota Antioch berhasil direbut oleh pasukan salib, Dinasi Fathimiyah menyiapkan pasukan untuk merebut Palestina di bawah kepemimpinan Al-Afdhal. Akhirnya mereka berhasil menjatuhkan kekuasaan Muslim Sunni di sana dan menguasai Palestina. Namun mereka hanya berkuasa selama setahun karena kelak Palestina akan direbut lagi oleh Pasukan Salib.

Ketiga, dua hari setelah Kota Antioch direbut oleh Pasukan salib, Karbugha dan beberapa emir dari Syria termasuk Duqaq, datang dan mengepung Antioch. Di atas kertas, kesempatan pasukan muslim untuk meraih kemenangan sangat besar. Namun dikarenakan perselisihan internal di tubuh pasukan muslim, akhirnya pasukan centang perenang dan membubarkan diri ketika pasukan salib di dalam benteng Antioch keluar dan melakukan perlawanan.

Karbugha dengan sikapnya yang otoriter, menimbulkan ketidak sukaan dari para diri emir Syria yang akhirnya memilih untuk meninggalkan Karbugha di tengan pengepungan. Akhirnya mental Karbugha menjadi ciut dan meninggalkan pasukan salib untuk kembali ke Mosul. Akhirnya pasukan muslim kehilangan kesempatan besar untuk merebut kembali Antioch.

Keempat, ketika Yerusalam direbut pada tanggal 15 juli 1099, kaum muslimin di Syria tidak tahu kepada siapa mereka harus mengadu. Para pemimpin politik dan militer di Syria lebih sibuk bertengkar dengan saudara mereka sendiri. Dua bersaudara, Ridwan sebagai penguasa di Aleppo, dan Duqaq sebagai penguasa di damaskus, terlibat perselisihan yang sangat keras. Mereka lebih sibuk berperang satu sama lain dan bahkan saling membenci satu sama lain melebihi kebencian mereka kepada pasukan Salib.

Baca juga:  Gaza: Bumi Ribath yang seharusnya Diprioritaskan

Kelima, pada Agustus 1099, pasca direbutnya Yerusalem dan pembantaian terhadap penduduknya oleh Pasukan Salib, Abu Sa’ad Al-Harawi, Qadi kota Damaskus, berangkat ke Baghdad untuk meminta pertolongan kepada pihak kekhalifahan. Maka setelah tiba di Baghdad, pada suatu Jum’at beliau melakukan provokasi dan demonstrasi untuk mencuri perhatian Rakyat dan Kekhalifahan Baghdad. Sebelum salat Jum’at dimulai, Harawi dan para rombongannya makan di depan umum padahal saat itu sedang Bulan Ramadhan. Beliau dan rombongannya tentu mendapatkan rukhsakh untuk tidak berpuasa karena sedang dalam perjalanan safar.

Al-Harawi dan para rombongannya pun memancing keributan jama’ah dan akhirnya diamankan oleh petugas keamanan setempat. Beliau lalu berkata mengapa mereka bisa begitu marah terhadap pelanggaran atas puasa Ramadhan, tetapi tidak merasa marah terhadap pembantaian ribuan muslimin di Palestina dan Syria serta penghancuran tempat-tempat suci kaum muslimin.

Akhirnya Al-Harawi bertemu dengan Khalifah Al-Muntazhir Billah dan mengadukan berbagai peristiwa memilukan yang terjadi di Palestina dan Syria selepas pasukan salib merangsek masuk dan merebut Yerusalem. Atas pertemuan ini, Khalifah mengirim beberapa delegasi untuk melakukan observasi dan investigasi terkait kondisi Palestina, namun dikarenakan satu dan lain hal, para delegasi tersebut hanya berjalan hingga Hulwan dan kembali lagi ke Baghdad. Alhasil, semua perjuangan yang dilakukan Al-Harawi dan kelompoknya pun sia-sia.

Sebenarnya masih banyak fakta sejarah yang bisa disajikan untuk menyampaikan betapa memprihatinkannya kondisi internal muslimin sekalipun saat itu kekhalifahan masih tegak. Bukannya merasa khilafah dan persatuan seluruh muslimin di bawah satu pemerintahan tidak penting, tapi kita juga tidak perlu berlebihan dan overclaim bahwa khilafah adalah solusi dari segala permasalahan umat islam. Apalagi jika klaim ideologis tersebut digunakan untuk mengkerdilkan berbagai usaha, perjuangan, dan kepedulian umat muslim yang berada di “Jalur Lain”.

Baca juga:  Menyibak Hipokrisi Barat, Media, dan Keterlibatan Gereja di dalam Krisis Gaza

Apa yang paling pertama dan Utama yang harus dibenahi adalah kondisi jiwa kaum muslimin agar terbebas di berbagai penyakit aqidah dan hati yang bermuara kepada penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Jikapun kekhalifahan tegak lagi, namun kondisi umat muslim masih tamak terhadap dunia dan kekuasaan, masih menyimpan dengki dan fanatisme jahiliyyah terhadap sesama muslim, masih mencintai dunia secara berlebihan dan enggan untuk berjihad, maka sulit sepertinya untuk mengharapkan perubahan yang signifikan di dalam kondisi internal umat islam, apalagi jika kita berbicara tentang Pembebasan Palestina.

Referensi:

Alatas, Alwi. 2012. Nuruddin Zanki dan Perang Salib. Jakarta, Zikrul Hakim (Anggota IKAPI).

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar