Santri Cendekia
13-th century manuscript, drawn by Al-Wasiti of the celebrated book “The Assemblies”. Written by Hariri, shows a library in Baghdad (source 1001inventions.com)

Rabbani ; Konsep Ilmuwan Ideal dalam Islam

Bagaimana sebenarnya peran kaum terdidik dalam masyarakatnya? Dimana posisi mereka di tengah hiruk-pikuk saling sikut berbagai kepentingan? Diskusi di sekitar isu ini selalu membawa kita berkenalan dengan Ali Syari’ati dengan konsep “Rausyan Fikr”-nya atau Antonio Gramsci dengan “Intelektual organik”-nya. Istilah-istilah itu memang terdengar keren, wajar jika sering disebut-sebut. Namun, di dalam al-Qur’an ada sebutan istilah yang layak dieksplorasi, sebuah istilah yang menjelaskan jawaban al-Qur’an atas pertanyaan-pertanyaan tadi ; al-Rabbaniyun.

Pemaparan al-Qur’an tentang al-Rabbaniyun mengantarkan kita pada petunjuk tentang  karakter seperti apa yang harus diwujudkan dalam diri seorang ‘aalim ,  seorang yang telah berhasil meraih  ilmu, sekaligus cara untuk sampai di puncak pencapaian seorang penuntut ilmu. Petunjuk itu tertera di surah Ali Imran : 79,

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ 

Pada ayat di atas Allah swt mewasiatkan bahwa jika manusia hendak mempelajari al-Kitab, yakni Al Quran, ( تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ) yang darinya tersarikan secara langsung ilmu ilmu agama,  ataupun ketika seseorang hendak belajar apa aja (تَدْرُسُونَ), maka ia  harus menjadi seorang yang Rabbani

Lalu, apa rabbani itu? Atau lebih tepatnya siapa rabbani itu? Tentang kata ini banyak sekali penafsiran. Sebagian ulama berpendapat bahwa kata rabbani merupakan pecahan dari Rububiyah, mereka lalu menghubungkanya dengan bahasan tauhid. Ada pula yang memandang kata rabbani sebagai penasaban ke kata “Rabbun,” jadi manusia rabbani  adalah mereka yang semua tindak tanduknya seseuai dengan titah Allah. Ilustrasinya disebutkan di dalam sebuah hadis yang diadopsi Ahmad Dhani menjadi lagu ; dengan mata-Mu aku melihat, dengan telinga-Mu aku mendengar, dan seterusnya.  Mereka yang berpendapat demikian menghubungkannya ke akhlaq dalam diskursus sufisme.

Baca juga:  Kapankah Datangnya Pertolongan Allah?; Tadabbur Surah An-Nashr

Namun ada pula ahli tafsir yang menerangkan istilah rabbani dalam konteks pendidikan; tentang belajar, pelajar, menuntut ilmu dan hal-hal terkait. Imam at-Thobari di dalam Jamiul Bayan menukil beberapa riwayat yang menyatakan bahwa rabbani adalah para fuqahaa al ulamaa, hukumaa atqiyaa; seseorang yang yang benar-benar faham dan berpengetahuan luas. Imam at-Thabari lalu menyimpulkan “rabbani adalah mereka yang menjadi tiang penegak bagi manusia di dalam perkara fiqih, keilmuan, di dalam perkara dunia maupun agama.” Jadi, para rabbaniyun adalah ulama, intelektual, yang sangat menguasai bidangnya lagi peduli dengan nasib masyarakatnya. Peduli itu terwujud dalam upaya mereka untuk mengarahkan, mendidik (men-tarbiyah) agar masyarakatnya memperoleh kemaslahatan dalam perkara dunia maupun agama (ad-dunya wa ad-din)

Imam at-Tustari, memberikan gambaran tentang makna rabbaniyin dengan menukil ucapan bela sungkawa Muhammad bin Al-Hanafiyah ketika Ibnu Abbas RA meninggal. Ia  berkata, “Hari ini telah meninggal dunia seorang rabbani yang dimiliki ummat ini.”   Ibnu Abbas memang profil arketipe seorang cendekiawan rabbani.  Beliau adalah sahabat yang didoakan langsung oleh Rasulullah agar ia memperoleh kecerdasan cemerlang.  Seorang yang sangat dalam pengetahuan agamanya sehingga ia bergelar hibrul Islam.  Beliau juga banyak meriwayatkan hadist yang merupakan petunujuk  hidup dari Rasulullah saw, menjelaskan tafsiran dari ayat-ayat yang sulit difahami masyarakat awam.  Beliau memanfaatkan kedalaman ilmunya itu untuk meredakan gejolak sosio-politik bukannya justru mengambil untung darinya. Sudah masyhur bagaimana beliau menyadarkan ekstrimis Khawarij lewat serangkaian debat.

Beban ilmuwan rabbani itu berat. Namun perintah dan petunjuk yang ada di dalam Al Qur’an semuanya mungkin terwujud. Tentu saja dengan usaha yang keras dan ulet serta kesediaan menjalani proses bertumbuh yang lama.  Hal ini ditunjukan oleh lafadz  “rabbaniy”  itu sendiri.  Jika ditelisik sampai ke pecahan paling kecil, ia berasal dari kata kerja robaa-yarbuu.  Menurut Imam al-Asfahani kata rabba yang merupakan asal kata tarbiyah berarti membentuk sesuatu secara bertahap. Tarbiyah adalah sebuah proses pengembangan dan bimbingan yang  meliputi jasad, akal, dan jiwa, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan akhir menjadi seorang rabbani.

Dus, menjadi seorang rabbani memang tidak segampang berubah wujud menjadi Power Ranger, tinggal tekan tombol-tombol di alat berubah dan JRENG! jadi. Walopun demikian, tugas intelektual rabbani dan Power Ranger sebenarnya beririsan; sama sama untuk mengabdi buat masyarakat. Jika Power Ranger berjuang keras menumpas bangsa monster yang hendak merebut bumi,  maka rabbaniyun berjibaku di dunia persilatan intelektual dan lapangan pergolakan sosial untuk melindungi masyarakat dari kerusakan tatanan, pembusukan moral, serta penindasan para tiran.

Baca juga:  Peran Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia

 

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: