Santri Cendekia

Kriteria Penting yang harus Dimiliki Seorang Guru

Guru adalah “profesi” mulia dan memiliki peran penting dalam setiap peradaban. Sebagai penyambung estafet pengetahuan, seorang guru senantiasa dibutuhkan bagi umat manusia. Dalam pandangan Islam, menuntut ilmu adalah wajib. Guru adalah salah satu tokoh kunci dalam menuntut ilmu, maka memuliakan dan menghormati para guru juga hukumnya wajib. Masyarakat yang memuliakan guru akan lebih mudah dalam menerima ilmu. Selain itu dari sisi guru juga perlu membentuk diri agar layak dimuliakan dan dihormati. Mengingat demikian penting perannya, guru juga perlu terus berupaya agar menjadi guru yang ideal untuk diambil ilmunya. Berkenaan dengan hal itu Buya Hamka dalam buku Lembaga Hidup (2017: 283) menuturkan sebagai berikut:

“Dalam menuntut ilmu, cara yang terbaik ialah pada seorang guru yang banyak pengalaman, luas pengetahuan, bijaksana dan pemaaf, tenang dalam memberi pengajaran, tidak lekas bosan lantaran pelajaran itu tidak lekas dimengerti oleh murid.”

Banyak Pengalaman

Salah satu peran guru adalah menjadi inspirasi bagi muridnya. Guru yang diidolakan senantiasa lebih diperhatikan. Selain mengajarkan materi-materi pelajaran secara konseptual, guru dapat menghubungkannya dengan pengalaman kontekstual. Semua itu hanya dapat dilakukan oleh guru yang memiliki banyak pengalaman serta cerdas mengkoneksikannya dengan materi pelajaran. Tentu menjadi membosankan kalau murid sekadar disuguhi banyaknya cerita pribadi sang guru, tanpa ada kaitannya dengan materi. Banyaknya pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman yang dapat menjadi pennyuntik semangat keilmuan. Guru yang minim pengalaman cenderung kaku dalam mengajar. Proses belajar kian monoton dan transfer pengetahuan terasa menggerahkan.

Luas Pengetahuan

Pengetahuan adalah modal dasar yang harus dimiliki seorang guru. Guru menjadi sumber tempat para murid menimba pengetahuan. Proses belajar berarti guru “memberi” ilmu pengetahuan kepada murid. Bagaimana mungkin seseorang memberi sesuatu yang tidak ia miliki? Mustahil. Pengetahuan yang idealnya dimiliki guru tentu bukan yang asal-asalan, melainkan pengetahuan yang luas. Guru memang harus mendalami satu bidang ilmu tertentu. Lebih dari itu guru juga hendaknya mengerti bidang-bidang ilmu lain, sehingga akan terjadi integrasi-interkoneksi keilmuan yang dapat menambah kekayaan intelektual.

Baca juga:  KH. Hasan A. Sahal; "Nyatakanlah Kebenaran, Jangan Hanya Benarkan Kenyataan!"

Sebagai contoh guru mata pelajaran Sejarah secara wajib harus mendalami materi sejarah. Lebih dari itu, guru Sejarah yang mengerti sedikit tentang politik, budaya, pengetahuan alam, hingga ilmu-ilmu agama akan membuat materi pelajaran Sejarah menjadi lebih hidup dan kaya. Betapa indahnya suasana kelas kalau guru mampu menjelaskan keterkaitan materi suatu pelajaran dengan pelajaran lainnya. Demikianlah idealnya seorang guru mempunyai luas pengetahuan. Ini bukan berarti memaksa guru tahu banyak tentang banyak hal. Cukup menguasai materi pelajarannya secara mendalam, lalu tahu sedikit-sedikit tentang pelajaran lain. Begitulah luas pengetahuan.

Bijaksana dan Pemaaf

Guru setiap hari berhadapan dengan murid yang beragam. Mereka datang dari latar belakang yang tidak seragam. Murid memiliki karakter bawaan, tugas guru adalah mengarahkan kepada karakter positif tentunya. Namun dalam perjalanan itu tentu ada saja murid yang misalnya menjengkelkan, berbuat kesalahan, berkata tidak tepat, dan lain-lain. Dalam kondisi inilah guru perlu menjadi sosok yang bijaksana dan pemaaf. Sikap bijaksana akan melahirkan rasa memahami pribadi murid, sehingga guru dapat menangani dengan langkah-langkah yang tepat. Artinya penanganan terhadap kesalahan murid akan sesuai kebutuhan dan tepat sasaran. Sikap bijaksana seorang guru akan membekas dalam jiwa murid, sehingga mereka pun mendapat semacam teladan dalam membiasakan karakter positif.

Guru yang pemaaf begitu penting. Murid yang melanggar aturan atau melakukan kesalahan perlu dibimbing dengan benar. Dalam batas wajar, guru perlu menyiapkan ruang maaf seluas-luasnya bagi murid diiringi nasihat untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun guru pemaaf bukan berarti tidak memberi sanksi dan memaafkan begitu saja setiap pelanggaran. Sekolah misalnya punya tata tertib yang juga mengatur jenis-jenis sanksi sesuai pelanggarannya. Tata tertib itu harus dijalankan secara disiplin. Ada pelanggaran, maka sanksi ditagakkan, tetapi guru berbicara secara personal bahwa ia memaafkan muridnya. Hal ini agar murid sadar bahwa ia mendapat sanksi karena melakukan kesalahan. Kalau murid tidak menyadarai kesalahannya, maka sanksi tidak terlalu berguna dalam merubah sikapnya.

Baca juga:  Teori Koherensi dan Korespondensi serta Penerapannya dalam Ilmu Hadis

Tenang dalam Memberi Pengajaran

Guru yang rajin marah-marah cenderung membuat suasana belajar kian menegangkan. Sikap tegas sangatlah penting agar murid tidak bertindak seenaknya. Akan tetapi ketegasan jangan sampai kelewat batas hingga terkesan rajin marah-marah. Guru perlu proporsional dalam bersikap tegas. Dalam suasana tegang, secara psikologis murid akan merasa tertekan. Dalam kondisi ini mungkin kelas terkesan kondusif, tetapi sesungguhnya murid berada pada keadaan tidak siap untuk belajar. Bagaimana mungkin materi pelajaran mudah ditangkap dalam keadaan tidak siap belajar? Artinya penting bagi guru memperhatikan dampak psikologis terhadap murid.

Guru mestinya punya perspektif tenang dalam mengajar. Artinya ia tidak memaksakan murid harus bisa dan mengerti secara sempurna. Dengan begitu guru akan tetap tenang dan tidak kecewa ketika menghadapi murid yang sulit mencerna pelajaran. Guru perlu tenang dalam memberi pengajaran, tidak tergesa-gesa dan memaksakan kehendak. Namun demikian, sikap tenang bukan berarti terlalu santai. Misalnya guru menjelaskan materi dengan tenang, sementara murid dibiarkan membuat majelis sendiri tanpa ditegur. Begitukah tenang dalam memberi pengajaran? Tentu tidak.

Tidak Lekas Bosan

Bagian ini berkenaan dengan tingkat kecerdasan dan daya nalar murid. Ada murid yang cepat memahami pelajaran, ada yang lambat dan tertatih-tatih. Ada yang menghafal secepat berlari, ada yang perlu merangkak. Ada yang mngerti sekali dijelaskan, ada yang membutuhkan banyak pengulangan. Itulah yang perlu disadari guru, bahwa murid tidak semuanya sudah pintar. Guru tidak boleh bosan mengulang-ulang penjelasan kalau muridnya belum mengerti. Kadang guru merasa kecewa ketika sudah menjaskan materi berulang-ulang, tetapi ternyat masih ada murid yang mendapat telur setelah ulangan. Secara manusiawi muncul rasa bosan mengajari murid tersebut. Jangan, barangkali murid itu punya potensi di bidang lain. Temukan dan kembangkanlah dengan sabar. Ingatlah bahwa semua murid punya kecerdasan di bidangnya masing-masing. Ayo semangat mencerdaskan kehidupan bangsa!

Hendriyan Rayhan

Pengajar di Ma’had Khairul Bariyyah Kota Bekasi

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: