Santri Cendekia

Kontribusi Ilmuwan Muslim di tengah Wabah The Black Death

Pada tahun 1346 wabah yang dikenal dengan Maut Hitam mengamuk di Afrika Utara dan Eropa. Beberapa pengamat menilai bakteri penumpang kutu yang bernama Yersinia Pestis merupakan kuman impor dari Asia Timur. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun mencapai pesisir-pesisir Samudera Atlantik. Tubuh manusia yang terkena serangan kuman tersebut sama artinya dengan membawa satu kargo pasukan virus dalam tubuhnya. Alhasil menerobos lanskap-lanskap perawan yang menyebabkan jutaan nyawa melayang tak berdaya.

Ibnu Khaldun (w. 1406) secara eksistensial merasakan kengerian Maut Hitam saat usianya 18 tahun. Kesedihannya ia curahkan dalam kitab Muqaddimah yang menyebut bahwa wabah tersebut merenggut nyawa kedua orang tuanya dan guru-gurunya. Padahal saat itu dirinya sedang dalam masa yang bergairah menuntut ilmu. Akan tetapi kejadian ini mengilhaminya untuk merumuskan teori tentang kejatuhan dan kebangkitan sebuah peradaban.

Muhammad al-Syaquri (w. 1348) juga mengalami Maut Hitam secara langsung dalam kasusnya di Spanyol. Berbeda dengan sejarawan Afrika Utara, al-Syaquri tidak selamat dari meteor-meteor wabah. Berperan sebagai tabib istana bagi dinasti Nasrid yang berkuasa di Granada saat itu, Maut Hitam menewaskannya pada tahun 1348. Sebelum akhirnya tumbang, al-Syaquri dapat menyusun Risalah singkat tentang wabah. Risalah tersebut terselamatkan yang sekarang dalam bentuk manuskrip dengan judul Nasiha fi al-awbi’a, atau Nasehat tentang Wabah.

Perhatian utama Al-Syaquri dalam Risalah singkatnya adalah untuk menjaga integritas teritorial Granada dalam menghadapi ancaman eksistensial terhadap Islam Iberia. Pada awalnya al-Syaquri menggarisbawahi bahwa perlunya menempatkan kepercayaan seseorang pada metode dan kepercayaan yang rasional terkait wabah. Pada saat itu, pemikirannya dianggap sesuatu yang baru tentang penularan. Akan tetapi, al-Syaquri mendapati dirinya dalam posisi yang sangat sulit untuk mengusulkan cara meminimalkan ekspansi wabah yang sangat mungkin memancing kemarahan para ulama dari Granada.

Baca juga:  Rihlah Ilmiah Syaikh Yusuf al-Makassari dan Dedikasinya Terhadap Islam (1)

Al-Syaquri sangat berhati-hati menulis Risalahnya itu dan sebisa mungkin menghindari konfrontasi langsung dengan pandangan Ulama. Dalam pengantar Risalahnya al-Syaquri menyatakan bahwa pekerjaannya sebagai suar cahaya di sebuah gua kegelapan. Metofor itu ia pilih merujuk pada keadaan mengerikan di Granada pada saat Maut Hitam mengamuk. Namun, ungkapan tersebut juga sebagai kritik terselubung terhadap dogma para ulama yang dalam pandangannya berkontribusi menularkan patogen.

Mengikuti kata pengantar singkat ini, al-Syaquri mengemukakan Risalahnya dalam dua bab: Bab Pertama merincikan metode memulihkan udara dan air kotor ke keadaan yang menyehatkan; Bab Kedua tentang mengembalikan tubuh yang sakit ke kondisi sehat mereka sebelumnya.

Dalam pengamatan al-Syaquri bahwa udara yang segar dan air yang bersih adalah langkah pertama menuju menjaga kesehatan tubuh. Dia juga menunjukkan lokasi tersehat di mana penduduk Granada harus tetap “di rumah aja” selama episode wabah. Dalam catatannya itu, al-Syaquri merekomendasikan bahwa penduduk harus tinggal di dataran rendah, tempat sejuk di siang hari dan pada malam hari di daerah tinggi yang terpapar angin. Selain mencari udara bersih dirinya menekankan agar membersihkan air. Ia juga menyarankan agar menjauhi hewan-hewan ternak maupun liar. Namun sayangnya selama episode Maut Hitam, nampaknya saran dari al-Syaquri ini kurang diindahkan oleh Sultan yang berkuasa di Keemiratan Granada ketika itu.

Pada bab kedua dalam Risalah singkatnya, al-Syaquri menjelaskan cara-cara menjaga tubuh dalam keadaan sehat. Tidak mengherankan, sebagian besar bab kedua ini berkaitan dengan penghitungan makanan yang harus dikonsumsi selama wabah, dan yang harus dihindari. Di antara yang pertama, al-Syaquri merekomendasikan konsumsi buah jeruk dan roti gandum. Dia tidak merekomendasikan mengonsumsi daging selama episode wabah seperti ikan, unggas dan daging merah. Minuman harus dicampur dengan beberapa tetes cuka, dan ia mencatat bahwa minum air dingin yang dicampur dengan cuka adalah cara yang efektif untuk menjaga kesehatan tubuh.

Baca juga:  Surat Cinta untuk Sang Pedang Allah

Mengetahui bahwa al-Syaquri sendiri telah menjadi korban Maut Hitam pada tahun 1348 pada usia 21 tahun, kesimpulan Risalahnya sangat pedih: dia sengaja membuat risalah singkat daripada tulisan-tulisan sebelumnya agar menjadi buku saku yang radius jangkauannya dapat dibaca semua orang. Akan tetapi Sultan ketika itu tidak merespon positif buah karyanya. Pada bagian akhir al-Syaquri menekankan bahwa pentingnya memercayai pandangan para medis sebagai tangan panjang dari Allah swt dalam masalah kesehatan.

Ibnu Khaldun dan al-Syaquri

Ada perbandingan yang harus dibuat antara tanggapan Ibnu Khaldun dan al-Syaquri terhadap Maut Hitam. Ibn Khaldun mengakui bahwa kedatangan bencana wabah memberinya kesempatan untuk menyusun kembali penulisan sejarah dengan cara yang menggambarkan naik turunnya peradaban dengan nuansa yang jauh lebih besar.

Dengan cara yang sama, kedatangan wabah di Granada menciptakan al-Syaquri teori baru tentang penularan penyakit. Mirip dengan ide-ide inovatif Ibnu Khaldun tentang penulisan sejarah, adalah mungkin untuk melihat sekilas di balik teks al-Syaquri yang membahas hilangnya satu pandangan dunia dan munculnya pandangan lain. Orang bisa saja menyimpulkan dari pengalaman kedua tokoh itu bahwa hanya setelah trauma dari besarnya Maut Hitam mereka dapat menenun cara-cara baru memahami pembukaan sejarah dan cara kerja penularan patogen.

Kedatangan Maut Hitam di Afrika Utara dan Spanyol setelah pergolakan Kristen Iberia pada abad ke-12 membawa kehancuran yang lebih besar: mengosongkan tanah-tanah Islam di wilayah Barat. Trauma peristiwa-peristiwa ini terjadi pada lanskap sosial dan politik Afrika Utara dan Spanyol memiliki konsekuensi besar bagi kekayaan Islam di Mediterania barat. Namun, di samping kehancuran yang disebabkan oleh Maut Hitam dan ekspansi Kristen Iberia, harus diingat bahwa mereka juga mengatur panggung untuk pengembangan pemahaman inovatif tentang sejarah dan pernyataan ide-ide baru yang lebih kuat tentang cara kerja pasukan kuman menular ke tubuh manusia.

Baca juga:  Alasan Imam Abu Hanifah Memilih Fikih dan Meninggalkan Ilmu Kalam

Sekiranya Yuval Noah Harari membaca kitab Muqaddimah dan Nasiha fi al-awbi’a mungkin dirinya tak akan lagi membully orang-orang yang hidup pada era Maut Hitam sebagai manusia yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: