Santri Cendekia
Home » Kritik Terhadap Kolonialisme dalam Serial Avatar: The Last Airbender

Kritik Terhadap Kolonialisme dalam Serial Avatar: The Last Airbender

Kunci utama membangun cerita fantasi yang hebat adalah “world building” yang baik. Ketika world building tersebut telah kokoh, cerita lebih mudah mengalir. Ide-ide kreatif dengan inspirasi sana sini otomatis bermunculan. Ada banyak cerita yang berhasil menyempurnakan world building sedemikian rupa sehingga menjadikan kisah tersebut begitu ikonik. Hal-hal seperti Lord of the Rings, Star Wars, dan One Piece muncul di benak kita ketika berbicara dunia fiksi yang telah teruji oleh waktu.

Kartun (Anime?) Avatar: The Last Airbender juga memiliki dunia fantasi yang sedap. Tidak serumit One Piece memang, tapi tetap enak dinikmati sebagai sebuah diskursus. Di dunia Avatar, ada empat bentuk pemerintahan yang masing-masing memiliki sistem unik: Negara Api (Fire Nation), Kerajaan Tanah (Earth Kingdom), Suku Air (Water Tribe), dan Pengembara Udara (Air Nomads). Dahulu keempat negara hidup dengan damai. Namun semuanya berubah saat Negara Api menyerang.

Saat kecil saya nonton Avatar Aang hanya ingin melihat scene aksi berbalas jurus memukul musuh. Namun seiring bertambahnya masalah dalam hiduo, cerita Avatar tidak sesederhana itu. Di dalamnya terdapat materi pelajaran kelam yang terinspirasi dari dunia nyata dengan cara yang mudah dicerna oleh anak-anak. Selama tiga musim tayang, Avatar bertindak sebagai studi kasus tentang dampak perang dan bagaimana upaya ekspansionis suatu negara yang agresif dapat menghancurkan kehidupan dalam skala gigantik.

Saat Negara Api Menyerang

Di antara keempat negara, hanya Negara Api yang menganut sistem “nation-state”—meskipun masih monarki dalam menentukan pemimpin. Kerajaan Tanah memiliki dinasti-dinasti kecil yang memiliki kepentingan berbeda-beda, membuat mereka tidak lagi solid. Suku Air terbagi dalam dua wilayah besar yaitu Selatan dan Utara, namun mereka tidak memiliki hubungan politik dan kerjasama ekonomi sama sekali. Pengembara Udara adalah klan yang damai, menjalani gaya hidup monastik dan sangat pasifis, sehingga sangat mudah digoyahkan lawan.

Baca juga:  Mengenal Pendekatan Kontekstualisme ala Abdullah Saeed (1)

Era Raja Api Sozin merupakan momen penting dalam sejarah modernisasi Negara Api. Seluruh penduduk Negera Api bersatu padu dalam satu payung negara-bangsa. Hal inilah yang menjadikan shuʿūbīyah di antara mereka begitu kuat dan erat. Kohesi sosial mereka diikat oleh doktrin senasib-sepenanggungan dan rasa hormat terhadap Negara Api. “Negara Api harga mati,” sederhananya begitu.

Faktor di atas membuat Negara Api unggul di antara ketiga kompetitor lainnya. Setelah kondisi sosial-politik-ekonomi stabil, kemajuan di bidang sains-teknologi akan mengikuti. Hasilnya, Negara Api menjadi satu-satunya negara yang berhasil mengalami industrialisasi pesat berkat kemampuannya dalam memanfaatkan energi api. Namun, karena negaranya berpaham kolonialisme-fasisme, output industrinya murni untuk kebutuhan militer seperti steamboat, tank, dan lain-lain.

Dalam salah satu adegan, Raja Api Sozin, yang memulai perang satu abad sebelum peristiwa serial tersebut, memuji kekayaan dan inovasi Negara Api kepada Avatar Roku. Sozin berkata: “Negara kita sedang mengalami masa damai dan kekayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rakyat kita bahagia, dan kita sangat beruntung dalam banyak hal… Kita harus berbagi kemakmuran ini dengan seluruh dunia. Di tangan kita adalah kerajaan yang paling sukses di dunia dalam sejarah. Sudah waktunya kita memperluasnya.”

Meskipun Raja Api Sozin menyampaikan niat baik untuk “berbagi kemakmuran”, niat tersebut segera mengambil arah yang tidak terduga. Setelah beberapa waktu, Negara Api mulai meluaskan pengaruhnya ke wilayah-wilayah tetangga dengan menggunakan kekuatan militer dan kebijakan kolonialisme. Mereka membangun basis militer, mendirikan pemerintahan boneka, dan mengambil alih sumber daya alam secara agresif.

Kritik Kolonialisme

Paolo Vera berasumsi bahwa masing-masing dari empat negara dalam serial Avatar didasarkan pada budaya Asia: Pengembara Udara didasarkan pada biksu Buddha Tibet; Suku Air terinspirasi oleh suku Inuit Arktik; Kerajaan Tanah didasarkan pada monarki federal Tiongkok; dan Negara Api mengambil banyak inspirasi dari Kekaisaran Jepang. Seperti negara-negara di dunia nyata, Negara Udara, Air, dan Tanah semuanya tunduk pada penaklukan kolonial.

Baca juga:  Umat Islam Kurang Mempelajari Buddhisme: Wawancara dengan Profesor Imtiyaz Yusuf

Demikian pula, Negara Api, seperti Kekaisaran Jepang, bertindak sebagai agresor dan menyerang negara-negara tetangga yang lebih rentan. Dengan menggunakan persamaan dunia nyata ini, para penulis dengan jelas mengkritik kolonialisme, karena sejarah Kekaisaran Jepang penuh dengan kekejaman dan pertumpahan darah yang tak terhitung jumlahnya.

Menurut Julia Shiota, alur utama serial Avatar ini dibangun berdasarkan perpaduan aspek-aspek yang dapat diidentifikasi dari era Meiji dan Taishō dalam sejarah Jepang. Era Meiji (1868-1912) merupakan momen penting dalam modernisasi Jepang. Era ini ditandai dengan perubahan sosial dan politik berskala besar dan dorongan menuju industrialisasi. Serial Avatar mencerminkan momen dalam sejarah ini, karena tampaknya Negara Api juga mengalami industrialisasi pesat serupa. Berbeda dengan negara lain yang diserangnya, Negara Api menggunakan mesin industri untuk infrastruktur dan persenjataan.

Namun, inspirasi paling jelas bagi Negara Api datang dari era setelah Meiji. Era Taishō (1912-1926) ditandai dengan meningkatnya militerisasi, bersamaan dengan invasi dan kolonisasi Kekaisaran Jepang ke negara-negara Asia lainnya yang berujung pada peristiwa Perang Dunia II, yang jatuh di bawah Era Shōwa (1926-1989). Dari sulih suara di adegan pembukaan Avatar, kita mengetahui bahwa Negara Api memulai perang 100 tahun yang lalu dan sejak itu terus menyerang negara-negara lain, menghancurkan dan menaklukkan mereka dalam upaya untuk mengendalikan seluruh dunia.

Alasan Raja Api Sozin menyerang negara-negara lainnya, kata Julia Shiota, juga mengingatkan kita pada alasan di balik invasi Kekaisaran Jepang ke daratan Asia; negara ini juga menggunakan imperialismenya dalam istilah kemakmuran dan pembagian kekayaan, dan menjulukinya sebagai Lingkup Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya (the Greater East Asian Co-Prosperity Sphere).

Dengan memanfaatkan sejarah Kekaisaran Jepang, para penulis Avatar mengecam pembenaran yang paling umum digunakan untuk kolonialisme: bahwa kolonialisme membantu mengekspor kemakmuran negara kaya ke negara miskin. Namun, motivasi yang tampaknya altruistik ini hanyalah sebuah tipu daya. Kekaisaran Jepang memanfaatkan tenaga kerja dan sumber daya untuk memajukan perekonomiannya sendiri dan mempertahankan status dominannya di wilayah jajahannya.

Baca juga:  Kepada Para Aktivis Muslim

Hal serupa juga terlihat di Avatar. Sepanjang pertunjukan, kita melihat bahwa Negara Api jauh lebih maju secara teknologi dibandingkan tiga negara lainnya. Mereka mempunyai senjata dan mesin serta mengembangkan industri berat, sementara negara-negara lain sebagian besar masih bersifat agraris. Namun demikian, Negara Api masih menggunakan tenaga kerja dan sumber daya dari negara lain untuk mendorong pertumbuhannya sendiri, sehingga memperlebar kesenjangan antara negara tersebut dan negara lain.

Pada akhirnya, Negara Api dalam dunia Avatar bertindak sebagai pengganti kekuatan imperialis mana pun dalam sejarah. Dengan membingkai mereka sebagai tokoh antagonis utama dalam serial ini, para penulis Avatar secara terang-terangan mengkritik kolonialisme dalam segala bentuknya. Melalui sudut pandang Aang dan tokoh protagonis lainnya, penonton dapat menyaksikan secara emosional dampak buruk yang ditimbulkan oleh kolonialisme, dan bagaimana mereka yang terkena dampak secara signifikan menderita akibat kekerasan dan trauma yang mendarah daging.

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar