Santri Cendekia

Kiat Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

Fitnah akhir zaman bukan hanya Dajjal atau kejadian-kejadian luar biasa lainnya, ia sudah terjadi saat ini. Bagaimana cara menghadapinya?

Oleh: Ustadz Muhsin Hariyanto*

Konon di akhir zaman akan terjadi apa yang disebut oleh orang sebagai ‘fitnah akhir zaman’, yang ditengarai oleh Rasulullah shallallâhu’alaihi wa sallam benar-benar akan terjadi. Prediksi Rasulullah shallallâhu’alaihi wa sallam itu, kata para ulama, bahkan ‘saat ini’ sudah kita rasakan dan kita alami. Salah satu wujudnya adalah: “terpilihnya para pemimpin yang zalim di antara kita.” Hal ini bisa difahami dari beberapa riwayat, antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallâhu ‘anhu,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ االلهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ. قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ «نَعَمْ». قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ «نَعَمْ». قُلْتُ كَيْفَ قَالَ «يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ».

Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, dahulu saya berada dalam kejahatan, kemudian Allah menurunkan kebaikan (agama Islam) kepada kami, apakah setelah kebaikan ini timbul lagi kejahatan?” Beliau menjawab: “Ya.” Saya bertanya lagi, “Apakah setelah kejahatan tersebut akan timbul lagi kebaikan?” beliau menjawab: “Ya.” Saya bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan ini timbul lagi kejahatan?” beliau menjawab: “Ya.”

Aku bertanya, “Bagaimana hal itu?” beliau menjawab: “Setelahku nanti akan ada pemimpin yang memimpin tidak dengan petunjukku dan mengambil sunah bukan dari sunahku, lalu akan datang beberapa laki-laki yang hati mereka sebagaimana hatinya setan dalam rupa manusia.” Hudzaifah berkata; saya bertanya, “Wahai Rasulullah, jika hal itu menimpaku apa yang anda perintahkan kepadaku?” beliau menjawab: “Dengar dan patuhilah kepada pemimpinmu, walaupun ia memukulmu dan merampas harta bendamu, dengar dan patuhilah dia.” (HR Muslim)

Kondisi ini diperparah dengan keadaan manusia yang berada pada ketidak fahaman terhadap (ajaran) agama, jauhnya umat dari ulama dan juga sebaliknya, tidak adanya perhatian terhadap agama mereka, sunnah Nabi mereka, dan tidak sedikit orang yang beragama dengan ‘hanya’ menggunakan insting dan hawa nafsunya, dan bahkan ‘agama’ tidak jarang hanya dijadikan sebagai ‘topeng’ kemunafikan, berpijak pada sabda Rasulullah shalalahu alaihi wasallam,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا.

Baca juga:  Membesarkan Anak di Tengah Fitnah LGBT (Catatan Seminar Sexual Education and Islamic Parenting)

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan dan diminumnya khamer serta adanya praktik perzinaan secara terang-terangan.” (HR Al-Bukhari Muslim)

Pada saat demikian biasanya orang awam yang tidak tahu apa apa tentang masalah yang sedang terjadi, mulai angkat bicara, berkomentar ‘sok’ berilmu dan ‘merasa’ sudah pintar’, mereka tidak sadar bahwa yang sedang dibicarakan ini adalah masalah besar, masalah umat dan masalah hajat orang banyak, Mereka pada angkat bicara di berbagai media, berkomentar di mana- mana, lebih-lebih di media sosial, sehingga yang timbul adalah menyebarnya fitnah dan kerusakan di tengah tengah umat, yang justeru semakin memperburuk keadaan, ‘alih-alih’ memerbaiki, ‘malah tambah membuat runyam suasana,’ padahal kalau seandainya mereka itu ‘diam’, niscaya diam mereka merupakan suatu maslahat besar bagi umat (baca: utamanya untuk kepentingan umat Islam).

Maka benarlah apa yang disabdakan Rasulullah shalallâhu alaihi wasallam,

سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الْأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِيْ أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, para pendusta di benarkan, sementara orang jujur didustakan, orang yang berkhianat dianggap amanah sementara orang yang amanah dianggap berkhianat dan akan berbicara Ar-Ruwaibidhah. Ditanyakan: “Siapakah Ar-Ruwaibidhah itu?”. Beliau berkata: “Orang yang bodoh berbicara dalam perkara umum (beragam persoalan umat)”. (HR. Ibnu Majah)

Bahkan ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari (sahabat) Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, yang menyatakan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda,

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ الْقَتْلُ.

Baca juga:  Umat Butuh Tauhidnya Ibrahim dan Ismail

“Kiamat akan semakin dekat dengan dicabutnya ilmu tentang Islam, banyaknya bencana atau kekacauan, serta maraknya kekikiran dan al-Harj”. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah itu al-Harj?” Rasulullah menjawab, “pembunuhan.” (HR Muslim)

Sementara itu, dalam hadits lain disebutkan,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لَا يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيمَ قَتَلَ وَلَا الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ فَقِيلَ كَيْفَ يَكُونُ ذَلِكَ قَالَ الْهَرْجُ الْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ.

“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, dunia ini tidak akan binasa kecuali setelah manusia mengalami suatu masa di mana pelaku pembunuhan tidak mengerti apa sebabnya ia membunuh dan orang yang terbunuh juga tidak mengerti apa sebabnya ia dibunuh.’ Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Bagaimana hal itu bisa terjadi ya Rasulullah?” Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab, “Itulah pembunuhan, di mana orang yang membunuh dan orang yang dibunuh akan masuk neraka.” (HR Muslim)

Semua fitnah yang terjadi ini merupakan “ujian dari Allah” atas para hamba-Nya, untuk menguji: “siapakah di antara mereka yang benar dalam menyikapi fitnah dan siapakah di antara para hamba yang berjuang dengan perjuangan yang benar, bukan semata-mata mengikuti hawa nafsunya.

Demikian juga ketidakpedulian kaum muslimin kepada agamanya dengan tidak mau memelajarinya, enggan untuk mengamalkannya, sibuk dengan urusan dunianya, sehingga tidak tahu akan ajaran agamanya, maka kehinaanlah yang didapatkan, berupa dikuasakan musuh–musuhnya, tidak ada lagi rasa takut di hati musuhnya kepada kaum muslimin, Allah cabut rasa takut dari hati musuh-musuh islam, mereka berani menghina, merendahkan kaum muslimin , padahal jumlah kaum muslimin adalah mayoritas, jumlah kita bnyak, apa penyebab semua ini?

Jawabnya secara umum adalah karena kita kaum muslimin telah jauh dari agama ini, Islam hanya nama identitas di KTP kita, maka Maha Adil Allah Ta’ala ketika memnguasaklan pemimpin yang zalim kepada rakyat yang juga zalim. Kita ini disebut kaum yang ‘mulia, tetapi bersyarat. Kita akan disebut sebagai ‘kaum mulia’ kalau kita ‘beriman dengan sebenar benar iman.’

Baca juga:  Memahami Hadis 'Sabar atas Pemimpin Zalim'

Seandainya kondisi ini mau kita anggap sebagai sebuah musibah, janganlah kita terlebih dahulu menyalahkan orang lain. Akan tetapi ber-muhâsabah-lah (lakukanlah evaluasi diri), karena sangat dimungkinkan terjadinya musibah di bumi ini semuanya karena ulah tangan-tangan kita sendiri. Oleh karena itu marilah perbaiki diri kita sendiri dan keluarga kita, karena inilah kewajiban utama kita. Kita mulai dari diri dan keluarga kita, sebelum kita menuding orang lain.

Untuk menghadapi fitnah akhir zaman, kita seharusnya bersikap proporsional. Antara lain:

  1. Berdo’alah kepada Allah, dan mohonlah perlindungan dari fitnah.
  2. Perbanyaklah amal shalih dan tinggalkan semua bentuk kemaksiatan.
  3. Jagalah lisan kita dari berkomentar dari setiap apa yang kita dengar. Khususnya dalam perkara Nawâzil (kejadian-kejadian atau masalah-masalah kontemporer yang terjadi pada kaum muslimin). Lebih lebih komentar dan bicara di ‘medsos’ yang boleh jadi akan memerkeruh keadaan.
  4. Tetaplah berusaha untuk menuntut ilmu agama, dengan cara – antara lain – menghadiri majelis-majelis ilmu. Karena dengan memahami hal ini dengan benar, kita akan memunyai filter, tidak mudah ‘ikut-ikutan’ (terbawa arus) dengan fitnah, tidak mudah mengikuti hawa nafsu, sehingga akan selamat dari fitnah itu.
  5. Bersabarlah, dengan tidak mudah melakukan tindakan yang hanya mengikuti hawa nafsu.

Demikianlah uraian singkat mengenai prediksi Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa salllam, dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya (secara proporsional). Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan bagi diri kita, khususnya bagi siapa pun yang masih peduli terhadap kemungkinan terjadinya fitnah akhir zaman yang sekarang ini tengah kita hadapi.

Wallâhu a’lamu bish-shawâb.

Ngadisuryan – Yogyakarta, Sabtu, 24 Februari 2018

*Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah, PP. Muhammadiyah.

Muhsin Hariyanto

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: