Santri Cendekia

Kritik Wael B Hallaq terhadap Fondasi Orientalisme (Bagian III)

Bagian II: Kritik Wael Hallaq terhadap Pandangan Edward Said tentang Orientalisme

Menurut Hallaq, kelemahan paling fundamental dari Said adalah ia melihat orientalisme sebagai penyebab dari misrepresentasi Islam oleh dunia Barat. Hallaq berbeda pandangan. Menurutnya orientalisme bukanlah penyebab, melainkan hanya gejala dari kekacauan epistemologis pengetahuan modern Barat yang lebih luas. Kritik Said terhadap orientalisme dengan demikian bersifat “semu”, “tidak mendasar”, “terlalu superfisial”, “tidak memiliki ketebalan dan kedalaman analisis”, serta “tidak melihat permasalahan dari pondasi filsafatnya”. Problem intinya menurut Hallaq tidak terletak pada orientalisme itu sendiri, tetapi pada modernity dan filsafat Pencerahan (the Enlightenment) yang melahirkan orientalisme.

Menurut Hallaq, ketika Said hanya mengutuk orientalisme, ia sebenarnya gagal melihat bahwa permasalahan mispresentasi Islam bermuara pada ideologi liberalisme, humanisme sekuler, antroposentrisme, sistem negara bangsa, dan filsafat progress (kemajuan) yang lahir sebagai anak kandung modernitas. Dengan hanya mengkambinghitamkan orientalisme, Said membiarkan dimensi yang lebih luas ini dan paling menentukan tidak tersentuh oleh kritiknya.

Hallaq membuat sebuah analogi terkait hal ini. Orientalisme menurutnya seperti puncak gunung es. Yang terlihat dipermukaan hanya bagian kecil, sementara yang berada di bawah laut jauh lebih besar. Said, kata Hallaq, hanya melihat puncak gunung es tersebut dan menyebutnya segala-galanya. Ia tidak mau mencari tahu apa yang berada di bawah permukaan laut.

Penyebab dari kegagalan Said dalam melihat problem fundamental dari orientalisme ini menurut Hallaq adalah kenyataan bahwa dirinya sendiri adalah seorang sarjana liberal dan sekuler. Ia dengan kata lain adalah bagian dari rezim kebenaran (regime of truth) ideologi Barat itu sendiri. Said, kata Hallaq, tidak pernah menunjukkan ketidaknyamanannya terhadap liberalisme dan sekulerisme. Ia juga tidak pernah membawa nilai dan tradisi agama ke dalam disiplin ilmu yang ia geluti.

Terkait Islam, Said tidak menguasai satupun bidang keilmuan klasik substantif seperti tasawuf, kalam, fiqih-usul fikih, dan lain-lain. Said juga tidak menyentuh dimensi sains, ilmu sosial dan humanities yang dilahirkan oleh ideologi sekuler Barat modern. Bagi Hallaq, tidak banyak yang bisa diharapkan dari kritik seorang sarjana dengan identitas seperti ini kepada orientalisme.

Hallaq selanjutnya menunjukkan sisi destruktif dari modernitas Barat yang tidak digambarkan oleh Said. Ia menyebut bagaimana sains Barat, yang didukung oleh sistem industralisasi dan ditopang oleh filsafat progress, telah menyebabkan problem kerusakan lingkungan selama dua abad terakhir. Penemuan alat-alat industri dan teknologi serta anggapan bahwa mereka bersifat netral (paham instrumentalisme) telah memperburuk keadaan yang diciptakan oleh modernitas. Menurut Hallaq, adalah suatu absurditas tersendiri menganggap bahwa suatu instrumen bersifat netral. Ada epistemologi atau sistem nilai tertentu di balik alat-alat canggih yang diciptakan oleh manusia.

Dalam bidang ekonomi, ia menyebut problem konsumerisme dan eksploitasi manusia untuk kepentingan ekonomi segelintir elit. Ia juga menyinggung problem korporasi yang ia sebut sebagai bagian dari entitas kolonial dan menyebabkan lahirnya patologi sosial. Uniknya, kata Hallaq, dunia akademia atau perguruan tinggi, justru menjadi supporting system bagi problem ini. Fakultas ekonomi dan bisnis misalnya tidak mengajarkan mahasiswa untuk mengatasi kesenjangan sosial atau sekedar mata kuliah filsafat etika, tetapi justru mengajarkan cara meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Tidak hanya itu. Hallaq berpandangan bahwa ideologi liberalisme, sekulerisme dan antroposentrisme Barat telah menyebabkan apa yang ia istilahkan sebagai genosida struktural (structural genocide). Genosida dalam pengertian konvensional umumnya dipahami sebagai pembunuhan masal. Tetapi menurut Hallaq makna genosida bisa lebih luas dari itu. Ia bisa mencakup rekayasa (perubahan) total lanskap kultural masyarakat terjajah oleh negara penjajah. Genosida struktural bisa berwujud perubahan orientasi dan sistem nilai, pergeseran sistem hukum, sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem politik masyarakat terjajah dari coraknya yang tradisional menjadi berkiblat ke arah sistem negara penjajah.

Orientalisme Introspektif

Dengan segala peran negatif yang pernah dimainkan oleh disiplin ini dalam sejarah, orientalisme bukan berarti tidak berguna sama sekali. Menurut Hallaq, orientalisme jika didudukkan dengan benar, justru akan menjadi tradisi penyelidikan intelektual (tradition of intellectual inquiry) yang membawa kebaikan, baik bagi sarjana Barat sebagai subjek, atau dunia Timur yang menjadi obyek.

Berbeda dengan Said yang skeptis terhadap orientalisme, Hallaq masih menaruh asa terhadap bidang ini. Menurutnya orientalisme sebagai bidang keilmuan yang telah established di ranah kajian teks memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh bidang yang lain. Antropologi misalnya, memiliki banyak perangkat konseptual, teoretis, dan metodologis untuk memahami kebudayaan masyarakat pada ranah lokal. Tapi bidang ini tidak membekali peneliti kemampuan untuk membaca dan menganalisis teks. Padahal kajian tentang dunia Timur, terlebih khusus lagi Islam, tidak akan bisa dipisahkan dari kajian teks (Talal Asad menyebutnya sebagai tradisi diskursif).

Oleh karena itu, sebagai alternatif dari kritik total Said terhadap orientalisme, Hallaq mengusulkan untuk memulihkan disiplin ini. Ia menyebut orientalisme yang sudah dibersihkan dari potensi imperialisme sebagai orientalisme introspektif. Orientalisme diarahkan sebagai tradisi penyelidikan intelektual terhadap dunia Timur dengan maksud untuk mempelajari nilai-nilai tradisionalnya untuk kemudian mengevaluasi perkembangan kebudayaan Barat modern.

Dengan kata lain, orientalisme introspketif bagi peneliti Barat berperan sebagai instrumen untuk mengevaluasi dan membangun diri sendiri (ethical-self construction) atau berfungsi sebagai upaya untuk memberadabkan diri sendiri (a technology for ethicizing the self). Dengan demikian, posisi obyek dalam orientalisme gaya baru ini berubah menjadi subyek. Dunia Timur berhenti dijadikan obyek dan lokus rekayasa ulang sebagaimana selama ini terjadi. Tetapi bertransformasi menjadi repertoar pemikiran (the repertoire of thought) yang mengarahkan proses pembentukan ulang jati diri orientalis yang baru (a new orientalist self).

Menurut Hallaq, ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam rangka membentuk ulang orientalisme. Pertama, para pengkaji Barat perlu mengkritik metafisika Barat hari ini atau dengan kata lain mengkritik nilai-nilai-modernitas. Kata Hallaq, struktur pemikiran yang mendasari modernitas Barat harus dipikirkan ulang secara keseluruhannya. Termasuk ke dalam hal ini, orientalisme juga perlu menata ulang hubungannya dengan dunia selain manusia (alam dan binatang). Selama ini paradigma Barat terlalu berpusat pada manusia (antroposentris) sehingga mengakibatkan rusaknya lingkungan. Bahkan jika perlu, kata Hallaq, kategori distingtif manusia dan nonmanusia yang selama ini digunakan perlu ditinggalkan.

Kedua, hal tersebut dibarengi dengan upaya untuk memahami secara mendalam kultur Timur/Islam khususnya pada periode pra modern yang masih bersifat organik. Kultur ini direformulasikan dan diposisikan sebagai sumber untuk mencari alternatif dari paradigma Barat modern hari ini.

Dengan dua langkah ini, orientalisme akan layak mendapatkan tempat di dunia akademia dan akan diapresiasi oleh dunia Timur. Tanpa dua langkah ini, orientalisme selamanya tidak akan bisa melepaskan diri dosa masa lalunya sebagai instrumen akademik yang menghambakan diri pada kolonialisme.

Bagian I: Pandangan Edward Said tentang Orientalisme

Bagian II: Kritik Wael Hallaq terhadap Pandangan Edward Said tentang Orientalisme

Muhamad Rofiq Muzakkir

Pengurus PCIM Amerika Serikat

Add comment

Tinggalkan komentar