Santri Cendekia
Home » Kurikulum Gaib (Al-Baqarah : 3)

Kurikulum Gaib (Al-Baqarah : 3)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang Gaib, Mendirikan Salat, dan Menginfakan sebagian dari apa-apa yang kami rizqikan (Al-Baqarah : 3).

 

Ayat ini adalah penjelasan tentang klasifikasi orang yang bertaqwa yang disebutkan oleh akhir ayat Al-Baqarah : 2. Ternyata ciri khas yang paling pertama dan paling utama dari orang-orang yang bertaqwa adalah beriman kepada yang gaib. Mengapa seperti itu? Menurut Dr. Ali Moenim, Lawan kata dari taqwa adalah fujur. Fujur sendiri memiliki akar kata yang sama dengan Infijar yang artinya adalah “memancar (keluar) dengan deras”. Sehingga sifat fujur itu sendiri adalah sebuah sifat yang membuat pelakunya keluar dari batas-batas yang ditentukan oleh syariat dengan cepat (mudah melakukan hal-hal yang dilanggar syariat). Oleh karena itu, taqwa yang menjadi lawan kata fujur adalah sikap dimana kita betul-betul berusaha menjauh agar berada di posisi seaman mungkin dari batas-batas yang ditentukan oleh syariat. Sikap taqwa ini, sulit untuk dimiliki jika daya visualisasi kita terhadap hal-hal yang ghoib seperti Allah, Malaikat, surga, neraka, hari pembalasan itu begitu lemah. Misalnya, orang yang begitu beriman kepada hari pembalasan, pasti akan lebih takut untuk melakukan korupsi dibanding orang yang tidak beriman kepada hari pembalasan. Karena pada hari pembalasan, tidak akan ada jenis kejahatan dan kezaliman apapun yang lolos dari perhitungan, sekalipun selama di dunia pelakunya berhasil menyembunyikan kejahatan dan kezalimannya itu dari semua orang. Orang yang mengimani tentang adanya rumah dan perhiasan di surga, pasti lebih mudah untuk menghindari sifat bakhil daripada orang yang tidak mengimaninya. Orang yang tidak beriman dengan pahala, pasti akan lebih berpotensi hidup sebagai orang yang materialistis dibandingkan dengan orang yang beriman dengan pahala. Itulah mengapa, yang jadi fokus utama bagi seseorang yang ingin menuju ketaqwaan, adalah wajib banyak-banyak mengasah keimanannya terhadap hal-hal yang ghoib.

Baca juga:  Perubahan Fikih dan Usul Fikih dalam Kajian Sosial Humaniora (1)

 

Dan satu hikmah lagi yang wajib kita petik, beriman itu adalah pintu masuk untuk menuju ketaqwaan. Tidak ada ceritanya seseorang menjadi muttaqin padahal dia tidak beriman. Begitupun sebaliknya, ketaqwaan adalah sebuah sifat yang wajib kita upayakan setelah kita beriman. Ibarat beriman adalah memasuki sebuah pintu yang berada di antara surga dan neraka, maka ketaqwaan adalah sikap yang membuat kita senantiasa untuk membawa diri sejauh mungkin dari pintu perbatasan tersebut.

 

Itulah mengapa selama 13 tahun Rasulullah berdakwah di makkah, ayat-ayat yang kebanyakan turun adalah ayat-ayat yang banyak bercerita tentang sesuatu yang gaib. Sesuatu yang gaib di sini misalnya, ayat-ayat tentang surga, neraka, hari pembalasan, pahala, kisah orang-orang dan para Nabi terdahulu. “Kurikulum gaib” ini memiliki fungsi untuk membangun pondasi-pondasi aqidah yang kuat dalam diri kaum muslimin. Itulah mengapa fase makkah memiliki waktu yang lebih lama dari fase madinah. Meski kita tahu, pencapaian-pencapaian dan perluasan dakwah muslimin lebih pesat ketika ada di fase madinah. Jangan heran ketika para alumni “kurikulum gaib” menjadi generasi terbaik yang memiliki daya taqwa yang luar biasa. Hal ini tergambar dalam beberapa contah peristiwa. Ketika perintah pengharaman khamr dan kewajiban untuk berhijab turun, Tidak butuh waktu lama untuk mengimplementasikannya. Ketika perintah khamr turun, madinah banjir khamr, semua konsumen khamr dengan cepat meninggalkan khamr saat itu juga. Ketika perintah hijab turun, para wanita segera mengambil kain terdekat yang bisa mereka gunakan untuk menutup rambut mereka, entah itu hingga harus merobek kain-kain yang ada di sekitar mereka. MasyaAllah! Begitu mudahnya kita jika memiliki masyarakat seperti ini, masyarakat yang dididik dengan “kurikulum Gaib”

 

Baca juga:  Masuk Islam karena Benci Zionis Israel, Emang Boleh?

 

Allahu a’lam bishshawab

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar