Santri Cendekia

Kisah Isra Miraj: Dari Langit Menjadi Ilmu

Belum lama terlepas dari embargo penduduk Mekkah, Nabi Muhammad Saw mendapatkan duka cita yang amat mendalam. Tahun kesedihan yang terjadi kira-kira pada 619 M ini dikenal dengan sebutan am al-huzn. Istilah tersebut merujuk pada peristiwa wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah. Abu Thalib sosok paman yang memberikan perlindungan dari segala tindakan musuh. Sementara Siti Khadijah sosok istri yang senantiasa mendukung penuh dakwah Islam dan risalah Nabi.

Setelah kehilangan dua sosok yang berjasa dalam hidupnya, Nabi Agung itu kembali mendapatkan tekanan bertubi-tubi dari kafir Quraisy. Menjadi laki-laki yang terbuang dengan pilihan hidup yang getir. Sebagai manusia yang memiliki daging dan tulang, luapan kesedihan tersebut nyaris membuat Nabi Saw putus asa dalam mengemban misi kerisalahannya.

Berkat keimanan yang kuat, jerih payah Nabi Muhammad Saw mampu menapaki gaharnya medan dakwah yang kasar dan bertabur ranjau di mana-mana. Kehilangan orang-orang yang dicintainya dan terpaan angin cemooh dari penduduk Mekkah tak mampu merobohkan benteng semangat menyebarkan ajaran Ilahi. Jalan terjal dakwah Rasulullah ini memang begitu fantastis sekaligus sporadis, namun dirinya tetap yakin bahwa setiap lika-liku kehidupan merupakan ujian dari Sang Pencipta.

Dalam keadaan yang terdesak, keajaiban itu datang. Pada suatu hari Rasulullah memutuskan bermalam di rumah Ummu Hani’. Di kediaman sepupunya itu, beliau barang tidur sebentar namun hatinya tergerak ingin mengunjungi Ka’bah. Berdiam diri di sebelah utara bangunan Ka’bah itu rasa kantuk kembali menghampiri, dan putra Abdullah ini pun tertidur lagi. Saat terlelap di tempat yang dinamakan Hijr Ismail tersebut, sayup-sayup Jibril datang dan membangunkannya hingga tiga kali.

Setelah bangun dari tidur, Rasulullah diajak berkelana melintasi malam menggunakan kendaraan bersayap yang dinamakan buraq. Dengan buraq yang melaju kencang bersama malaikat, Nabi Saw terbang melintasi landasan pacu bergerak di atas jalur kafilah yang sangat dikenalinya, menyaksikan gurun pasir yang luas bak hamparan permadani, menoleh cahaya rasi bintang trapesium yang gemerlapan, dan tanpa terasa telah melewati Yatsrib dan Khaybar.

Baca juga:  Antropologi Syariah: Kajian Brinkley Messick terhadap Fikih Zaidiyyah

Saat buraq yang ditumpangi Nabi itu menusuk gelap malam, tampak sayup setangkup wujud diselimuti halimun hingga sampailah di sebuah tempat yang dinamakan dengan Baitul Maqdis, Yerusalem. Di tempat suci itu, Rasulullah bertemu dengan para Nabi terdahulu lalu dengan gagah memimpin para Rasul pilihan Allah itu sembahyang kepada Sang Pemilik Alam Raya ini. Peristiwa ini dikenal dengan Isra’.

Setelah sembahyang Nabi Muhammad Saw diangkat lagi menuju langit ketujuh, melampaui ruang, waktu dan bentuk lahiriah alam semesta. Berkelana meniti langit yang bertingkat-tingkat, lalu hanyut di angkasa bersama malaikat. Dalam tempo singkat kurang dari semalam tetapi Nabi berhasil menembus lapisan-lapisan spiritual-kosmos yang amat jauh bahkan hingga ke puncak di Sidratul Muntaha. Peristiwa ini dikenal dengan Mi’raj.

Walaupun terjadi dalam sekejap, tetapi memori Rasulullah SAW berhasil menyalin pengalaman spiritual yang amat padat di sana. Tidak heran bila ada pendapat yang mengatakan bahwa bukan cuman ruh tapi juga jasad ikut bersamanya. Kalau hanya ruhnya saja, Rasulullah SAW tidak mungkin bisa menjelaskannya dengan begitu detilnya. Sebab berjalan hanya dengan ruh, itu ibarat perjalanan orang yang tengah bermimpi.

Sekembalinya dari langit ketujuh beliau menceritakan perjalanan menakjubkan tersebut kepada sahabat beserta penduduk Mekkah yang lain. Mulai dari perjalanan horizontal dari Baitul Haram menuju Baitul Maqdis, kemudian pengembaraan vertikal dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha. Peristiwa ini menjadi ujian keimanan bagi kaum muslimin sekaligus tantangan bagi Rasulullah untuk meyakinkan kafir Quraisy.

Pada waktu itu, Abu Bakar menjadi orang pertama yang membenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, sementara sebagian besar penduduk Mekkah menganggap Nabi Saw telah berdusta. Menurut Haedar Nashir, peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini merupakan tonggak bagi Nabi untuk terus berjuang membawa risalah Islam, sekalipun sulit dipahami kebanyakan orang. Tidak hanya itu, peristiwa yang maha menakjubkan ini menjadi penanda dimulainya kewajiban melaksanakan salat lima waktu.

Baca juga:  Benarkah Aisyah R.A Mengingkari Mi'raj?

Banyaknya perdebatan apakah Rasulullah terbang sampai ke Sidratul Muntaha sebagai pengalaman fisik atau metafisik, begitu pula intensnya penjelasan rumit teori-teori fisika kuantum untuk merasionalkan pengembaraan transkosmik ini, bagi saya telah menunjukkan bahwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang sarat dengan segudang makna. Beliau sukses menjelaskan lapisan-lapisan langit, membuka cakrawala orang-orang beriman, dan pada akhirnya menjadi halaman-halaman ilmu.

Setelah peristiwa ini, pada 622 Masehi, Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar hijrah dari Mekkah ke Yatsrib. Mendengar kabar Rasulullah akan tinggal di sana, penduduk kota Yatsrib amat sangat bersuka cita. Mereka menyambut Rasulullah dengan luapan kegembiraan yang nyaris mengharukan.

Sejak saat itu, nama kota tempat tinggal mereka diubah, yakni dari Yastrib menjadi Madinah. Di balik perubahan nama itu, terkandung makna yang luas dan mendalam. Dalam tempo 13 tahun setelah hijrah, Nabi Muhammad Saw sukses mengubah silabus cara hidup masyarakat di Jazirah Arab.

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: