Santri Cendekia
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA

Kontemplasi (Al-Ahqaf 15 Part 2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kesolehan kepadaku yang dapat mengalir kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”  (AlAhqaf : 15)

 

            Setelah itu, Allah ‘azza wa jalla membimbing kita untuk mengucapkan sebuah doa yang sangat baik dan patut menjadi renungan mendalam. Dimana doa ini berisi 6 poin penting;

  1. Bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla atas nikmat yang diberikan kepada kita.
  2. Bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla atas nikmat yang diberikan kepada orang tua kita.
  3. Berbuat amal soleh yang Allah ‘azza wa jalla ridhoi.
  4. Memohon kesolehan diri agar bisa menjadi kesolehan juga untuk keturunan kita.
  5. Memohon taubat atas segala dosa.
  6. Berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla.

 

  1. Bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla terhadap nikmat yang diberikan kita

          Usia 40 tahun hendaknya menjadi usia yang penuh mawas diri bagi kita. Bukan lagi masa tamak dan terus menerus mengejar dunia tanpa pernah puas dan merasa cukup atas nikmat yang telah banyak sekali Allah limpahkan kepada kita. Bersyukur dan terus menghabiskan diri meresapi kasih sayang Allah yang terus mengisi hidup kita dengan Hati, Lisan, maupun Perbuatan kita. Hati senantiasa mentadabburi setiap nikmat Allah yang mengisi hidup kita. Lisan berdzikir dan memuji-Nya atas berbagai nikmat yang telah mengisi jenjang hidup kita. Perbuatan dengan beramal shalih dan melakukan banyak manfaat bagi sesama, jika tak mampu memberi manfaat, minimal jangan berbuat kerusakan.

  1. Bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla atas nikmat yang diberikan kepada orang tua kita
Baca juga:  [Download] Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19

          Inilah hebatnya Al-Qur’an bertutur. Dalam satu redaksi bisa menyimpan makna yang lebih lebih dari situ. Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku. Secara zahir ayat, kita hanya bersyukur kepada Allah, namun sebenarnya tak secara langsung  ini juga adalah bentuk pengakuan kita atas jasa yang tak terhingga orang tua kita yang bisa mendidik dan memelihar hingga kita berada di jenjang usia 40 tahun. Kita mengakui dengan sangat betapa besar peran dan kontribusi orang tua kita dalam hidup kita selama 40 tahun ini. Sehingga tak lain tak bukan, Allah jua lah yang menguatkan dan memberi karunia kepada kedua orang tua kita hingga mampu merawat kita hingga dewasa.

       Dan hikmah lainnya, seharusnya. Semakin tua umur seseorang, semakin sadar dan paham juga dia akan perjuangan orang tuanya membesarkannya. Mungkin ketika masih belum berumah tangga, kita tak benar-benar paham bagaimana perasaan orang tua kita yag begitu pilu melihat kita sakit. Begitu terluka ketika melihat kita membangkang. Begitu bahagia ketika melihat kita tumbuh dalam kesolehan. Namun setelah menikah, memiliki anak, wajah kita bagai di siram air. Kita terbangun dan begitu memahami betapa beratnya menjadi seorang suami / istri atau menjadi ayah/ ibu.

  1. Berbuat amal soleh yang Allah ‘azza wa jalla ridhoi.

         Efek dari bersyukur itu sendiri seharusnya bertambah pula ketaqwaan kita. Bertambah pula keinginan dan hasrat kita untuk banyak-banyak mendapatkan ridho Allah. Agar di usia yang mulai senja, kita bisa hidup dan mati dengan tenang. Hanya saja, di era materialisme ini, produktivitas dinilai dengan seberapa banyak income yang kita dapat. Hingga tak heran, jangankan umur 40 tahun, yang sudah umur 50 tahun pun masih banyak yang lebih semangat bekerja dan mencari uang. Hanya takut dibilang tak produktif. Subhanallah, Rasulullah pernah bersabda, “Usia umatku berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit sekali di antara mereka yang melebihi usia tersebut.” (HR Ibnu Hibban). Atau di hadist yang lain, “Barangsiapa yang diberikan usia 60 tahun oleh Allah, maka Allah tidak lagi menerima alasan-alasannya.” (Ibnu Abi Hazim).

Baca juga:  Menggagas Fikih Media Sosial

         Anggaplah kita mau pede bahwa umur kita sampai 60 tahun. Allah sudah beri kesempatan kita habis-habisan untuk dunia selama 40 tahun. Berarti Allah memberikan 1/3 dari total usia kita untuk kembali mempersiapkan bekal kematian kita (20 tahun). Sudah tinggal 1/3,masih juga mau dipakai mengejar dunia? Aduhai mungkin sudah booking surga.

  1. Memohon kesolehan diri yang bisa dialirkan dan diteruskan oleh keturunan kita

          Setelah berumur senja, hal yang tak boleh dilupakan adalah memikirkan bagaimana kelak kesolehan dan nilai-nilai mulia yang kita punya bisa kita wariskan kepada keturunan kita. “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim).

         Tak sedikit orang-orang tua yang acuh tak acuh terhadap kesolehan anak-anak dan keturunannya. Yang mereka tahu bahwa tugas mereka selesai dan berhasil selama bisa memberi kebutuhan jasmani anak-anak mereka. Yang mereka tahu, anak-anak mereka sudah berhasil masuk perguruan tinggi negeri ternama, bahkan go internasional. Tanpa sedikitpun ada keinginan untuk mengetahui perkembangan aqidah dan pemikiran sang anak. Masih murni muslim kah aqidahnya? Atau sudah rusak tercampur liberalisme, sekularisme, pluralisme, atheisme, dan isme-isme yang lain. Penulis tak sedikit menemui remaja-remaja yang masuk sekolah atau kampus favorit karena kecerdasan kogntifnya, namun salat 5 waktu saja masih bolong-bolong.

  1. Memohon taubat atas segala dosa

        Seperti Kata Imam Ibnu Katsir, bahwa dengan ayat ini, hendaknya seseorang memperbaharui taubatnya ketika usianya sudah mencapai 40 tahun. Pada usia ini hendaknya kita banyak berkontemplasi, menapak tilasi perjalanan hidup kita. Banyak mengingat mereka yang sering kita zalimi dan sakiti. Banyak mengingat nikmat Allah yang kita balas dengan maksiat kepada-Nya. Banyak mengingat kesempatan yang kita buang percuma dan sia-sia. Banyak mengingat kematian yang selama ini sering kita picingkan mata kepadanya.

  1. Berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla
Baca juga:  Tanda-Tanda Hadits Palsu

        Semakin sering untuk memperbaharui keislaman kita. Semakin tunduk kepada hukum-hukum dan ketetapan Allah. Semakin bertawakkal dan melepaskan hajat-hajat dunia dari hati. Agar kelak ketika ajal menjemput, kita bisa bertemu Allah dengan membawa fitrah keislaman kita. Dan inilah poin yang paling penting yang harus dilakukan oleh mereka yang beranjak tua. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali-Imran 102).

      Jangan sampai makin tua umur ini, makin susah diatur oleh syariat karena merasa sudah pintar dan pengalaman. Malah meninggalkan pemikiran yang tidak-tidak bagi generasi muda. Bukan menuai pahala, malah dosa jariyah yang tak habis hingga akhir jaman.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: