Santri Cendekia
optimistik
Home » Menuai Hikmah di Setiap Fragmen Takdir

Menuai Hikmah di Setiap Fragmen Takdir

Manusia dibekali kemampuan memahami bacaan kalimat per kalimat dalam kesatuan paragraf. bukan huruf per huruf atau kata per kata. Pernah kita baca tulisan sekira satu paragraf yang memuat kata-kata yang susunan hurufnya acak kecuali huruf awal dan akhir, akan tetapi kita mampu mencerna makna keseluruhan kata yang membentuk paragraf itu tanpa kesulitan sama sekali. Peribahasa pun serupa itu, kita memaknai sebagai satu keterpaduan frasa atau kalimat yang utuh bukan mengartikannya kata per kata secara letterlijk

Begitu pula kehidupan ini. Kadang kita mengalami fragmen-fragmen kehidupan yang awalnya membersitkan kesedihan, kegundahan, ketakutan dan kegalauan. Amsal, lamaran kerja ditolak, tertimpa sakit, ditinggal kekasih menikah. Saat kita menerima musibah, hati kita menampilkan rupa keruh muram. Itu sangat wajar. Akan tetapi, jika penyikapan kita tepat dan fasih memahami babak-babak kehidupan itu dengan menyeluruh, nukilan-nukilan hikmah banyak kita peroleh.

Tentunya ada beberapa prasyarat agar kita mampu meraup hikmah. selalu melatih sensitivitas hati, yaitu dengan selalu menjaga keterhubungan dengan Allah, agar hati kita berkelaluan bersih. Hati yang bersih dan jernih akan mudah terhiasi sikap pokok dalam menyikapi musibah, yaitu sikap sabar. Selanjutnya, mengilmui tentang Allah, memamahi nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang agung dan mulia. Pengenalan ini akan menguatkan keimanan dan mencegah diri kita dari sikap suudzon. Suudzon adalah lebih mendahulukan prasangka buruk daripada prasangka baik. Sedangkan antara keduanya memiliki peluang yang sama. Namun bagi Allah peluang suudzon haruslah tertutup rapat-rapat karena Allah Maha Penyayang dan Mahabijaksana.

Tidak ada celah berprasangka buruk pada-Nya. suudzon kepada Allah Ta’ala lebih berat jika dibandingkan dengan rasa putus-asa dan pupus harapan walaupun itu semua juga termasuk dosa besar. Dalam perasaan suudzon kita kepada Allah mencakup putus asa dan pupus harapan ditambah di dalamnya ada sikap lancang kepada Allah yaitu berprasangka dengan sesuatu yang tidak pantas dan tidak layak untuk disematkan terhadap kemuliaan dan kemurahan-Nya.

Semoga kita termasuk manusia yang dapat menggali hikmah dari setiap episode-episode kehidupan kita dan menafakkurinya dalam-dalam karena pada hikmah-hikmah itu melazimkan rasa syukur kepada-Nya.

Muhammad Dalton Fisabilillah

Pengasuh KajianChannel
Follow us ~ 📺 Youtube: Kajian Channel II ✅ Twitter: @kajianchannel II 💻 Facebook: Kajian Channel II 📱 LINE :http://line.me/ti/p/%40mbx6172d II 📇telegram: @kajianchannel II 📷instagram: kajianchanne

2 komentar

Tinggalkan komentar